Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan

Tiga Bentuk Pengagungan Allah Kepada Nabi Muhammad Saw

 





Tiga Bentuk Pengagungan Allah Kepada Nabi Muhammad Saw

Oleh : Syukri Al Hasby

Nabi Muhammad Saw dilahirkan ke dunia ini adalah sebagai hadiah yang mahal dan sangat berharga yang dianugerahkan oleh Allah Swt kepada umat manusia. Lahirnya Nabi Muhammad Saw ke dunia ini menjadi hadiah yang mahal dan sangat berharga, karena kedudukan Nabi Muhammad yang tinggi disisi Allah Swt dan lahirnya Nabi Muhammad akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah di dalam Suroh Al-Anbiya’ ayat 107

وما ارسلنك الا رحمة للعلمين

“dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Tingginya kedudukan Nabi Muhammad di sisi Allah Swt, menyebabkan bentuk ketaatan kita kepada Nabi Muhammad merupakan bentuk ketaatan kita juga kepada Allah Swt dan syarat untuk mendapatkan keridhoan dari Allah ialah harus mau mengikuti Nabi Muhammad saw. Sebagaimana firman Allah di dalam Suroh An-Nisa ayat 80

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa siapa saja yang mentaati Nabi Muhammad maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Sebaliknya, siapa saja yang mendurhakai Nabi Muhammad, maka dia telah mendurhakai Allah. Bagi orang-orang yang telah mendurhakai atau berpaling dari Nabi Muhammad, sesungguhnya mereka adalah orang yang merugi dan Nabi Muhammad tidak akan bertanggung jawab atas perbuatannya tersebut, karena kewajiban Nabi Muhammad hanyalah menyampaikan risalah Islam, engkau mau beriman atau tidak, maka itu kembali kepada diri setiap orang masing-masing.

Karena tingginya kedudukan Nabi Muhammad Saw di sisi Allah Swt, maka ada beberapa bentuk pengagungan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw, diantaranya ialah:

Pertama, Allah Panggil Nabi Muhammad dengan Sifatnya

Ketauhilah bahwasanya Allah tidak pernah menyebut nama beliau dengan hanya menyebut nama beliau, akan tetapi Allah selalu menyebut nama beliau dengan disandingkan dengan sifat atau gelarnya. Jika Allah saja ketika memanggil nama beliau tidak langsung menyebutkan namanya, akan tetapi selalu disandingkan dengan sifat atau gelar beliau sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad, maka sudah seharusnya juga kita lebih menghormati beliau, yaitu tidak menyebut nama beliau tanpa pengagungan kepada beliau. Larangan menyebut langsung nama Nabi Muhammad tanpa pengagungan kepada beliau telah disampaikan Allah di dalam Suroh An-Nur ayat 63

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)”.

Adapun jika tetap ada juga yang tidak menghormati beliau dengan menyebut nama beliau tanpa pengagungan kepadanya maka Allah telah memberi peringatan kepada mereka. Sebagaimana firman Allah di dalam Suroh Al-Hijr ayat 72

"Demi umurmu (Muhammad), Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)".

Bahkan kita dianjurkan bukan hanya ketika menyebut nama beliau saja kita mengagungkan beliau, akan tetapi juga ketika mendengar nama beliau. Orang yang mendengar nama Nabi Muhammad Saw lalu dia tidak bersholawat, maka dia adalah orang yang celaka, sebagaimana sabda Rasulullah Saw

“Sungguh celaka, orang yang disebut namaku disisinya, lantas dia tidak bersholawat kepadaku” (HR. Tirmidzi)

Di dalam hadits yang lain dikatakan orang yang pelit

“Orang yang pelit adalah orang yang ketika disebut namaku disisinya, lalu dia tida bersholawat untukku” (HR. Tirmidzi)

Kedua, Allah dan Para Malaikat Bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw

Pengagungan berikutnya yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw adalah Allah dan para Malaikat bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini telah jelaskan di dalam Suroh Al-Ahzab ayat 56

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

Melalui ayat ini dapatlah diketahui bahwasanya yang bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw ada tiga, yaitu :

1.  Allah

Sesungguhnya Allah pun bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, akan tetapi sholawatnya Allah kepada Nabi Muhammad bukan dimaknai bahwa sholawatnya Allah kepada Nabi Muhammad berarti Rahmat dan keridhoan Allah kepada Nabi Muhammad Saw.

2.  Malaikat

Selain Allah, para malaikat juga bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Adapun sholawatnya para malaikat kepada Nabi Muhammad Saw berarti doa atau permohonan kepada Allah agar Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan pengagungan-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. 

