Tampilkan postingan dengan label Tausyiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausyiah. Tampilkan semua postingan

Tahapan Turunnya AlQur'an


Pengertian Nuzulul Qur'an

Oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I 

Nuzul artinya adalah pindahnya sesuatu dari atas ke bawah atau dipindahkannya sesuatu dari atas ke bawah. Pindahnya sesuatu dari atas ke bawah kita kenal dengan istilah turun. Maka dari itu Nuzulul Qur'an dapat kita artikan dengan berpindahnya atau turunnya AlQur'an dari atas ke bawah.

Turunnya AlQur'an hingga sampai ke dunia atau sampai ke Nabi Muhammad itu melalui beberapa tahapan, yaitu :

1. Allah menurunkan AlQur'an ke Lauhul Mahfudz

Tahapan pertama turunnya AlQur'an ialah turunnya AlQur'an dari sisi Allah secara keseluruhan ke Lauh Mahfudz. Apa itu Lauh Mahfudz? Di dalam buku Ensiklopedia Makna AlQur'an Syarah Al-Faazhul Qur'an dikatakan bahwa Lauh Mahfudz adalah tempat menyimpan berita-berita ghoib, termasuk AlQur'an. Lauh Mahfudz terbuat dari mutiara putih, lembaran-lembarannya dari permata yaqut yang berwarna merah, pena dan kitabnya adalah cahaya. Diterangkan juga di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir bahwa Lauh Mahfudz itu berwarna putih yang panjangnya seukuran antara langit dan bumi dan lebarnya antara barat dan timur, sisi-sisinya terbuat dari intan permata.

2. AlQur'an diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah

Setelah AlQur'an turun dari sisi Allah ke Lauh Mahfudzh, maka tahapan yang kedua ialah turunnya AlQur'an dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah (tempat di langit dunia). Turunnya AlQur'an dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah juga secara keseluruhan dan ini terjadi pada malam lailatul qodar tepatnya pada bulan Ramadhan.

3. Turunnya AlQur'an dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad Saw

Tahapan yang ketiga dari turunnya AlQur'an ialah turunnya AlQur'an dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

Kapan AlQur'an diturunkan?

🔹 Pada tahapan pertama AlQur'an diturunkan, tidak ada yang mengetahui kapan waktunya AlQur'an diturunkan kecuali hanya Allah Swt.

🔹 Pada tahapan kedua AlQur'an diturunkan secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah hanya dalam waktu satu malam saja yaitu pada bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan tiga ayat yang terdapat di dalam AlQur'an, yaitu :
1. Surat Ad-Dukhon ayat 3

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ َ

"Sesungguhnya Kami (mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar)"

2. Surat Al-Qodr ayat 1

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul qadar".

3. Surat Al-Baqoroh ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an... "

Berdasarkan ketiga ayat yang terdapat di atas maka jelaslah bahwa AlQur'an itu diturunkan pada malam yang berkah, yaitu pada malam Lailatul Qodar yang ada pada salah satu malam di malam-malam bulan Ramadhan.

Namun perlu untuk di garis bawahi bahwa turunnya AlQur'an yang dimaksud dari 3 ayat di atas bukanlah turunnya AlQur'an kepada Nabi Muhammad, akan tetapi turunnya AlQur'an dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa AlQur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itu secara berangsur-angsur selama 23 tahun, sedangkan pada 3 ayat di atas menjelaskan bahwa turunnya AlQur'an dalam satu malam saja.

🔹 Tahapan ketiga yaitu turunnya AlQur'an dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur. Adapun surat pertama yang turun ialah surat Al-Alaq ayat 1 - 5. Mengenai kapan turunnya surat Al-Alaq ini, dikalangan ulama juga terjadi perbedaan pendapat, ada yang mengatakan tanggal 17, 18, 21, 25 Ramadhan, bahkan ada juga yang berpendapat bulan Rabiul Awwal dan bulan Rojab.

Kenapa Di Indonesia Peringatan Nuzulul Qur'an pada Malam 17 Ramadhan?

Di Indonesia peringatan Nuzulul Qur'an jatuh pada malam ke - 17 Ramadhan karena mengikuti pendapat yang meyakini bahwa AlQur'an pertama kali turun ke bumi yaitu Surat Al-Alaq pada tanggal 17 Ramadhan. Adapun dalil yang digunakan berdasarkan Surat Al-Anfal ayat 41

 وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنٌِۗ

"kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari Al-furqon (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan".

Di dalam kitab Ibnu Katsir dikatakan bahwa AlQur'an itu diturunkan pertama kali pada "Yaumul Furqon", yaitu hari dimana Allah membedakan antara yang haq dan yang bathil, itulah pada kaum muslimin berperang melawan kaum kafir dalam perang Badar. Kapan perang Badar terjadi? Pada tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah.

