Syukuri 3 Hal ini ketika bertemu kembali dengan bulan Ramadhan


Mari Bersyukur di Bulan Ramadhan

Oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فيا عبادالله أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ 
وقال الله تعالى في كتبه الكريم يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْن

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Salah satu hikmah yang dapat kita petik ketika kita telah berada di dalam Bulan Ramadhan ialah kita mampu menjadi orang yang bersyukur. Mengapa kita perlu bersyukur kepada Allah Swt atas semua nikmat-nikmat yang kita peroleh selama ini? Karena hanya dengan cara bersyukurlah nikmat itu bisa bertambah dan menjauhkan diri kita dari azab Allah yang amat sangat pedih. Lalu setelah kita sampai di bulan Ramadhan ini, hal apa yang perlu kita syukuri?

1. Bersyukur atas nikmat umur yang telah diberikan Allah

Mari coba kita ingat-ingat, sudah berapa banyak orang-orang yang sudah mendahului kita sebelum masuknya belum Ramadhan, namun Alhamdulillah Allah masih memberikan umur yang panjang bagi kita sehingga kita saat ini sudah berada di dalam bulan Ramadhan dan Allah telah mengabulkan doa kita tahun lalu, yaitu kita berdoa agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Hari ini setelah kita bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, maka janganlah kita sia-siakan nikmat kesempatan yang telah diberikan oleh Allah ini kepada kita. Jika tetap kita sia-siakan kesempatan ini, maka tergolonglah kita kepada orang-orang yang merugi, seperti yang digambarkan di dalam Surat Al-Ashr 1-3

والعصر، ان الانسان لفي خسر، الا الذين آمنوا وعملوا الصلحت وتوا صوب الحق وتوا صوب الصبر

"Demi masa, sesungguhnya manusia manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran"

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, siapa itu? Itulah orang-orang yang Allah berikan kesempatan namun dia abaikan kesempatan tersebut, padahal jika dia manfaatkan waktu itu untuk menjadi orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh serta mau saling nasihat-menasihati dalam hal kebaikan dan kesabaran tentulah dia akan menjadi orang-orang yang beruntung.
Lebih parahnya lagi ialah jika ada orang yang telah bertemu dengan bulan Ramadhan, kemudian bulan Ramadhan itu berlalu namun dosa-dosanya belum diampuni padahal bulan Ramadhan itu bulan ampunan, maka kata Rasulullah inilah orang yang celaka, sebagaimana yang dikatakan di dalam hadits

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad)

2. Bersyukur atas nikmat kesehatan

Ada orang yang bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, akan tetapi dia bertemu dengan Bulan Ramadhan dalam kondisi sakit, sehingga menyebabkan dirinya tidak bisa berpuasa dan mengerjakan berbagai rangkaian ibadah di bulan Ramadhan. Maka sudah sepatutnyalah kita bersyukur kepada Allah kita bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat sehingga kita bisa berpuasa dan mengerjakan berbagai rangkaian ibadah di bulan Ramadhan. 
Nabi Muhammad Saw pernah bersabda

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Ketauhilah, kesehatan yang prima dan waktu yang luang sering menipu manusia. Di saat kesehatan itu masih prima kita sering melalaikan ibadah, namun ketika kesehatan telah berlalu baru kita menyesal dan berharap bisa kembali sehat sedia kala sehingga bisa beribadah kepada Allah, begitu juga dengan waktu, kita sering terlalaikan oleh waktu yang panjang, namun ketika waktu itu telah berlalu kita pun menyesal mengapa ketika waktu itu ada kita tidak mampu untuk memanfaatkannya. 
Maka dari itu, bagi kita yang masih diberikan Allah nikmat waktu dan kesehatan, maka bersyukurlah kepada Allah dengan cara memanfaatkannya untuk taat beribadah kepada Allah terlebih lagi saat ini kita telah berada di bulan Ramadhan.