3.  Umat Nabi Muhammad

Umat Nabi Muhammad Saw juga diperintahkan Allah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Makna sholawat dari para Malaikat kepada Nabi Muhammad Saw berbeda dengan sholawat Umatnya kepada dirinya. Selain permohonan agar Allah selalu mencurahkan rahmat dan pengagungan Allah kepada Nabi Muhammad, juga sebagai sarana bagi umatnya untuk mendapatkan pahala dan anugerah dari Allah yang berlimpah ruah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Ketiga, Allah Menjadikan Nabi Muhammad Menjadi Nabi yang Paling Mulia

Pengagungan lainnya yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw ialah Allah menjadikan Nabi Muhammad menjadi nabi yang paling mulia dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain. Hal ini telah dikatakan Allah di dalam AlQur’an Suroh Al-Baqoroh ayat 253

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain"

Diantara kemuliaan Nabi Muhammad dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain adalah sebagai berikut:

1. Nabi Muhammad adalah pembawa bendera Al-Hamdi dan Nabi Adam as ada di barisan belakangku

2. Nabi Muhammad adalah pemberi syafa’at dan yang pertama kali menerima syafa’at

3. Nabi Muhammad adalah orang yang pertama kali membuka pintu surga dan masuk ke dalam surga

4. Nabi Muhammad adalah orang yang paling mulia dibandingkan dengan orang-orang terdahulu dan yang akan datang.

5. Nabi Adam as pernah memohon ampun kepada Allah dengan bertawassul atas nama Nabi Muhammad Saw

6. Nabi Musa as pernah berdoa kepada Allah Swt agar Nabi Musa as bisa menjadi umat Nabi Muhammad Saw. Ada beberapa hal yang menyebabkan Nabi Musa as ingin menjad umat Nabi Muhammad, yaitu:

 Umat terbaik

 Umat yang terakhir diciptakan akan tetapi nanti yang akan pertama kali masuk ke dalam surga

 umat yang ketika hendak melakukan

kebaikan, tapi tidak melakukanya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan, dan jika ia melakukanya maka Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus

kebaikan.

 umat yang diberikan syafaat dan bisa memberikan syafaat karena mereka

 umat yang sedekahnya di makan sendiri oleh mereka, dan mereka

mendapatkan pahala dengan itu

 umat yang bacaan mereka meresap di dalam dada mereka, dan mereka

membacanya

والله اعلم باالصواب

Keistimewaan Bulan Sya'ban


Keistimewaan Bulan Sya'ban

Alhamdulillah, hari ini kita telah berada di bulan yang berada antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, yaitu bulan Sya'ban. Itu artinya tidak lama lagi umat muslim di dunia akan bertemu dengan bulan yang penuh ampunan dan keberkahan yaitu bulan Ramadhan. Namun untuk bisa sampai kepada bulan Ramadhan maka umat Islam harus terlebih dahulu melalui bulan Sya'ban.

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Nama dari Bulan Sya'ban itu berasal dari Bahasa Arab yaitu "Tasya'ub" yang artinya cabang. Dikatakan cabang karena memang di bulan Sya'ban banyak cabang-cabang amal ibadah yang dapat dilakukan oleh Umat Muslim untuk mengambil keutamaan dari Bulan Sya'ban. Nabi Muhammad mengatakan, "Keutamaan bulan Sya'ban dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya ibarat keutamaan diriku dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain".
Nabi Muhammad Saw mengatakan hal seperti ini tentu karena memang di dalam Bulan Sya'ban itu terdapat keutamaan yang harus kita raih dan jangan biarkan bulan Sya'ban itu berlalu begitu saja.

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Namun sayangnya, kehadiran Bulan Sya'ban ditengah-tengah umat muslim sering dilupakan, sebagaimana yang dikatakan sabda Rasulullah Saw
شعبان بين رجب و شهر رمضان، يغفل الناس عنه
"Bulan Sya'ban antara Bulan Rajab dan Bulan Ramadhan, banyak manusia yang melupakannya"

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Bulan Rajab itu diingat umat muslim karena di dalamnya ada peristiwa besar yaitu peristiwa Isra' Mi'raj Rasulullah Saw, begitu juga bulan Ramadhan selalu dinanti-nanti karena siapa yang sampai ke dalam bulan Ramadhan dapat merengkuh ampunan dan keberkahan yang ditawarkan di dalam bulan tersebut. Lalu mengapa Sya'ban banyak yang melupakan? Karena kebanyakan manusia beranggapan bahwa tidak ada keistimewaan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban. Manusia yang beranggapan seperti itu, maka dia salah besar, karena sesungguhnya di dalam Bulan Sya'ban itu terdapat keistimewaan-keistimewaan yang tidak diketahui oleh manusia. Adapun keistimewaan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban diantaranya ialah:

Pertama, turunnya perintah bersholawat

Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56

ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bersholawat kepada nabi, hai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu kepada nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Para ulama mengatakan bahwa ayat ini turun pada bulan Sya'ban. Di dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Allah dan para Malaikat saja bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, maka sudah seharusnya juga orang-orang yang beriman untuk senantiasa untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw pada hakikatnya akan mendatangkan kebaikan dan keuntungan bagi, terutama di akhirat kelak, yaitu bisa menjadi salah satu sebab memperoleh syafa'at dari Nabi Muhammad Saw.

Dengan turunnya ayat ini pada bulan Sya'ban, itu berarti mengindikasikan kepada kita bahwa sangatlah dianjurkan bagi kita untuk lebih memperbanyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Kedua, perintah puasa turun pada Bulan Sya'ban. 