والله اعلم بالصواب

Sumber Rujukan
- Ensiklopedia AlQur'an
- Tafsir Ibnu Katsir
- Buku Ulumul Qur'an

Mengapa Allah Hanya Memanggil Orang-orang yang Beriman Untuk Menjalankan Ibadah Puasa?

Dalil Perintah Puasa di Bulan Ramadhan 

Perintah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan terdapat di dalam AlQur'an Surat Al-Baqoroh ayat 183 

يايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" 

Perhatikan pada ayat tersebut, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman saja, lalu pertanyaannya mengapa Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman saja? 

Mari temukan jawabannya dalam link video yang terdapat di bawah 👇

Semoga bermanfaat!! 

Allah Hanya Memanggil Orang-orang yang Beriman Untuk Menjalankan Ibadah Puasa

3 Keistimewaan yang Diturunkan Allah di Dalam Bulan Sya'ban


Keistimewaan yang Diturunkan Allah di Dalam Bulan Sya'ban

Oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I

Di dalam Kitab Al-Fadhoil dijelaskan bahwa Sya'ban itu berasal dari kata "Tasya'ub" yang berarti bercabang-cabang. Pengertian ini sesuai dengan banyaknya cabang-cabang kebaikan dan keistimewaan yang terdapat di dalam bulan Sya'ban. Sehingga di dalam hadits dikatakan, "Keutamaan bulan Sya'ban itu dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya adalah seperti keutamaanku dibandingkan dengan Nabi-Nabi yang lain". Adapun cabang-cabang kebaikan yang bisa diamalkan oleh umat Islam di dalam Bulan Sya'ban ialah berpuasa sunnah khususnya puasa Nisyfu Sya'ban, mengisi malam Nisyfu Sya'ban dan memperbanyak sholat sunnah.

Selain banyaknya cabang-cabang kebaikan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban, maka Allah juga menurunkan keistimewaan di dalam Bulan Sya'ban. Jika bulan Rojab menjadi istimewa karena di dalamnya terdapat peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw dan Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena di dalamnya diturunkan AlQur'an, maka setidaknya ada tiga hal yang membuat bulan Sya'ban menjadi istimewa, diantaranya ialah :

1. Berpindahnya Kiblat Umat Islam dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah

Setelah Nabi Muhammad kembali dari perjalanan Isra' dan Mi'raj dan membawa perintah sholat, maka semenjak itu hingga selama 17 bulan umat Islam sholat dengan kiblat yang mengarah ke Baitul Maqdis. Maka selama 17 Bulan itu juga Nabi Muhammad berharap kepada Allah dengan cara selalu menghadapkan wajahnya ke langit agar kiblat umat Islam dapat beralih ke Ka'bah. Nabi berharap demikian karena orang-orang Yahudi mengolok-olok umat Islam dengan mengatakan, "Mereka mengatakan Islam itu berbeda dengan Yahudi, akan tetapi kiblat mereka mengikuti agama Yahudi". 
Akhirnya, setelah berharap selama 17 bulan, Allah pun menjawab harapan Nabi Muhammad, kiblat umat Islam pun beralih dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah. Peristiwa ini telah diabadikan di dalam AlQur'an Surat Al-Baqoroh ayat 144

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ

"Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam".

Dikabulkan Allah doa Nabi Muhammad agar kiblat umat Islam kembali ke Ka'bah setelah 17 bulan lamanya seakan mengajarkan kita untuk tidak pernah bosan berdoa kepada Allah. Lihatlah, sekelas Nabi Muhammad Saw dikabulkan doanya setelah 17 bulan lamanya, lalu siapa kita yang sedang berdoa langsung ingin dikabulkan.

Maka di bulan Sya'ban ini mari kita perbanyak doa kepada Allah, setidaknya ada tiga doa yang kita panjatkan terutama setelah membaca Surat Yasin tiga kali. Doa pertama diberikan umut yang panjang dan selalu dalam ketaatan, doa kedua, diberikan keluasan rezeki dan dijauhkan dari segala macam mara bahaya dan doa ketiga ialah meminta kepada Allah agar kelak kita bisa mati dalam keadaan Husnul Khotimah.

2. Turunnya awal perintah Sholawat
Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya".

Ayat di atas adalah ayat akan perintah bagi orang-orang yang beriman untuk selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Mayoritas ulama, khususnya para ahli tafsir sepakat bahwa turunnya ayat ini adalah pada bulan Sya'ban.