3. Bersyukur atas nikmat iman

Syukur yang ketiga ialah bersyukur atas nikmat iman yang diberikan Allah kepada kita. Perintah puasa wajib terdapat di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 183

يايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"

Mari kita perhatikan ayat di atas, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa dan kita menyahuti panggilan tersebut karena di dalam dada kita ada rasa keimanan dan inilah nikmat terbesar. Adapun jika ada orang-orang yang tidak merasa bahwa Allah memanggil dirinya, maka ini adalah musibah yang besar bagi dirinya, karena dia tidak ada merasakan lagi keimanan di dalam dirinya. Maka orang-orang yang seperti ini sudah seharusnya kembali mendekatkan dirinya kepada ketaatan kepada Allah dan terus memperbarui imannya dengan memperbanyak ucapan "Laailaha illalloh". Dengan cara seperti ini Insya Allah dia akan merasakan kembali hadirnya keimanan di dalam dirinya.

بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني واياكم بما فيه من لايت والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هوا الغفور الرحيم

Jangan lupa mari berbagi kebaikan dengan men-share tulisan ini

Mengapa Allah Hanya Memanggil Orang-orang yang Beriman Untuk Menjalankan Ibadah Puasa?

Dalil Perintah Puasa di Bulan Ramadhan 

Perintah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan terdapat di dalam AlQur'an Surat Al-Baqoroh ayat 183 

يايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" 

Perhatikan pada ayat tersebut, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman saja, lalu pertanyaannya mengapa Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman saja? 

Mari temukan jawabannya dalam link video yang terdapat di bawah 👇

Semoga bermanfaat!! 

Allah Hanya Memanggil Orang-orang yang Beriman Untuk Menjalankan Ibadah Puasa

3 Keistimewaan yang Diturunkan Allah di Dalam Bulan Sya'ban


Keistimewaan yang Diturunkan Allah di Dalam Bulan Sya'ban

Oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I

Di dalam Kitab Al-Fadhoil dijelaskan bahwa Sya'ban itu berasal dari kata "Tasya'ub" yang berarti bercabang-cabang. Pengertian ini sesuai dengan banyaknya cabang-cabang kebaikan dan keistimewaan yang terdapat di dalam bulan Sya'ban. Sehingga di dalam hadits dikatakan, "Keutamaan bulan Sya'ban itu dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya adalah seperti keutamaanku dibandingkan dengan Nabi-Nabi yang lain". Adapun cabang-cabang kebaikan yang bisa diamalkan oleh umat Islam di dalam Bulan Sya'ban ialah berpuasa sunnah khususnya puasa Nisyfu Sya'ban, mengisi malam Nisyfu Sya'ban dan memperbanyak sholat sunnah.

Selain banyaknya cabang-cabang kebaikan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban, maka Allah juga menurunkan keistimewaan di dalam Bulan Sya'ban. Jika bulan Rojab menjadi istimewa karena di dalamnya terdapat peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw dan Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena di dalamnya diturunkan AlQur'an, maka setidaknya ada tiga hal yang membuat bulan Sya'ban menjadi istimewa, diantaranya ialah :

1. Berpindahnya Kiblat Umat Islam dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah

Setelah Nabi Muhammad kembali dari perjalanan Isra' dan Mi'raj dan membawa perintah sholat, maka semenjak itu hingga selama 17 bulan umat Islam sholat dengan kiblat yang mengarah ke Baitul Maqdis. Maka selama 17 Bulan itu juga Nabi Muhammad berharap kepada Allah dengan cara selalu menghadapkan wajahnya ke langit agar kiblat umat Islam dapat beralih ke Ka'bah. Nabi berharap demikian karena orang-orang Yahudi mengolok-olok umat Islam dengan mengatakan, "Mereka mengatakan Islam itu berbeda dengan Yahudi, akan tetapi kiblat mereka mengikuti agama Yahudi". 
Akhirnya, setelah berharap selama 17 bulan, Allah pun menjawab harapan Nabi Muhammad, kiblat umat Islam pun beralih dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah. Peristiwa ini telah diabadikan di dalam AlQur'an Surat Al-Baqoroh ayat 144

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ

"Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam".