Imam Nawawi di dalam Kitab Syarah Al Muhadzdzab mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw menjalankan ibadah puasa Ramadhan itu sebanyak sembilan kali selama hidup beliau dan di mulai pada tahun kedua hijriah, setelah perintah puasa itu turun pada bulan Sya'ban. 

Karena perintah puasa pada bulan Ramadhan itu turun pada bulan Sya'ban, maka ini menunjukkan keistimewaan Bulan Sya'ban dan seharusnya menjadi ajang bagi umat Islam untuk melatih diri dan menjalankan kebiasaan yang ada di bulan Ramadhan untuk dikerjakan di Bulan Sya'ban terutama ibadah puasa sehingga ketika bulan Ramadhan kita sudah tidak kewalahan dan maksimal menjalankan segala rutinitas ibadah yang terdapat di bulan Ramadhan. 

Ketiga, pada bulan Sya'ban beralihnya Kiblat Umat Islam dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah di Masjidil Haram

Peristiwa beralihnya kiblat Umat Muslim dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah yang berada Masjidil Haram telah difirmankan Allah di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 144

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ فَلَـنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰٮهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam". 

Di dalam Kitab Al-Jami' li Ahkamil Qur'an karya Imam Qurtubi dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad Saw mengalihkan kiblatnya dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah di Masjidil Haram itu terjadi pada malam Selasa di Bulan Sya'ban  Nisyfu Sya'ban tepatnya pada malam Nisyfu Sya'ban. 

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt 

Itulah ketiga keistimewaan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban yang perlu kita ketahui, sehingga ketika bulan ini datang kita bisa cukup antusias untuk mengambil keistimewaan yang terdapat di dalamnya yaitu dengan meningkatkan amal ibadah kita, terutama kegiatan ibadah yang dapat menunjang kesuksesan kita dalam meraih keutamaan yang terdapat di bulan setelah bulan Sya'ban yaitu bulan Ramadhan. 

بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني واياكم بما فيه من لايت والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هوا الغفور الرحيم

Dunia Itu Hanya Tiga Hari


Dunia itu Hanya Tiga Hari
Jama'ah Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt
Di masa tabi'in ada seorang ulama besar dan cendekiawan muslim yang bernama Hasan Al Bashri, beliau banyak untaian kata-kata hikmah dan nasihat yang disampaikannya yang selalu mampu menyentuh hati kaum muslimin.
Adapun salah satu untaian kata-kata hikmah dan juga menjadi nasihat bagi kaum muslimin ialah beliau mengatakan bahwa dunia itu hanya terdiri dari tiga hari.
Pertama, hari kemarin dan ia telah pergi bersama dengan yang menyertainya dan takkan terulang lagi
Hari kemarin adalah hari yang telah kita lalui detik demi detiknya dan detik demi detik yang sudah kita lalui bisa jadi berisi dengan peristiwa yang membahagiakan dan bisa juga berisi dengan peristiwa kebahagiaan, yang mana peristiwa itu tidak akan bisa terulang lagi.
Namun sebagai orang yang beriman ada satu hal yang harus menjadi catatan baginya. Walaupun waktu yang telah dilalui itu tidak akan bisa terulang kembali, akan tetapi kita harus mampu bermuhasabah diri atas setiap waktu yang telah berlalu dari kehidupan kita. Jika berbicara mengenai muhasabah diri maka ingatlah perkataan Umar bin Khattab ra
حاسبوا انفسكم قبل ان تحاسبوا
"Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab" 
Adapun makna yang terkandung di dalam perkataan Umar bin Khattab tersebut ialah hendaklah kita mengevaluasi diri kita di tahun-tahun yang telah kita lalui, apakah kita sudah maksimal menjalankan ibadah kepada Allah swt atau kita lebih banyak melalaikannya, atau bahkan kita mengabaikan segala perintah-perintahnya. 
Jika kita mau menghitung-hitung amal ibadah kita di masa yang lalu, maka di tahun-tahun berikutnya kita bisa memperbaiki setiap amal ibadah kita sehingga amal ibadah kita menjadi lebih baik dari tahun-tahun yang telah kita lalui. 
Jama'ah Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt 
Kedua, hari ini dan itulah yang kita miliki
Dunia yang kedua adalah hari ini dan hari ini merupakan hari yang tidak boleh berlalu begitu saja tanpa mendatangkan manfaat bagi diri kita untuk kepentingan di hari berikutnya. Bukankah Allah telah berfirman di dalam Surat Al-Ashr ayat 1-3
وَالْعَصْرِۙ
 اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ
 اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran”. 
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa manusia itu akan senantiasa dalam kerugian jika tidak menetapi hati dalam keimanan, tidak mau melakukan amal sholeh, dan tidak mau nasihat menasihati dalam kebaikan dan kebenaran. 
Tentu kita tidak mau tergolong kepada orang-orang yang merugi, maka dari itu hendaknyalah kita beramal di hari ini, dan jangan biarkan hari ini berlalu tanpa amalan-amalan yang bisa menghantarkan kepada keridhoan Allah swt. Ingat, kebaikan yang kita peroleh di hari yang akan datang itu adalah kebaikan yang kita tanam di hari ini. 
Jama'ah Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt 
Ketiga, hari esok yang mungkin kita tidak akan pernah menemuinya. 
Dunia itu hanya tiga hari dan hari kita itu adalah hari esok yang mungkin kita tidak akan menemuinya, karena bisa jadi hari ini kita telah tiada sehingga hari esok hanya tinggal khayalan belaka. 
Karena kita tidak tahu apakah hari esok itu kita masih hidup atau tidak, maka hendaknyalah setiap orang mempersiapkan bekalnya, dan sebaik-baik bekal adalah senantiasa bertaqwa kepada Allah swt, sebagaimana firman Allah di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 
 وَتَزَوَّدُوْا فَاِ نَّ خَيْرَ الزَّا دِ التَّقْوٰى  
"Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa". 
Dunia ini merupakan sebuah persinggahan menuju kepada kehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Maka sebelum kita melakukan perjalanan menuju kepada kehidupan akhirat, maka persiapkanlah sebaik-baik bekal yaitu bekal ketaqwaan kepada Allah swt. 
Selanjutnya senantiasalah kita memohon ampun kepada Allah atas setiap dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat, jangan sampai kita menyesal setelah kita tiada. Karena penyesalan setelah kita tiada itu tiada artinya. Alangkah baiknya jika kita menyesal selagi hayat masih dikandung badan, karena kita masih bisa memohon ampun kepada Allah, namun jika kita menyesal setelah nafas terakhir berhembus, maka penyesalan itu tiada lagi gunanya. 
Adapun bentuk penyesalan selagi kita masih hidup ialah bertaubat dengan taubatan nasuha. Adapun taubatn nasuha harus memenuhi tiga syarat sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi di dalam kitab Riyadush Sholihin, yaitu  harus berhenti berbuat dosa atau maksiat, menyesali perbuatan dosa atau perbuatan maksiat yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa atau maksiat yang pernah dilakukan selama-lamanya. 

