Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

I'tikaf

              بسم الله الرحمن الرحيم

Pengertian I'tikaf

I'tikaf berasal dari kata عكف yang bermakna memenjarakan. Sedangkan menurut syari'at i'tikaf diam tertentu yang dilakukan orang tertentu di tempat tertentu dengan niat tertentu.

Nabi Muhammad sungguh sangat menganjurkan untuk melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw
اذا دخل العشر الاخير شد مئزره واحيا ليله و ايقظ اهله
"Apabila masuk sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan maka mengencangkan kainnya dan menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya (HR. Bukhori dan Muslim)

Lalu pertanyaannya mengapa sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan kita sangat dianjurkan untuk melakukan i'tikaf?

Pertama, Potensi untuk meraih Lailatul Qodar
Sepuluh hari terakhir merupakan waktu turunnya Lailatul Qodar, tepatnya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, hal ini telah diinformasikan oleh Rasulullah Saw melalui sabdanya:
تحرو ليلة القدر في الوتر، من العشر الاواخر من رمضان
"Carilah malam Lailatul Qodar pada malam yang ganjil dari sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan" (HR. Bukhori dan Muslim).

Karena waktunya dirahasiakan, maka kita tidak bisa berspekluasi dengan memilih malam yang ganjil untuk beribadah semaksimal mungkin. Lebih baik menghabiskan waktu di sepuluh hari terakhir dengan ibadah yang maksimal daripada harus kehilangan malam Lailatul Qodar yang mana lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan.

Kedua, malam yang diberkati
Di dalam Surat Adh-Dukhon ayat 3 Allah berfirman
انا انرلنه في ليلة مباركة
"Sesungguhnya kami menurunkan (AlQur'an) pada malam yang diberkahi".

Tentu kita tidak mau kehilangan kesempatan beribadah di malam yang diberkahi, jika malamnya saja sudah menjadi malam yang berkah, maka jika malam itu diisi dengan beribadah maka tentu akan mendatangkan keberkahan dan bisa jadi hal ini tidak akan terulang di tahun yang akan datang.

Ketiga, Malam Nuzulul Qur'an
Diantara sepuluh hari terakhir itu adalah malam diturunkannya AlQur'an secara keseluruhan dari Lauhil Mahfuzh ke langit dunia. Untuk mengambil keutamaan malam tersebut, maka sudah seharusnya meningkatkan intensitas ibadah kita, terutama membaca, memahami dan mengamalkan kandungan yang terdapat di dalam AlQur'an.

Demikianlah tulisan singkat ini, semoga di hari-hari terakhir ini kita tidak menyia-nyiakan nikmat kesempatan yang telah diberikan oleh Allah swt.

Fakta-fakta Seputar AlQur'an


Fakta-fakta Seputar AlQur'an

Nabi Muhammad Saw bersabda

انز القرآن جملة وحدة الى السماء الدنيا ليلة القدر ثم انزل بعد ذلك في عشرين سنة

"AlQur'an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qodar kemudian diturunkan setelah itu selama dua puluh tahunan" (HR. Ibnu Abbas)

Berdasarkan hadits di atas dapatlah diketahui bahwa AlQur'an itu diturunkan dalam dua periode.

PERIODE PERTAMA
👉 Waktu
- Pada periode pertama ini AlQur'an diturunkan pada Bulan Ramadhan, namun tidak diketahui tanggal dan tahun berapa diturunkannya AlQur'an, hanya Allah yang mengetahuinya.
- Turunnya tepat pada malam lailatul qodar.
- Turunnya tidak masa pada Rasulullah, akan tetapi AlQur'an telah turun dari Lauhil Mahfuzh ke langit dunia jauh sebelum masa Rasulullah.

👉 Turun Dari
AlQur'an turun secara keseluruhan dari Lauhil Mahfuzh ke langit dunia yaitu pada Bulan Ramadhan tepatnya pada malam Lailatul Qodar. Hal ini dijelaskan di dalam firman Allah Surat Al-Baqoroh ayat 185
شهر رمضان الذي انزل فيه القران
"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya AlQur'an"

Kemudian di dalam Surat Ad-Dukhan ayat 3
انا انزلناه في ليلة مبركة
"Sesungguhnya kami turunkan AlQur'an pada malam yang diberkahi"

Kemudian di dalam Surat Al-Qodr ayat 1
انا انزلناه في ليلة القدر
"Sesungguhnya kami menurunkan AlQur'an pada malam lailatul qodar"

PERIODE KEDUA

👉Turun dari
- Pada periode kedua ini AlQur'an diturunkan dari langit dunia ke permukaan bumi secara berangsur-angsur.