Dalam ayat itu tersebut terdapat tiga sholawat, yaitu sholawat dari Allah kepada Nabi Muhammad, sholawat dari para Malaikat kepada Nabi Muhammad dan sholawat orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Sholawatnya Allah kepada Nabi Muhammad merupakan pujian yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, sedangkan sholawatnya para Malaikat kepada Nabi Muhammad Saw merupakan doa kepada Allah agar melimpahkan anugerahnya kepada Nabi Muhammad Saw. Adapun sholawatnya orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw berarti berharap agar Allah selalu mencurahkan Rahmat dan ampunan-Nya kepada kita.
Karena turunnya perintah Sholawat ini di bulan Sya'ban, maka dianjurkanlah bagi umat Islam untuk memperbanyak melantunkan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw pada bulan Sya'ban ini. Ketauhilah, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda

"Barangsiapa yang bersholawat satu kali kepadaku, maka Allah akan bersholawat 10 kali kepadanya".

3. Diturunkannya kewajiban berpuasa di Bulan Ramadhan

Imam An-Nawawi dalam Majmu' Syarah Al-Muhadzadzab mengatakan bahwa Nabi Muhammad menjalankan ibadah puasa selama hidupnya sebanyak 9 kali dan di mulai dari tahun ke - 2 Hijrah setelah perintah kewajiban berpuasa diturunkan pada bulan Sya'ban. Hikmah perintah puasa ini diturunkan di Bulan Sya'ban ialah agar umat Islam bersegera mempersiapkan dirinya di Bulan Sya'ban sehingga ketika masuk ke dalam bulan suci Ramadhan umat Islam telah siap untuk menjalankan setiap rangkaian ibadah di Bulan Ramadhan dengan maksimal, khususnya ibadah puasa.
Aisyah ra. pernah berkata bahwa, "Aku tidak pernah melihat beliau lebih sering berpuasa daripada bulan Sya'ban" (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa Nabi Muhammad Saw demikian? Sesungguhnya karena Nabi Muhammad ingin mengajarkan kita untuk berlatih berpuasa di bulan Sya'ban, sehingga ketika bulan Ramadhan tiba, kita mampu berpuasa dengan maksimal, tanpa merasa berat sedikit pun. Maka sudah selayaknya jugalah kita sebagai umat Nabi Muhammad memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban, sehingga kita sudah terbiasa nanti ketika menjalankan ibadah wajib di bulan Ramadhan.

والله اعلم بالصواب

Keluarga, Harta, dan Amal


Keluarga, harta dan Amal Ibadah

Oleh : M. Syukri Hsb, S.Sos.I

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Nabi Muhammad Saw bersabda

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketauhilah, ketika nanti kita meninggalkan dunia dan diantarkan ke tempat pemakaman maka ada tiga yang akan mengantarkan kita yaitu

✅ keluarga

✅ harta

✅ amal ibadah

Lalu setelah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka dari tiga yang telah mengantarkan kita akan ada dua yang akan meninggalkan kita

❎ Keluarga

❎ Harta

satu yang setia menemani kita

✅ Amal Ibadah

Sahabat Muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Keluarga akan menjadi berarti buat kita setelah berada di alam barzakh jika semasa kita hidup di dunia kita mampu mendidik mereka menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah, namun sebaliknya jika kita tidak mampu membuat mereka untuk bertaqwa kepada Allah maka ini bisa menjadi sebab bertambahnya siksa yang kita dapat di dalam kubur.

Harta yang kita tinggalkan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita jika ahli waris mau menginfaqkan sebagian harta yang telah ditinggalkan atas nama kita, namun jika mereka tidak teringat untuk menginfaqkan sebagian dari harta itu atas nama kita maka harta itu akan menjadi sia-sia belaka kita.

Amal ibadah yang menemani kita bisa menjadi penolong bagi kita dari kejamnya siksa kubur jika kita mau menunaikannya semasa kita hidup dunia, namun jika tidak, maka amal ibadah kita bisa menjadi sebab semakin dahsyatnya siksa kubur yang akan kita alami.

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Oleh sebab itu, mumpung kita masih hidup di dunia, mari kita didik keluarga kita menjadi keluarga yang bertaqwa kepada Allah

Mumpung kita masih hidup di dunia mari kita jadikan harta yang kita miliki di dunia ini menjadi harta yang bermanfaat. Ketauhilah harta yang sesungguhnya yang kita miliki bukanlah harta yang miliki di dunia ini akan tetapi harta yang sesungguhnya ialah harta yang disedekahkan dan kita infaqkan di jalan Allah

Mumpung masih hidup di dunia ini mari kita tunaikan kewajiban kita kepada Allah, jangan sampai kita lalai dari kenikmatan dunia yang sifatnya hanya sementara.

والله اعلم بالصواب

11 Desember 2021 M / 06 Jumadil Awwal 1443 H

Pengertian Puasa, Syarat sah dan Syarat Wajib Puasa serta Orang yang boleh tidak berpuasa


Pengertian Puasa
Menurut bahasa puasa artinya mencegah.
Sedangkan menurut Istilah puasa berarti mencegah diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari.