Jangan biarkan Sya'ban berlalu dan Siapkanlah Ramadhan


Nabi Muhammad Saw bersabda 
شعبان بين رجب و شهر رمضان، يغفل الناس عنه
"Sya'ban merupakan bulan diantara Rojab dan Bulan Ramadhan, bulan yang banyak dilupakan manusia" 

Sudah seharusnya setiap muslim mengetahui bahwasanya di dalam bulan Sya'ban ini banyak keutamaan yang harus diraih. Keutamaan yang terdapat pada Bulan Sya'ban ini dibuktikan dengan ada peristiwa besar yang diturunkan Allah swt pada bulan Sya'ban ini. Peristiwa tersebut ialah:

Pertama, pada bulan Sya'ban Allah menurunkan ayat mengenai perintah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang tercantum di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56
ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما 
"Sesungguhnya Allah, para Malaikat-Nya bersholawat kepada nabi, hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". 

Para ahli tafsir sepakat bahwasanya ayat ini turun pada bulan Sya'ban. Sholawat berasal dari kata sholat yang berarti doa. Di dalam ayat itu ada 3 sholawat, yaitu sholawat yang disampaikan Allah, sholawat yang disampaikan para Malaikat Allah dan perintah sholawat disampaikan oleh umat Nabi Muhammad Saw. 

Ibnu Katsir didalam tafsirnya mengatakan, Allah bersholawat berarti Allah sedang memuji Nabi, Malaikat bersholawat karena berdoa, sedangkan manusia bersholawat ialah untuk meraih keberkahan dari Nabi Muhammad Saw. 

Karena perintah sholawat itu turunnya di bulan Sya'ban maka sudah seharusnya di bulan Sya'ban ini seorang muslim memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad Saw sehingga bisa memperoleh keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Kedua, Bulan Sya'ban merupakan saat diturunkannya perintah kewajiban berpuasa bagi umat Islam di bulan Ramadhan. Imam Nawawi di dalam Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab menjelaskan bahwa Rasulullah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama 9 tahun selama hidupnya, di mulai dari tahun kedua hijriah setelah kewajiban berpuasa turun pada bulan Sya'ban. 
Turunnya perintah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan pada bulan Sya'ban, yang mana bulan Ramadhan adalah bulan yang sungguh sangat mulia dan penuh keistimewaan, hal ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwasanya bulan Sya'ban memiliki kemuliaan yang seharusnya tidak dilupakan. Kemudian dengan diturunkannya perintah puasa wajib pada bulan Ramadhan di bulan Sya'ban, maka ambillah keutamaannya dengan memperbanyak berpuasa di bulan Sya'ban, selain agar amal ibadah kita diangkat ketika dalam keadaan berpuasa, juga sebagai latihan berpuasa sehingga ketika bulan Ramadhan tiba, kita sudah siap untuk berpuasa. 

Ketiga, Bulan Sya'ban juga menjadi sejarah dimulainya Ka'bah menjadi kiblat umat Islam yang sebelumnya Masjidil Aqsho, hal ini diterangkan di dalam Suroh Al-Baqoroh ayat 144 Allah Swt berfirman :

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ فَلَـنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰٮهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ ۗ 

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam". 

Di dalam kitab Tafsir Al Jami' li Ahkamil Qur'an karangan Imam Al Qurtubi mengatakan bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw kiblat dari Masjidil Aqsho ke Masjidil Harom pada malam selasa Bulan Sya'ban tepatnya malam Nisyfu Sya'ban. 