👉 Lamanya
- AlQur'an diturunkan selama kurang lebih 23 tahun. Surat yang pertama turun adalah Surat Al-Alaq dari ayat 1-5 tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan 610 Masehi yang lalu di saat usia Nabi Muhammad 40 Tahun.
Berdasarkan keterangan ini, maka memperingati Nuzulul Qur'an pada tanggal 17 Ramadhan sudahlah tepat, jika dilihat proses turunnya AlQur'an dari langit dunia ke permukaan bumi.

👉 Berakhirnya
- Ketika Nabi Muhammad pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun kesebelas Hijrahnya ke Madinah, maka seluruh rangkaian AlQur'an telah selesai diturunkan, yaitu dengan jumlah ayat 6.236 ayat 30 Juz dan 114 Surat. Adapun menurut beberapa pendapat mengatakan ayat terakhir yang diturunkan adalah Surat Al-Maidah ayat 3
اَلْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْـنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَا خْشَوْنِ ۗ اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِ سْلَا مَ دِيْنًا ۗ
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."

Walaupun menurut Dr. Manna Al-Qaththan dalam Mabahits Fii Ulumil Qur'an masih ada ayat-ayat lain yang turun setelah Surat Al-Maidah ayat 3 tersebut.

Sumber : Sejarah Al-Quran, Karangan Ahmad Sarwat

Allah Menghendaki Kemudahan Bukan Kesukaran


                     بسم الله الرحمن الرحيم

Di dalam Surat Al-Baqoroh disebagian ayat 185 Allah Swt berfirman
يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم الاسر
"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu"

Berdasarkan ayat yang terdapat di atas menjelaskan kepada kita bahwa pada hakikatnya Allah hanya selalu memberikan kemudahan dari setiap amal yang kita kerjakan, Allah tidak pernah mempersulitnya.

Sholat memang ibadah yang harus dikerjakan oleh setiap muslim dalam kondisi apa pun, tapi bukan berarti Allah mempersulit kita jika dalam keadaan sakit. Allah memberikan rukhshoh (keringanan), yaitu bagi yang tidak kuasa berdiri maka bisa duduk, tidak bisa duduk maka bisa berbaring, tidak bisa berbaring maka cukup dengan menggerakkan anggota badan yang bisa digerakkan, tidak bisa juga maka cukup dengan isyarat.

Begitu jugalah dengan puasa, bagi yang sakit boleh tidak berpuasa, jika ada harapan sembuh maka boleh di qodho di hari yang lain, jika sakitnya berkepanjangan boleh tidak puasa kemudian dia boleh membayat fidyah, begitu juga dengan ibu hamil dan menyusui, jika khawatir akan dirinya dan bayinya maka bisa tidak puasa, lalu di qodho pada hari yang lain, jika khawatir akan bayinya maka dia bisa membayar fidyah. Bagi yang musafir, boleh pilih, jika sanggup lanjutkan puasa, jika tidak silahkan tidak berpuasa dan di qodho di hari yang lain, tidak terkecuali yang haidh dan nifas, maka dia tidak boleh berpuasa dan di qodho pada hari lain.

Pada amal ibadah-ibadah yang lain juga ada kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh Allah, namun sayangnya tidak sedikit diantara kita yang diberikan Allah nikmat sehat, jasmani dan rohani namun tidak sanggup berpuasa pada bulan Ramadhan. Padahal di dalam hadits dikatakan

من صام رمضان ايمانا وحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar iman dan hanya mengharapkan ridho dari Allah Swt maka diampuni segala dosanya yang telah lalu" {HR. Bukhori dan Muslim}

Dalam hadits yang lain dikatakan

ورمضان الى رمضان مكفرات ما بينهن اذا اجتنب الكبائر
"Dan dari Ramadhan hingga ke Ramadhan adalah penghapus dosa diantara mereka selama menjauhi dosa besar" {HR. Muslim}

Hadits di atas menerangkan kepada kita, bahwasanya berpuasa itu dapat menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa yang telah kita lakukan di dunia ini, namun sayangnya tidak sedikit diantara kita yang menyepelekan ibadah yang hanya bisa ditemui setahun dalam sekali.