Dalil Puasa Ramadhan
Adapun dalil diperintahkannya untuk berpuasa di bulan Ramadhan ialah Firman Allah Swt di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 183
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"

Syarat Sah Puasa
Adapun sahnya puasa seseorang apabila memenuhi beberapa syarat, yaitu:
1. Islam
Orang yang tidak beragama Islam jika dia berpuasa maka puasanya tidak sah, begitu juga ketika orang Islam berpuasa hendaklah selalu berada dalam keadaan Islam, jika murtad maka batallah puasanya. 

2. Berakal
Selama melaksanakan ibadah puasa maka harus selalu berada dalam keadaan berakal. 

3. Bersih dari haidh dan nifas
Bagi perempuan yang suci dari haidh dan nifas maka wajib berpuasa. Jika seorang wanita mengalami haidh dan nifas di tengah menjalani ibadah puasa, maka puasanya batal dan wajib baginya untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa karena menghormati orang yang sedang berpuasa. 

4. Berpuasa di hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa
Orang yang berpuasa haruslah mengetahui bahwa dia berpuasa di hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa, bukan di hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa. 

Syarat Wajib Puasa
Puasa Ramadhan wajib bagi setiap mukallaf yang tidak memiliki udzur, yaitu :
1. Islam
2. Mukallaf (baligh dan berakal) 
3. Mampu untuk berpuasa :
👉 Mampu secara lahiriah : sehat, bukan yang tergolong orang yang sudah tua, bukan ibu hamil dan menyusui. 
👉 Mampu secara syariat : perempuan yang suci dari haid dan nifas
4. Muqim

Adapun yang tidak wajib puasa ada sembilan kriteria, yaitu
1. Anak kecil
Anak kecil walaupun tidak wajib berpuasa namun wajib bagi orangtua untuk melatih dan menyuruhnya untuk berpuasa, walaupun itu hanya puasa setengah hari. 

2. Orang gila
Orang gila yang tidak disengaja tidak wajib berpuasa, karena akalnya tidak sempurna. 

3. Orang sakit
Orang yang sakit tidak diwajibkan berpuasa, jika sakitnya itu menyebabkan dirinya merasa berat untuk menjalankan ibadah puasa atau apabila dia berpuasa dapat menyebabkan bertambah paranya sakit yang dideritanya. Orang sakit ini boleh tidak berpuasa jika atas saran dokter muslim yang adil atau karena pengalaman pribadinya jika dia berpuasa maka akan terjadi sesuatu padanya. 

4. Orangtua
Tidak diwajibkan berpuasa bagi orang yang sudah tua atau lansia. Umur disini tidak menjadi batasan, karena bisa jadi usia 50 atau 60 tahun fisiknya sudah seperti orangtua disebabkan karena penyakit yang dideritanya. 

5. Haid
Wanita yang masih keluar darah haidnya tidak wajib berpuasa

6. Nifas
Waniya yang masih keluar darah nifasnya juga tidak wajib berpuasa

7. Hamil
Ibu yang hamil tidak wajib berpuasa, apabila dia merasa berat menjalankan puasa karena kondisinya yang sedang hamil

8. Menyusui
Ibu yang menyusui tidak wajib berpuasa, karena mungkin dalam kondisi menyusui bayinya sehingga menguras energi dan nutrisi di dalam tubuhnya, akibatnya tidak kuat menjalankan ibadah puasa. 

9. Musafir
Orang yang melakukan perjalanan sejauh 84 Km, maka tidak wajib berpuasa, dengan catatan dia melalukan perjalanan sebelum waktu sahur berakhir. 
Hukum puasa bagi seorang musafir ada 3
👉 Haram berpuasa dalam perjalanan jika dengan berpuasa dapat membahayakan dirinya. 
👉 Boleh memilih tetap berpuasa atau berbuka karena perjalanan yang dilakukannya tidak memiliki pengaruh apapun terhadap dirinya jika dia berpuasa
👉 Dianjurkan untuk berbuka jika merasa berat untuk berpuasa ketika melakukan perjalanan walaupun jika berpuasa tidak membahayakan dirinya. 

Perlu diketahui bahwa batas lama dari seorang musafir hanyalah 3 hari setelah dirinya sampai di tempat tujuannya, jika lewat dari 3 hari maka wajib baginya berpuasa. Berbeda jika dirinya terus-menerus melakukan perjalanan, maka berlaku terus status musafir bagi dirinya.