Ka'bah adalah simbol ketauhidan, maka manfaatkanlah moment bulan Sya'ban untuk memantapkan ketauhidan kita dengan semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt, sehingga kita mampu menjadi muslim yang sejati. 

Sembari kita mengambil keutamaan diujung-ujung bulan Sya'ban, maka jangan lupa juga untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, setidaknya ada lima persiapan yang harus kita perhatikan, yaitu:

Pertama, Bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat, Allah Swt berfirman
يايها الذين آمنوا توبوا الى الله توبة نصوها
"Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubatan nasuha"

Memasuki bulan suci seharusnya kita pun harus berada dalam keadaan yang suci. Sebagaimana piring yang kotor, sebelum dimasukkan rak piring tentulah harus dicuci yang hingga bersih barulah dimasukkan ke rak piring, begitu jugalah dengan diri kita, haruslah kita sucikan diri kita sebelum memasuki bulan yang suci.

Kedua, Jalin lagi silaturrahim dengan kaum kerabat
Jika hubungan dengan Allah sudab kita perbaiki, maka jangan lupa juga untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, selain menambah umur yang panjang, menjalin kembali silaturrahim juga dapat menambah rezeki. Janganlah kita memasuki bulan Ramadhan ini dalam keadaan tidak bertegur sapa, terutama kepada kedua orangtua kita.

Ketiga, persiapkan bekal ilmu mengenai dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan
Sebagaimana kendaraan atau barang-barang elektronik lainnya yang memiliki panduan menjalankannya, maka begitu jugalah dalam menjalankan ibadah Ramadhan ini, hendaklah kita mengetahui apa-apa saja yang perlu kita ketahui seputar ibadah-ibadah di bulan Ramadhan ini, terutama mengenai ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Keempat, Siapkan diri agar senantiasa bersama AlQur'an
Sudah sama-sama kita ketahui bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya AlQur'an, maka sudah seharusnya di bulan ini AlQur'an harus bersama kita, AlQur'an harus menjadi sahabat kita, yang sudah dalam kategori baik membaca AlQur'an ayo khatamkan AlQur'an, bagi yang masih pas-pasan dalam membaca AlQur'an, kuatkan hati agar bisa membaca AlQur'an sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid AlQur'an.

Kelima, siapkan keuangan yang lebih untuk bersedekah
Mari lebihkan uang, lebihkan masakan, lebih kebutuhan sehari-hari kita, tapi bukan untuk kepentingan pribadi kita ataupun keluarga kita, namun dilebihkan segala-galanya untuk berbagi, untuk bersedekah, baik itu kepada anak yatim, fakir miskin dan kaum dhuafa.

3 Peristiwa Mulia di Bulan Sya'ban


Alhamdulillah hari ini kita telah berada di bulan Sya'ban tepatnya hari ni kita berada di Tanggal 08 Sya'ban 1441 H, itu artinya tidak lama lagi kita akan memasuki bulan yang penuh dengan maghfiroh, yaitu bulan Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita sehingga kita bisa bertemu kembali di Bulan Ramadhan tahun ini.

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt
Menurut bahasa, sya'ban berasal dari kata syi'ab yang berarti jalan menuju puncak. Makna ini sesuai dengan posisi bulan Sya'ban yaitu sebelum bulan Ramadhan. Karena posisi bulan Sya'ban itu berada sebelum Bulan Ramadhan, maka Bulan Sya'ban bagi seorang muslim ada momen yang cocok untuk meraih puncak keistimewaan, momen yang cocok untuk mempersiapkan diri menyambut bulan yang paling mulia, yaitu bulan Ramadhan bulan yang penuh dengan ampunan.

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt
Di dalam buku yang berjudul "Hari-hari pilihan" terjemahan dari kitab "Fadhoil Al-Auqot" karangan Imam Baihaqi mengatakan bahwasanya Rasulullah Saw bersabda
"Bulan Sya'ban adalah bulan yang berada diantara bulan Rojab dan bulan Ramadhan, Orang-orang banyak yang melupakannya".

Jika di Bulan Rojab ada sebuah peristiwa besar yaitu Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw yang selalu diingat manusia, di Bulan Ramadhan lebih hebat lagi, karena di bulan ini banyak keistimewaan didalamnya, namun tidak demikian dengan bulan Sya'ban, Orang-orang melupakan bulan ini bukan karena bulan ini tidak memiliki keistimewaan, tapi kebanyakan orang-orang tidak mau tahu dengan keistimewaan yang terkandung di dalam bulan Sya'ban. Salah satu keistimewaan di bulan Sya'ban ialah diangkatnya amal-amalan hambanya Allah. Kemudian kita kenal ada yang namanya puasa Nisyfu Sya'ban, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw :
يطلع الله تبارك وتعلى الى خلقه في ليلة النصف من شعبان فيغفر لخميع خلقه الا لمشرك او مشاحن
"Allah Ta'ala memperlihatkan diri kepada Makhluk-Nya pada malam nisyfu sya'ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya, kecuali orang musyrik dan orang bengis". 