والله اعلم بالصواب 

Jaga Pahala Puasamu


بسم الله الرحمن الرحيم 

Di dalam Kitab Irsyadul diceritakan bahwasanya di masa Rasulullah Saw ada dua orang wanita yang sedang berpuasa, lalu pada sore hari kedua wanita ini sungguh merasa berat untuk melanjutkan ibadah puasanya, lalu mereka mengutus seseorang untuk menjumpai Rasulullah Saw, apakah mereka diperbolehkan untuk membatalkan puasanya, maka Rasulullah memberikan dua gelas kepada orang yang mereka utus dan menyuruh kepada kedua wanita tersebut untuk memuntahkan apa yang mereka makan di dalam gelas tersebut. Maka keduanya pun muntah di dalam gelas tersebut, maka kedua wanita tersebut memuntahkan darah dan daging hingga gelas itu pun penuh, maka orang-orang merasa heran kenapa bisa terjadi seperti itu, kemudian Rasulullah Saw pun bersabda
"Keduanya puasa di hari yang dihalalkan Allah, dan mereka makan dari apa yang diharamkan Allah, sebab yang satu pergi pada yang lain untuk duduk bersama lalu menghibah orang lain, maka itulaj bukti bahwasanya mereka memakan daging saudaranya sendiri"

Melalui kisah di atas, maka dapatlah kita ambil beberapa pelajaran
Pertama, ketika kita menjalankan ibadah puasa maka janganlah hanya kuat menahan diri dari haus dan lapar, tetapi kita juga harus mampu menahan diri dari dari hal-hal yang merusak pahala puasa yang kita kerjakan, yaitu dengan tidak berkata kotor, tidak memfitnah orang, tidak menghibah dan mengeluarkan kata-kata keji. Ingat sabda Rasulullah Saw

رب صائم ليس له من صيامه الا الجوع
"Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar" (HR. Ahmad). 

Kedua, janganlah kita menghibah Orang lain walaupun itu benar, karena sesungguhnya orang yang menghibah orang lain itu sama dengan memakan daging saudaranya sendiri. Apalagi di bulan suci Ramadhan, sudah seharusnya kita melatih diri untuk menjadi orang yang menuju kepada ketaqwaan. 

Keutamaan Bulan Ramadhan


Keutamaan Bulan Ramadhan

Di dalam Kitab Tanbihul Ghofilin dikatakan bahwasnya setiap malam Ramadhan Allah berseru hingga tiga kali, "Orang yang berdoa pasti dikabulkan, orang yang bertaubat pasti di terima, yang memohon ampun akan dosanya pasti akan diampuni dosanya"

Berdasarkan hadits Nabi Muhammad Saw yang berasal dari Ibnu Abbas ra di atas ada beberapa keutamaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan
Pertama, orang yang berdoa pasti akan dikabulkan.
Siapa-siapa saja orang yang berdoa kepada Allah swt pada bulan Ramadhan, Allah akan mengabulkannya. Hal ini sejalan dengan ayat 186, yang mana kelanjutan dari ayat 183-185 yang membahas hal seputar puasa di bulan Ramadhan, maka di ayat 186 Allah berfirman
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran."

Ayat ini menjelaskan bahwasanya Allah itu dekat dengan kita, maka jika berdoa kepada Allah, maka Allah akan mendengarkannya dan Allah akan mengabulkannya, namun syarat dan ketentuan pasti berlaku, yaitu hendaklah kita memenuhi perintah Allah dan senantiasa beriman kepadaNya, agar kita memperoleh kebenaran. Jika kita melanggar syarat dan ketentuan tersebut, maka kebenaran jauh dari kita, jadi jika Allah belum mendengarkan doa-doa kita itu tentulah hal yang wajar, karena Allah tidaklah mungkin mendengarkan doa orang-orang yang berada dalam kesesatan.

Mumpung kita berada di bulan Ramadhan, maka sudah seharusnya kita memperbanyak doa kepada Allah, karena doa di bulan Ramadhan sangatlah mustajab. Namun perlu juga kita ketahui, ada beberapa waktu yang baik untuk memanjatkan doa kepada Allah, adapun waktu-waktu yang baik itu diantaranya adalah :
1. Di waktu sahur
“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” {HR. Bukhori dan Muslim}

Waktu sahur itu adalah waktu Allah turun, yaitu sepertiga malan terakhir, maka sudah seharusnya sebelum sahur kita sempatkan diri untuk sholat tahajjud, sempatkan diri untuk berdzikir kepada Allah, sempatkan diri untuk berdoa kepada Allah, mintalah kepada Allah, terutama umur yang panjang dan senantiasa berada dalam ketaatan, mintalah ampun atas segala dosa-dosa yang telah kita perbuat dan mintalah segala hajat kita kepada Allah swt.