Dikabulkan Allah doa Nabi Muhammad agar kiblat umat Islam kembali ke Ka'bah setelah 17 bulan lamanya seakan mengajarkan kita untuk tidak pernah bosan berdoa kepada Allah. Lihatlah, sekelas Nabi Muhammad Saw dikabulkan doanya setelah 17 bulan lamanya, lalu siapa kita yang sedang berdoa langsung ingin dikabulkan.

Maka di bulan Sya'ban ini mari kita perbanyak doa kepada Allah, setidaknya ada tiga doa yang kita panjatkan terutama setelah membaca Surat Yasin tiga kali. Doa pertama diberikan umut yang panjang dan selalu dalam ketaatan, doa kedua, diberikan keluasan rezeki dan dijauhkan dari segala macam mara bahaya dan doa ketiga ialah meminta kepada Allah agar kelak kita bisa mati dalam keadaan Husnul Khotimah.

2. Turunnya awal perintah Sholawat
Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya".

Ayat di atas adalah ayat akan perintah bagi orang-orang yang beriman untuk selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Mayoritas ulama, khususnya para ahli tafsir sepakat bahwa turunnya ayat ini adalah pada bulan Sya'ban.

Dalam ayat itu tersebut terdapat tiga sholawat, yaitu sholawat dari Allah kepada Nabi Muhammad, sholawat dari para Malaikat kepada Nabi Muhammad dan sholawat orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Sholawatnya Allah kepada Nabi Muhammad merupakan pujian yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, sedangkan sholawatnya para Malaikat kepada Nabi Muhammad Saw merupakan doa kepada Allah agar melimpahkan anugerahnya kepada Nabi Muhammad Saw. Adapun sholawatnya orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw berarti berharap agar Allah selalu mencurahkan Rahmat dan ampunan-Nya kepada kita.
Karena turunnya perintah Sholawat ini di bulan Sya'ban, maka dianjurkanlah bagi umat Islam untuk memperbanyak melantunkan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw pada bulan Sya'ban ini. Ketauhilah, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda

"Barangsiapa yang bersholawat satu kali kepadaku, maka Allah akan bersholawat 10 kali kepadanya".

3. Diturunkannya kewajiban berpuasa di Bulan Ramadhan

Imam An-Nawawi dalam Majmu' Syarah Al-Muhadzadzab mengatakan bahwa Nabi Muhammad menjalankan ibadah puasa selama hidupnya sebanyak 9 kali dan di mulai dari tahun ke - 2 Hijrah setelah perintah kewajiban berpuasa diturunkan pada bulan Sya'ban. Hikmah perintah puasa ini diturunkan di Bulan Sya'ban ialah agar umat Islam bersegera mempersiapkan dirinya di Bulan Sya'ban sehingga ketika masuk ke dalam bulan suci Ramadhan umat Islam telah siap untuk menjalankan setiap rangkaian ibadah di Bulan Ramadhan dengan maksimal, khususnya ibadah puasa.
Aisyah ra. pernah berkata bahwa, "Aku tidak pernah melihat beliau lebih sering berpuasa daripada bulan Sya'ban" (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa Nabi Muhammad Saw demikian? Sesungguhnya karena Nabi Muhammad ingin mengajarkan kita untuk berlatih berpuasa di bulan Sya'ban, sehingga ketika bulan Ramadhan tiba, kita mampu berpuasa dengan maksimal, tanpa merasa berat sedikit pun. Maka sudah selayaknya jugalah kita sebagai umat Nabi Muhammad memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban, sehingga kita sudah terbiasa nanti ketika menjalankan ibadah wajib di bulan Ramadhan.