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt
Bisa jadi banyak orang-orang yang melupakan salah satu bulan yang mulia ini yaitu bulan Sya'ban. Namun ketahuilah sesungguhnya ada tiga peristiwa mulia yang diturunkan Allah pada bulan Sya'ban

Pertama, pada bulan Sya'ban Allah menurunkan ayat mengenai perintah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang tercantum di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56
ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما 
"Sesungguhnya Allah, para Malaikat-Nya bersholawat kepada nabi, hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". 

Para ahli tafsir sepakat bahwasanya ayat ini turun pada bulan Sya'ban. Sholawat berasal dari kata sholat yang berarti doa. Di dalam ayat itu ada 3 sholawat, yaitu sholawat yang disampaikan Allah, sholawat yang disampaikan para Malaikat Allah dan perintah sholawat disampaikan oleh umat Nabi Muhammad Saw. 

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt 
Ibnu Katsir didalam tafsirnya mengatakan, Allah bersholawat berarti Allah sedang memuji Nabi, Malaikat bersholawat karena berdoa, sedangkan manusia bersholawat ialah untuk meraih keberkahan dari Nabi Muhammad Saw. 

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt 
Karena perintah sholawat itu turunnya di bulan Sya'ban maka sudah seharusnya di bulan Sya'ban ini seorang muslim memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad Saw sehingga bisa memperoleh keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Kedua, Bulan Sya'ban merupakan saat diturunkannya perintah kewajiban berpuasa bagi umat Islam di bulan Ramadhan. Imam Nawawi di dalam Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab menjelaskan bahwa Rasulullah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama 9 tahun selama hidupnya, di mulai dari tahun kedua hijriah setelah kewajiban berpuasa turun pada bulan Sya'ban. 
Turunnya perintah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan pada bulan Sya'ban, yang mana bulan Ramadhan adalah bulan yang sungguh sangat mulia dan penuh keistimewaan, hal ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwasanya bulan Sya'ban juga memiliki kemuliaan yang seharusnya tidak dilupakan. 

Perintah kewajiban berpuasa di bulan Sya'ban juga seakan memberitahukan kepada kita untuk memperbanyak ibadah puasa sebagai persiapan diri untuk berpuasa di bulan Ramadhan yang merupakan sebuah kewajiban. 

Ketiga, Bulan Sya'ban juga menjadi sejarah dimulainya Ka'bah menjadi kiblat umat Islam yang sebelumnya Masjidil Aqsho, hal ini diterangkan di dalam Suroh Al-Baqoroh ayat 144 Allah Swt berfirman :

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ فَلَـنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰٮهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ ۗ 

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam". 

Di dalam kitab Tafsir Al Jami' li Ahkamil Qur'an karangan Imam Al Qurtubi mengatakan bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw kiblat dari Masjidil Aqsho ke Masjidil Harom pada malam selasa Bulan Sya'ban tepatnya malam Nisyfu Sya'ban. 

Karena Ka'bah ada simbol ketauhidan umat Islam, maka sudah seharusnya di bulan Sya'ban ini setiap umat muslim meningkatkan keimanannya dengan ketauhidan yang mantap. Menjadi muslim yang sejati, menjadi muslim yang kaffah. 

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt 
Itulah tiga peristiwa mulia yang terjadi pada bulan Sya'ban, dengan adanya peristiwa-peristiwa mulia itu, maka sudah seharusnya kita sebagai umat Islam mengambil keberkahan dari kemuliaan bulan Sya'ban, jangan kita biarkan bulan Sya'ban berlalu tanpa memperbanyak ibadah terutama puasa, khususnya puasa Nisyfu Sya'ban.

والله اعلم باالصواب

Materi Khutbah di Masjid Mumfiqin Sipori-pori, 08 Sya'ban 1441/03 April 2020

Memetik Pelajaran dari datangnya Virus Corona


Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt
Saat ini Allah sedang menunjukkan kebesaranNya kepada seluruh umat manusia yang ada di dunia, Allah menunjukkan kebesaranNya hanya melalui makhluk yang ukurannya sangat kecil, hanya berukuran 150 Nanometer, namun walaupun berukuran sangat kecil dan tidak bisa dilihat dengan mata kepala tapi bisa menggemparkan dunia dan menyelimuti rasa takut bagi setiap manusia.

Melalui makhluk Allah yang berukuran kecil ini yang kita kenal dengan virus corona, sudah seharusnya bagi orang-orang yang beriman menjadi bahan tafakkur atau berdzikir kepada Allah. Banyaknya korban yang berjatuhan akibat virus corona ini seharusnya membuat kita dapat memetik banyak pelajaran, adapun pelajaran yang dapat kita petik ialah:

Pertama, Allah Maha Besar 
Sebenarnya manusia mengakui kedhoifan disisi Allah, ini dibuktikan ketika seorang muslim melaksanakan ibadah sholat fardhu 5 waktu sehari semalam dengan memulai sholat mengucapkan takbirotul ihrom, yaitu Allahu Akbar yang artinya Allah Maha Besar. Namun sayangnya, tidak sedikit diantara kita yang mengakui Allah Maha Besar di dalam sholatnya, namun merasa paling hebat dan berkuasa ketika di luar sholat. Ini adalah sifat sombong, salah satu penyakit hati yang dapat menyebabkan seseorang tidak akan merasakan surganya Allah, hal ini disampaikan Nabi Muhammad Saw melalui sabdanya
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau hanya sebesar dzarroh" (HR. Muslim).
Melalui virus ini sudah seharusnya setiap manusia merasa dia bukanlah apa-apa jika tidak atas kekuasaan Allah yang Maha Besar.