2. Saat berpuasa
Nabi Muhammad Saw bersabda :
ثلاثةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad)

Salah satu dari tiga orang yang doanya tidak tertolak dari hadits di atas adalah orang yang sedang berpuasa. Pada hakikatnya orang yang benar-benar berpuasa itu adalah orang yang beriman. Orang-orang yang beriman tentu sedang berada dalam ketaqwaan, inilah hal yang menyebabkan doanya orang yang berpuasa tidaklah tertolak.

3. Saat berbuka puasa
Nabi Muhammad saw bersabda

ثلاثة لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” {HR. Tirmidzi}

Sebagaimana hadits di atas, ada tiga golongan juga yang doanya tidak akan tertolak, salah satunya ialah orang yang berpuasa ketika dia berbuka. Orang yang hendak berbuka puasa doanya tidaklah tertolak, hal ini disebabkan dia telah menyelesaikan kewajibannya dan telah tunduk dan patuh atas perintah Allah swt.

Kedua, siapa yang bertaubat pasti akan di terima
Keutamaan berikutnya dari Bulan Ramadhan ialah Bulan Ramadhan dikenal dengan bulan maghfiroh atau bulan yang penuh dengan ampunan. Maka barangsiapa yang bertaubat di bulan ini dengan sebenarnya taubat maka Allah pasti menerimanya. Jika ibadah sunnah dihitung dengan pahala wajib, segala kebaikan pahalanya dilipat gandakan, maka tidaklah mungkin kesungguhan ingin bertaubat diabaikan. Allah swt berfirman di dalam Surat Ali-Imran ayat 133

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ ۙ 

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,"

Ini adalah perintah Allah kepada para hambaNya, jika kita bersalah dan merasa banyak dosa maka segeralah mencari ampunan dari Tuhannya, tidak untuk dilama-lamakan, karena ajal manusia tidak ada yang tahu kapan tibanya. Apalagi ketika kita berada di bulan Ramadhan bulan yang suci, maka sudah seharusnya kita senantiasa dalam keadaan yang suci yaitu raih keutamaannya dengan segera bertaubat kepada Allah Swt. 
Namun yang perlu diketahui, jika ingin bertaubat dari segala kesalahan dan khilaf maka bertaubatlah dengan sebenar-benarnya taubat yaitu dengan taubatan nasuha, sebagaimana firman Allah
يايها الذين آمنوا توبوا الى الله توبة النصوحا
"Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubatan nasuha" 

Bertaubat kepada Allah juga jalan agar kita bisa menjadi hamba yang dicintai oleh Allah, karena Allah mencintai orang-orang yang bertaubat sebagaimana firman Allah Swt
ان لله يحب التوابين ويحب المتطهرين
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci" 

Ketiga, siapa yang minta ampun maka akan diampunkan

Manfaatkanlah moment bulan Ramadhan ini untuk meraih ampunan Allah, karena jika di bulan-bulan lain saja Allah itu Maha Pengampun, maka Allah pastilah lebih Maha Pengampun di bulan Ramadhan ini, karena bulan Ramadhan adalah bulan yang suci. Kita ketahui bersama bahwasanya Nabi Muhammad Saw pernah bersabda
"Antara Jum'at satu dengan Jum'at berikutnya adalah penghapus dosa dalam satu minggu dan antara satu Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa dalam satu tahun itu".

Allah Maha Mengetahui kalau yang manusia itu tidak akan luput dari yang namanya dosa, maka dari itu Allah telah memfasilitasi bagi hambaNya satu bulan yang mana pada bulan itu kita benar-benar mohon ampun maka Allah pasti akan menerima ampunan kita. 

Makna yang Terkandung dalam Surat Al-Baqoroh ayat 183


Allah Swt berfirman
يايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون
"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"

Berdasarkan ayat di atas, ada tiga makna yang terkandung didalamnya yang harus diketahui oleh seorang muslim. Adapun makna yang terkandung itu diantaranya adalah

Pertama, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman

Ayat ini diawali dengan kalimat 
يايها الذين آمنوا
"Hai orang-orang yang beriman"
Berdasarkan arti yang terdapat di atas maka Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman saja untuk melaksanakan ibadah puasa. Mengapa Allah tidak mengatakan 'Yaa Ayyuhannas yang artinya "Hai manusia" atau panggilan lain? Allah hanya memanggil orang yang beriman karena hanya orang-orang yang berimanlah yang mampu menjalankan ibadah puasa, mengapa demikian? Karena iman itu artinya percaya. Jika orang yang beriman menjalankan ibadah puasa, maka sesungguhnya ia percaya atas semua yang diperintahkan Allah, ia percaya Allah itu Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha segala-galanya. Jika ia beriman, walaupun makanan dan minuman itu halal, namun diharamkan untuk memakannya jika dalam keadaan puasa wajib, maka ia tidak akan memakan dan meminumnya, walaupun jika ia mampu untuk memakan dan meminumnya, tanpa diketahui oleh orang lain, namun ia tidak akan makan dan minum karena ia percaya Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Inilah mengapa, Allah hanya memanggil orang yang beriman, bukan memanggil kepada yang lain. Harus juga kita sadari, lawan kata dari iman adalah kufur. Maka jika ada orang islam yang tidak berpuasa di Bulan Ramadhan, maka sesungguhnya tidak ada iman di dalam dirinya, dan dia termasuk golongan orang yang kufur akan Allah swt.