Wallohu a'lamu bisshowab

Sumber : Fiqih Praktis Buya Yahya

Ziarah Kubur


Pengertian Ziarah
Ziarah berasa dari bahasa Arab yaitu Zaara - Yazuuru - Ziyarotan (زار - يزور - زيرة) yang artinya berkehendak mendatangi atau berkunjung ke suatu tempat.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa ziarah kubur adalah mengunjungi kuburan dari saudara, kawan, kerabat atau siapapun. Pada umumnya ketika umat muslim mengunjungi kuburan biasanya akan mengirimkan doa, mengenangnya dan menjadikan nasihat bagi diri sendiri bahwa dirinya pasti akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang telah mendahului dirinya.

Dalil Ziarah Kubur
Nabi Muhammad Saw bersabda

 نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ اْلقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا 

"Dahulu aku telah melarang kalian berziarah ke kubur. Namun sekarang, berziarahlah kalian ke sana" . (H.R. Muslim)

 اِسْتَأْذَنْتُ رَبِّيْ أَنْ أَسْتَغْفِر لأُمِّيْ ، فَلَمْ يَأذَنْ لِيْ ، وَاسْتأذَنْتُهُ أنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأذِنَ لِيْ

Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengijinkan. Kemudian aku meminta ijin kepada Allah untuk berziarah ke makam ibuku, lalu Allah mengijinkanku. (H.R. Muslim)

زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَبْرَ اُمِّهِ, فَبَكَي وَاَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ

Nabi Saw ziarah ke makam ibunya kemudian menangis lalu menangislah orang-orang sekitarnya. (HR. Muslim dan al-Hakim)

Hukum Ziarah Kubur
Jika berbicara mengenai hukum mengenai ziara kubur, maka hukumnya terbagi dua, yaitu :

Pertama, hukum ziarah kubur bagi laki-laki
Menurut jumhur ulama ziarah kubur bagi laki-laki hukumnya sunnah dan disyariatkan di dalam Islam, karena mengingat kematian itu diperintahkan di dalam agama. (1) 
Sedangkan menurut Mazhab Daud Zhohiri yaitu pendapat Ibnu Hazmin mengatakan ziarah kubur itu wajib.(2)
Kedua, hukum ziarah kubur bagi perempuan terbagi atas tiga
- Ziarah Kubur bagi perempuan itu sunnah, karena mengingat akan kematian itu diperintahkan bukan hanya bagi laki-laki, akan tetapi juga bagi perempuan. Dengan ketentuan apabila perempuan berziarah kubur hendaklah dirinya mampu mengontrol emosinya sehingga tidak sampai meratap ketika sampai kuburan orang yang telah meninggalkan dirinya. Pendapat ini merupakan pendapat yang mu'tamad. 

- Berziarah bagi perempuan hukumnya haram apabila perempuan yang berziarah tersebut tidak mampu mengontrol emosinya sehingga kembali meratapi seseorang yang telah terlebih dahulu meninggalkan dirinya. 

- Berziarah kubur bagi perempuan makruh karena dikhawatirkan tidak mampu mengendalikan dirinya ketika melihat kuburan orang yang terlebih dahulu meninggalkan dirinya. 

Waktu yang baik berziarah kubur
Pada umumnya berziarah kubur itu tidak terikat oleh waktu, bisa kapan saja. Namun jika ditanya mengenai waktu yang paling utama ketika hendak berziarah kubur ialah :
Pertama, berziarah kubur pada hari Jum'at, karena hari Jum'at merupakan sayyidul ayyam (hari yang mulia), penghulu daripada hari dan hari Jum'at juga merupakan hari mustajabnya doa. 
Kedua, berziarah kubur setelah ashar, karena salah satu waktu diijabahnya doa ialah setelah ashar. 

Berdasarkan dua waktu di atas, disimpulkanlah bahwa waktu yang palinh baik itu berziarah kubur ialah ketika hari Jum'at setelah waktu ashar. 

Adab-adab Ziarah Kubur
Adab dalam berziarah kubur di bagi akan dua perkara, yaitu :
Pertama, adab sebelum memasuki daerah pemakaman (magbaroh). Adapun adab sebelum masuk ke daerah pemakaman adalah :
1. Memberi salam
Hendaknya sebelum memasuki daerah pemakaman, peziarah atau orang yang melintasi daerah pemakaman mengucapkan salam, karena sesungguhnya mereka mendengar dan menjawab salam dari manusia. Adapun bunyi salamnya ialah
السلام عليكم يا اهل القبور من المؤمنين والمسلمات وانا ان شاءالله بكم لاحكون
2. Apabila menggunakan sandal, maka tidak perlu melepaskan sandalnya kecuali sandalnya bernajis dan sandalnya merupakan sandal yang mahal. 