Kedua, setiap manusia selalu mendekati kematiannya
Tidak ada satu makhluk Allah khususnya manusia yang menjauh dari kematian, semua makhluk Allah senantiasa mendekat kepada kematiannya. Maka datangnya virus corona tidak ada ubahnya dengan bencana-bencana alam lainnya, seperti gempa bumi, banjir, tsunami dan bencana lainnya, tentu sama-sama memiliki potensi membuat kita semakin dekat dengan kematian kita masing-masing. Setiap muslim juga telah membuat ikrarnya kepada Allah di setiap sholatnya bahwa hidup dan matinya karena Allah, hal ini telah di firmankan Allah di dalam Suroh Al-An'am ayat 162

قل ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

"Katakanlah : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku karena Allah ta'ala Tuhan semesta alam".

Namun perlu di garis bawahi, setiap yang bernyawa itu pasti mati, pernyataan ini benar tapi jangan sampai tidak tepat dalam memahaminya. Dengan adanya wabah virus ini, bukan berarti kita petantang petenteng kesana-kesini dengan dalih kita pasti mati. Islam tidak pernah mengajari kita untuk mati konyol, sudah seharusnya kita menjadi manusia yang tidak memberikan kemudhoratan bagi orang lain jika sudah terkena wabah virus, jika masih sehat maka jadilah manusia yang bermanfaat dengan berusaha sebisa mungkin menjaga diri dari wabah virus ini.
Bagi mereka yang memaksakan dirinya untuk keluar juga demi nafkah keluarganya, keluarlah niatkan karena Allah dan demi menafkahi anak dan istri tapi tetapi waspada dan jangan sombong. 

Ketiga, Makanlah makanan yang halal lagi baik
Allah telah berfirman di dalam Suroh Al-Baqoroh ayat 168

يايها الناس كلوا مما في الارض حلال طيبا ولا تتبعوا خطوات الشيطان انه لكم عدو مبين

"Hai manusia, Makanlah yang halal lagi baik apa yang ada di bumi, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya dia musuh yang nyata bagimu".

Ayat ini menjelaskan kepada seluruh umat manusia agar memakan makanan apa yang ada di bumi ini makanan yang baik lagi halal. Namun, peringatan ini diabaikan oleh manusia, mereka memakan makanan yang tidak baik dan tidak halal, yaitu kelelawar. Berdasarkan penelitian, virus yang sedang menyebar saat ini di indikasi berasal dari binatang tersebut. Maka wajar apa yang terjadi karena virus ini terhadap manusia, karena apa yang telah peringatab dilanggar oleh manusia itu. 

Keempat, Islam mengajarkan kita tentang kebersihan
Nabi Muhammad Saw 
الطهور شطر الايمان
"Kebersihan itu adalah sebagian dari Iman" 
Orang yang beriman akan senantiasa menjaga kebersihan, baik itu bersih jasmani maupun rohaninya. Mungkin selama ini banyak dari kita yang mengabaikan tentang apa itu kebersihan, itu terbukti dengan membuang sampag sembarangan, bahkan mungkin buang air kecil sembarangan. Namun setelah datangnya virus ini, semua seakan sadar kebersihan itu amatlah sangat penting, bahkan dikatakan di dalam AlQur'an bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang bersih. 
ان الله يحب التوابين ويحب المتطهرين
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang ysng bertaubat dan mencintai orang-orang yang bersuci". 

Tujuan Allah Meng-Isra' dan Mi'raj kan Nabi Muhammad Saw

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَوَصَّى وَأَحَاطَ بِكُلِّ شَيْئٍ عِلْمًا. وَأَحْصَى أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ شَهَادَةَ اْلأَتْقَى. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ مَنَّ بِجَمِيْعِ حُقُوْقِهِ قَضَى. اَمَّا بَعْدُ
اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Sudah menjadi kebiasaan Nabi Muhammad Saw dan umat Islam apabila sudah masuk bulan Rojab, maka ada sebuah doa yang dipanjatkan yaitu
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
"Ya Allah berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya'ban dan sampaikanlah usia kami di bulan Ramadhan"

Doa yang dipanjatkan ini seakan mengindikasikan kepada kita bahwa bulan Rojab adalah persiapan awal untuk menyambut kedatangannya bulan Ramadhan. Bulan Rojab menjadi tonggak rangkaian ibadah - ibadah penting yang jatuh pada bulan setelahnya, yaitu bulan Sya'ban dan bulan Ramadhan. Sebagaimana ulama berkata
رجب شهر الزرع وشعبان شهر السقي و رمضان شهر الحصاد
"Rojab adalah bulan menanam, Sya'ban adalah bulan menyirami dan ramadhan adalah bulan memanen"

Maka dari itu, mari kita manfaatkan moment bulan Rojab ini menjadi moment untuk meningkatkan ibadah kita kepada Allah swt.