والله اعلم بالصواب

Keluarga, Harta, dan Amal


Keluarga, harta dan Amal Ibadah

Oleh : M. Syukri Hsb, S.Sos.I

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Nabi Muhammad Saw bersabda

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketauhilah, ketika nanti kita meninggalkan dunia dan diantarkan ke tempat pemakaman maka ada tiga yang akan mengantarkan kita yaitu

✅ keluarga

✅ harta

✅ amal ibadah

Lalu setelah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka dari tiga yang telah mengantarkan kita akan ada dua yang akan meninggalkan kita

❎ Keluarga

❎ Harta

satu yang setia menemani kita

✅ Amal Ibadah

Sahabat Muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Keluarga akan menjadi berarti buat kita setelah berada di alam barzakh jika semasa kita hidup di dunia kita mampu mendidik mereka menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah, namun sebaliknya jika kita tidak mampu membuat mereka untuk bertaqwa kepada Allah maka ini bisa menjadi sebab bertambahnya siksa yang kita dapat di dalam kubur.

Harta yang kita tinggalkan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita jika ahli waris mau menginfaqkan sebagian harta yang telah ditinggalkan atas nama kita, namun jika mereka tidak teringat untuk menginfaqkan sebagian dari harta itu atas nama kita maka harta itu akan menjadi sia-sia belaka kita.

Amal ibadah yang menemani kita bisa menjadi penolong bagi kita dari kejamnya siksa kubur jika kita mau menunaikannya semasa kita hidup dunia, namun jika tidak, maka amal ibadah kita bisa menjadi sebab semakin dahsyatnya siksa kubur yang akan kita alami.

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Oleh sebab itu, mumpung kita masih hidup di dunia, mari kita didik keluarga kita menjadi keluarga yang bertaqwa kepada Allah

Mumpung kita masih hidup di dunia mari kita jadikan harta yang kita miliki di dunia ini menjadi harta yang bermanfaat. Ketauhilah harta yang sesungguhnya yang kita miliki bukanlah harta yang miliki di dunia ini akan tetapi harta yang sesungguhnya ialah harta yang disedekahkan dan kita infaqkan di jalan Allah

Mumpung masih hidup di dunia ini mari kita tunaikan kewajiban kita kepada Allah, jangan sampai kita lalai dari kenikmatan dunia yang sifatnya hanya sementara.

والله اعلم بالصواب

11 Desember 2021 M / 06 Jumadil Awwal 1443 H

Tiga Cara Mengisi Hari Kemerdekaan

Tiga Cara Mengisi Hari Kemerdekaan

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Menjadi bangsa yang merdeka merupakan harapan setiap bangsa, terutama bagi bangsa-bangsa yang saat ini masih berada dalam penjajahan. Alhamdulillah, saat ini bangsa Indonesia sudah menjadi negara yang merdeka, sudah 76 tahun negara Indonesia terbebas dari segala bentuk penjajahan dari negara lain. Kemerdekaan Indonesia bukan diperoleh dari hasi pemberian negara lain, akan tetapi kemerdekaan Indonesia diperoleh dari sebuah perjuangan, yang bukan hanya mengorbankan harta namun juga mengorbankan jiwa.
Saat ini, sudah 76 tahun usia kemerdekaan negara Indonesia, walaupun pada kenyataannya masih banyak yang merasa terjajah di negeri sendiri, karena ulah para penguasa di negeri ini yang tidak pernah berpihak kepada rakyat dan ditambah lagi oleh pelaku korupsi yang seenak hatinya memakan uang rakyat. Meskipun demikian kita harus tetap bersyukur kepada Allah Swt atas kemerdekaan yang telah kita peroleh, sehingga kita tidak lagi mendengar suara dentuman bom dan tembakan senjata akibat peperangan.
Maka dari itu, bagi kita yang telah meraih kemerdekaan ini sudah seharusnya mengisi kemerdekaan ini dengan sesuatu yang dapat menjadikan negara ini besar dan menjadikan negara ini tetap bersatu hingga hari akhir nanti. Adapun cara untuk mengisi kemerdekaan ini diantaranya ialah dengan :

Selengkapnya silahkan lihat melalui link di bawah 👇

Khutbah Jum'at, 11 Muharram 1443 H / 20 Agustus 2021 M