Kedua, adab bagi peziarah setelah memasuki daerah pemakaman adalah :
1. Jangan duduk di atas kubur, sebagaimana sabda Rasulullah Saw 
"Sungguh duduk di atas bara api sampai tubuh terbakar dan kulit terkelupas itu lebih baik kamj daripada duduk di atas kubur" 

2. Menghadap kubur dan mendekati kubur ketika membaca kalimat-kalimat thoyyibah

3. Mengucapkan salam kembali setelah selesai berziarah dan hendak meninggalkan daerah pemakaman. 

Hal-hal yang dilakukan ketika berziarah kubur
Adapun hal-hal yang hendaklah dilakukan oleh peziarah kubur ialah :
1. Membaca AlQur'an, baik seluruhnya atau sebagian dari ayat-ayat AlQur'an, jika tidak mampu minimal membaca surat Al-Fatihah. 
2. Berdzikir
3. Mendoakan si mayyit. 

Hukum mengenai perkara-perkara yang sering dilakukan oleh peziarah kubur
1. Menabur bunga
Menabur bunga di kuburan ketika berziarah kubur hukumnya adalah sunnah, yaitu dengan mengqiyaskan atas apa yang dilakukan Rasulullah Saw atas dua penghuni kubur yang sedang disiksa, kemudian Rasulullah menancapkan dua pelepah kurma yang masih segar dan mengatakan selama pelepah kurma tersebut masih segar maka pelepah kurma tersebut akan senantiasa berdzikir kepada Allah sehingga dapat meringankan penghuni kubur yang sedang disiksa. (3)

2. Menyiram kubur dengan air
Jika menyiram kubur dengan air biasa maka hukumnya sunnah, akan tetapi jika menggunakan air mawar maka hukumnya makruh (4), karena mubazzir. 
Adapun tujuan menyiram kubur dengan air ialah berharap agar kuburan dan penghuninya merasa dingin.(5)

3. Haram mencabut rumput 
Apabila terdapat rumput di sekitar kuburan, maka haram hukumnya bila dicabut (6). Adapun jika rumputnya sudah terlalu tinggi cukup dirapikan saja, jangan sampai dicabut keseluruhannya. 

4. Mencium nisan hukumnya makruh, kecuali nisan orang-orang yang sholeh dengan tujuan mengambil keberkahannya.(7)

5. Wanita haid boleh berziarah ke kubur karena memang ibadah ziarah kubur tidak terikat syarat, waktu dan rukuj tertentu. Namun dengan ketentuan tidak boleh membaca AlQur'an dan ayat-ayat AlQur'an, cukuplah berdoa saja. 

Catatan Perut 
(1)Pendapat dari Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani di dalam Kitab Fathul Bari, Syeikh Al-Mubarok Fury di dalam Kitab Tuhfatul Ahwaji dan Imam An-Nawawi di dalam Kitab Syarah Al Muhadzdzab. 
(2) Fathul Bari
(3) Tuhfatul Muhtaj Bissyahril Minhaj karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami 
(4)Syarah Al-Bahjah
(5) Nihayatuz Zain 
(6) Hasyiyah I'anatut tholibin 
(7) Hawasy Asy-Syarwani dan Mafahim Yajibu An Tushoha

Tingkatan Keimanan


Keimanan itu terdiri atas lima tingkatan, yaitu :

Pertama, Iman Taqlid yaitu yakin akan ucapan orang lain tanpa mengetahui akan dalil dari ucapan itu. Mereka hanya mengikut karena yakin atas apa yang telah disampaikan tanpa mengetahui dalilnya. Keimanan yang seperti ini dihukumi sah keimanannya, namun ia berdosa karena tidak mencari tahu akan dalilnya padahal ia mampu.

Kedua, iman 'ilmi yaitu orang yang mengetahui mengenai akidah-akidah beserta dengan dalil-dalilnya melalui pengetahuan dengan proses belajar atau menuntut ilmu. 

Keimanan untuk tingkatan pertama dan kedua merupakan tingkatan keimanan yang dihukumi sah, namun masih terhalang jauh dari dzat Allah, karena keimanan tingkatan pertama dan kedua masih belum stabil, masih hanya sekedar mengikut dan sebatas teori, belum sampai kepada hal yang mampu untuk merenungi dengan hatinya atas kekuasaan dan  kebesaran Allah Swt. Jiwa orang-orang yang berada pada keimanan tingkatan pertama dan kedua belum kuat, sehingga masih belum sanggup untuk melawan godaan syaitan dan hawa nafsunya serta masih mampu mengerjakan akan hal yang dilarang oleh Allah dalam keadaan yang sadar. 