Para pembaca yang dirahmati Allah Swt 
Pada bulan Rojab ini terdapat satu peristiwa besar, yaitu peristiwa yang sungguh sangat sulit di nalar oleh akal, peristiwa tersebut adalah peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rojab dan sudah menjadi kebiasaan bagi umat Islam selalu memperingatinya. Jika mengikuti bulan Masehi maka peristiwa Isra' dan Mi'raj pada tahun ini akan jatuh pada tanggal 22 Februari 2020.

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt 
Peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw ialah dua buah peristiwa. Isra' adalah peristiwa diperjalankanNya Nabi Muhammad Saw dari Masjid Harom ke Masjidil Aqsho dengan menggunakan Buroq. Sedangkan Mi'raj adalah peristiwa naiknya Nabi Muhammad Saw dari Masjid Aqsho ke langit dan berakhir di Sidrotul Muntaha yang merupakan puncak tertinggi.

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt
Lalu pertanyaannya, apa yang melatarbelakangi terjadi peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw? Di dalam kitab Dardir bainama Qishotul mi'raj diterangkan ada tiga hal yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw, yaitu :

Pertama, Nabi Muhammad ditinggalkan oleh pamannya Abu Tholib untuk selama-lamanya, sehingga hilanglah benteng yang selama ini melindungi beliau dari ancaman kaum kafir Quraisy saat itu.

Kedua, meninggal pula istri tercinta beliau yaitu Ummul Mukminin Khadijah ra, yang mana Khadijah ra selalu ada bagi beliau di dalam suka maupun duka, terutama dalam mendukung suksesnya dakwah beliau.

Ketiga, diusirnya Nabi Muhammad Saw dari ketika hendak berdakwah ke Kota Tho'if dengan cara melempari batu dan cacian dari penduduk Tho'if.

Karena hal ini maka  Allah mengajak Nabi Muhammad untuk bertamasya agar fikiran beliau yang sedang kalut kembali bersemangat menjadi rutinitas dakwah kepada seluruh manusia. Peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw seakan ingin memberitahukan beberapa hal kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu :
1. Nabi Muhammad tidaklah sendiri
Nabi Muhammad memang sudah ditinggalkan oleh Pamannya yaitu Abu Tholib dan Istrinya Khadijah ra, serta beliau juga sudah ditolak oleh penduduk Tho'if, maka melalui peristiwa Isra' dan Mi'raj Allah ingin memberitahukan kepada beliau, boleh jadi saat ini Nabi Muhammad merasa sendiri, akan tetapi Penduduk langit sangat mencintainya dan Allah selalu bersama beliau jika sabar dan sholat selalu menjadi solusi setiap masalah, sebagaimana firman allah Swt
يايها الذين آمنوا استعينوا بالصبر والصلاة ان الله مع الصابرين
"Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar" (Al-Baqoroh : 153)

2. Ingin menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah
Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Isra' ayat 1
لنريه من ايتنا انه هو السميع البصير
"Agar kami perlihatkan kepadanya sebagian ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"

Perjalanan Isra' dan Mi'raj yang dialami Nabi Muhammad Saw tujuannya ialah untuk memperlihatkan kebesaran tuhannya yaitu Allah swt. Allah menunjukkan tanda-tanda kebesarannya kepada Nabi Muhammad ialah untuk menguatkan jiwa beliau, Allah ingin menegaskan bahwa Allah selalu ada untuk Nabi Muhammad, Allah akan senantiasa memberi pertolongan kepada orang yang telah memperjuangkan dan menolong agamaNya, sebagaimana firman Allah Swt di dalam Surat Muhammad ayat 7
يايها الذين آمنوا ان تنصروا الله ينصركم ويثبت اقدامكم
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu"

3. Allah ingin menguatkan mental Nabi Muhammad Saw
Semua kesedihan yang dialami Nabi Muhammad saw sehingga tahun itu disebut tahun kesedihan (Aamul Huzni) sesungguhnya ingin menguatkan mental Nabi Muhammad saw dalam berdakwah, sehingga tidak mudah lemah dan berputus asa. Jika sesosok pemimpin seperti Nabi Muhammad mudah lemah dan berputus asa ketika menghadapi pahitnya kehidupan dalam rangka berdakwah, tentu akan membuat para pengikutnya juga akan merasakan hal yang sesama, karena tidak memiliki figur yang ghirah (semangat) itu kembali berkobar. Ingat, setiap manusia pasti memiliki kesulitannya masing-masing, namun tidak setiap manusia mampu menyikapi kesulitannya tersebut. Seorang muslim sudah seharusnya menyikapi kesulitan melalui dua firman Allah, yaitu di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 286 Allah berfirman
لايكلف الله نفس الاوسعها
"Allah tidak akan membebani kamu kecuali karena kamu mampu memikulnya"

Kemudian, di dalan Surat Al-Insyiroh ayat 5-6 Allah berfirman
فان مع العسر يسرا، ان مع العسر يسرا
"Maka sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan"

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