Ketiga, iman 'iyaan atau' ainul yaqin yaitu orang yang telah mengenal Allah setelah merenungi pengetahuan yang telah diperoleh mengenai Allah dengan hatinya. Dia menyadari adanya Allah tidak lagi berdasarkan fikirannya, akan tetapi dia sadar Allah itu ada berdasarkan segala ciptaan Allah yang ada di alam semesta ini. Karena keimana ini juga maka ia selalu yakin dirinya diawasi oleh Allah, karena hatinya telah yakin Allah itu ada berdasarkan pengetahuan yang telah ia renungkan dihatinya. 

Keempat, iman haq atau haqqul yaqin yaitu orang yang telah mengenal Allah melalui mata hatinya. Apabila keimanan ini telah hadir dalam diri seseorang, maka apapun yang dia lihat maka dia akan merasa Allah itu ada. Dia hanya tahu bahwa Allah segala-galanya, kebahagiaan dan kesedihan di dunia tidak akan mempengaruhi dirinya, karena baginya yang penting hanyalah Allah dan kehidupan yang akan datang yaitu akhirat.

Kelima, iman hakikat yaitu puncak dari keimanan. Keimanan hakikat merupakan keimanan yang melibatkan seluruh jiwa dan raganya hanya karena Allah semata.

Tingkatan keimanan yang wajib dicapai oleh seseorang adalah keimanan tingkatan taqlid dan 'ilmi, sedangkan untuk tingkatan iman 'iyan, haq dan hakikat merupakan tingkatan keimanan yang dikhususkan Allah kepada para hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.
 
والله اعلم بالصواب
 
Rujukan :
Kitab Mirqatus Su'ud, Karangan Syaikh An-Nawawi Al-Banteni, hal 16-17. 

28 Rajab 1442 H / 12 Maret 2021 M

Semut Tanjungbalai dan Semut Jakarta



Perjalanan Isra' dan Mi'raj itu memang benar-benar sebuah peristiwa yang menyalahi kebiasaan dan peristiwa menunjukkan atas kekuasaan Allah, karena siapa pun tidak ada yang mampu menciptakan peristiwa ini kecuali hanya Allah Swt.

Perjalanan Isra' dan Mi'raj ini apabila dilogikakan maka seperti seekor semut yang tinggal di Tanjungbalai, kemudiaan seekor semut itu berjalan ke baju seseorang yang hendak pergi ke Kota Jakarta dengan menggunakan pesawat.

Semut yang berada di kantong baju seseorang tadi ikut melakukan perjalanan dari Kota Tanjungbalai menuju Bandara, kemudian dari Bandara menuju ke Kota Jakarta dengan menggunakan pesawat.

Setelah 45 menit mendaratlah pesawat di Bandara Kota Jakarta, kemudian semut pun keluar dari kantong baju seseorang tadi dan bertemu dengan semut-semut Jakarta, lalu mereka bercerita

Semut Jkt : Kamu bukan semut asli Jakarta kan?
Semut Tanbe : Iya, aku bukan semut Jakarta, aku semut Tanjungbalai.
Tadi aku diperjalankan seseorang dari Tanjungbalai pukul 10.00 dan tiba di Jakarta pukul 10.45.
Semut Jkt : Tanjungbalai - Jakarta itu jauh, mustahil kamu bisa menempuh waktu sesingkat itu, dasar kamu semut pendusta dan mungkin kamu juga sudah gila.

Semut Jakarta tetap tidak percaya atas cerita semut Tanjungbalai, karena semut Jakarta adalah orang udik yang tidak kenal pesawat, dia beranggapan semut itu berjalan, padahal nyatanya diperjalankan oleh seseorang dengan menggunakan pesawat terbang.

Begitulah kira-kira situasi ketika Rasulullah Saw melakukan Isra' dan Mi'raj, orang-orang kafir Quraisy dan orang-orang mukmin yang lemah imannya mendustakan peristiwa tersebut tanpa menyadari bahwa Nabi Muhammad Saw bukanlah berjalan sendiri, akan tetapi diperjalankan oleh Allah Swt.

Manusia yang hanya ciptaan Allah saja bisa menempuh perjalanan yang jauh menjadi singkat, apalagi Allah yang Maha Kuasa, kalau Allah sudah berkehendak, yang tidak mungkin bisa jadi mungkin.

والله اعلم بالصواب

Jauhi Kufur Dekati Syukur

Kufur merupakan salah satu sifat yang berkaitan dengan keimanan. Kufur dapat diartikan ingkar atau penyangkalan. Kufur merupakan sifatnya, sedangkan orang yang melakukan kekufuran disebut dengan kafir, apabila secara sadar melakukannya.
Kufur itu bisa kepada Allah dan juga atas nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah. Mereka yang kufur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah disebutlah ia kufur nikmat. Banyak nikmat yang telah diberikan oleh Allah Kepada kita, bahkan nikmat-nikmat tersebut tidak terhitung banyaknya, hal ini telah dijelaskan Allah di dalam Surat Ibrahim ayat 34
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاِ نْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا 
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya".
Saat ini, nikmat yang sering disalah gunakan oleh manusia ialah
1. Kekayaan
Tidak sedikit manusia khususnya seorang muslim yang diberikan Allah nikmat dalam bentuk kekayaan, akan tetapi tidak sedikit juga diantara mereka yang telah dititipkan kekayaan tidak pandai mensyukuri nikmat kekayaan telah diberikan Allah. Wujud syukur orang-orang yang pandai bersyukur ialah memanfaatkan kekayaannya dalam rangka bertaqorrub kepada Allah. Hal itu bisa diwujudkan dengan bersedekah, berinfaq dan mewaqafkan sebagian hartanya untuk kemaslahatan ummat. 
Namun sayang saat ini, tidak sedikit manusia yang diberikan kekayaan oleh Allah membuat mereka semakin jauh dari Allah, mereka menghamburkan kekayaannya dengan bermaksiat kepada Allah, seperti berjudi, mabuk-mabukkan, memakai narkoba, berzina dan lain sebagainya. Manusia seperti inilah yang termasuk ke dalam orang-orang yang kufur atas nikmat Allah. Maka barangsiapa yang tergolong kepada kekufuran, bersiaplah kehancuran akan menimpa dirinya, baik itu kehancuran di dunia maupun di akhirat.

2. Kepintaran
Salah satu kenikmatan yang diberikan oleh Allah ialah memiliki kepintaran akan ilmu, khususnya ilmu agama. Bagi seorang muslim yang berilmu, agar ilmunya bermanfaat hendaklah dia mengajarkannya kepada yang lain. Tentu jika ilmunya tersebut diajarkan kepada orang lain maka manfaat bagi dirinya, yaitu pahala yang tidak terputus walaupun dirinya telah tiada disebabkan ilmu yang telah diajarkannya dan mendatangkan manfaat bagi yang diajarkannya. Hal ini telah dijelaskan Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya
اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له
"Apabila meninggal anak Adam maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh" (HR. Muslim)
Namun sayangnya, masih ada orang yang kufur atas nikmat kepintaran yang diberikan oleh Allah kepadanya, hal ini dapat diketahui ketika dia tidak mau berbagi ilmu atau kepandaian yang dia miliki kepada orang lain terutama ilmu yang mendatangkan kemaslahatan. Maka bagi orang-orang yang seperti ini, Nabi Muhammad Saw telah mengecamnya melalui sabdanya
"Barangsiapa yang bertanya tentang ilmu yang diketahuinya, kemudian dia menyimpannya, maka ia akan dikekang dengan kekangan dari api di hari kiamat nanti" (HR. Tirmidzi).
Di dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi yang merupakan syarah dari Kitab Sunan At-Tirmidzi mengatakan bahwa yang dikekang dengan api adalah mulutnya, karena tidak mau menjawab dari sebuah pertanyaan yang dia ketahui jawabannya.

3. Kecantikan dan Ketampanan
Nikmat berikutnya yang sering membuat manusia menjadi ingkar ialah nikmat kecantikan dan ketampanan. Mereka yang dibekali Allah nikmat paras yang indah seharusnya dijadikan sesuatu yang menyejukkan pandangan suami atau istrinya. Bukan sebaliknya, paras indah yang diberikan digunakan untuk menarik perhatian dari orang lain. Kita lihat saat ini, tidak sedikit wanita dan pria yang menarik perhatian lawan jenisnya melalui aplikasi-aplikasi seperti tiktok, youtube, facebook, instagram dan lain-lain. Padahal segala keindahan paras yang dia miliki seharusnya hanya suami atau istrinya saja yang boleh menikmatinya, bukan khalayak ramai.
Kita tidak menyadari, nanti ada masa dimana mulut dan lidah kita akan terkunci, yang bisa berbicara adalah anggota tubuh yang lain. Mata akan berbicara, apakah selama di dunia lebih banyak melihat yang baik atau melihat maksiat, tangan akan berbicara lebih banyak bersedekah atau bermaksiat, kaki akan berbicara, lebih banyak melangkah kaki ke tempat yang baik atau ke tempat maksiat, perut kita akan berbicara, lebih banyak masuk makanan yang hala atau yang haram.
Dari ketiga kekufuran di atas, maka solusi yang dapat mengatasinya hanyalah satu, yaitu timbulkan rasa syukur yang dibalut dengan keimanan yang kokoh kepada Allah Swt. Jika rasa syukur dan keimanan yang kokoh telah terpatri di dalam diri kita, maka sekaya apapun kita, sepintar apapun kita, dan setampan dan secantik apapun kita, yakinlah akan timbul di dalam hati bahwa semuanya adalah titipan yang sewaktu-waktu bisa dicabut oleh Allah.