Kedua, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu

Sesungguhnya puasa itu bukan hanya diwajibkan atas umat Nabi Muhammad saja, umat-umat terdahulu juga telah diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa, walaupun dengan ketentuan berbeda. Mengapa Allah memberikan perbandingan ini?
Pertama, syariat puasa ini telah ada sebagaimana yang telah diamalkan oleh orang-orang sebelum umat Nabi Muhammad, bukan hanya umat Nabi Muhammad saja yang menjalankan ibadah ini, maka tidak ada alasan untuk mengeluh sehingga menolak untuk menjalankan kewajiban ini.
Kedua, Allah ingin memberitahukan kepada umat Nabi Muhammad bahwasanya puasa yang kita jalankan itu lebih ringan dibandingkan dengan orang-orang sebelum kita, jika kita puasa hanya menahan haus, lapar dan hanya menahan indera kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat, maka sungguhlah beda dengan puasa orang-orang sebelum kita, selain puasa akan makan dan minum, mereka juga berpuasa untuk tidak berbicara, walaupun itu kata-kata yang baik. Hal ini dijelaskan di dalam Suroh Maryam ayat 26
اني نذرت للرحمن صوما فلن اكلم اليوم انسيا
"Sesungguhnya aku telah bernadzar  berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini"

Jika puasa orang-orang sebelum kita begitu beratnya, baik dari segi waktu maupun tata cara berpuasa, maka tidak ada alasan bagi umat Nabi Muhammad mengatakan puasa Ramadhan itu berat, karena puasa orang-orang sebelum kita itu lebih berat dibandingkan puasa yang kita jalankan.

Ketiga, agar kamu bertaqwa

Seseorang yang benar-benar menjalankan ibadah puasa dan hanya karena Allah, maka sesungguhnya dia akan memperoleh gelar taqwa. Lalu apa yang dimaksud dengan taqwa. Taqwa adalah
الخوف من الجليل
"Hanya takut kepada Allah"
Mereka yang berpuasa sesungguhnya dia akan menjadikan dirinya takut kepada Allah, takut dalam hal mengerjakan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Melalui ibadah puasa dirinya telah dibimbing kepada keimanan yang kuat, sehingga rasa takut itu akan selalu melekat didalam dirinya, karena dia percaya Allah selalu mengawasi setiap hamba-hamba-Nya. Itulah sebenarnya tujuan dari puasa, menciptakan rasa takut atau menciptakan rasa taqwa di dalam diri setiap orang-orang yang beriman.

Keutamaan Mengawali Sesuatu dengan Kalimat Bismillah


KEUTAMAAN MENGAWALI SESUATU DENGAN KALIMAT BISMILLAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Mereka yang mengetahui sunnah Nabi dan ingin memulai suatu yang baik pasti di awali dengan mengucapkan bismillah. Mengapa demikian?

Pertama karena mengikuti susunan AlQur'an yaitu dimulai dengan kalimat Bismillah.

Kedua karena mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw, sebagaimana sabdanya

كل امر ذي بال لايبدأ فيه بسم الله الرحمن الرحيم فهو ابتر

"Setiap perkara yang tidak diawali dengan "Bismillahir rohmanir rohiim" maka dia terputus"

Segala sesuatu perkara yang terpuji secara zhohirnya maka jika tidak dimulai dengan mengucapkan kalimat Bismillah maka akan terputus keberkahannya. Namun perlu juga diketahui bahwasanya ada hal yang terpuji secara batin akan tetapi secara zhohirnya tidak terpuji, misalnya buang air, orang buang air itu terpuji, jika orang tidak buang air maka bisa menyebabkan sakit, maka perkara yang seperti ini tidaklah boleh mengucapkan kalimat Bismillah.

Ketiga karena mengambil keberkahan dari kalimat Bismillah.

Berkah tidaklah menambah jumlah, akan tetapi berkah ialah menambah nilai-nilai kebaikan. Maka jika seseorang melakukan sesuatu yang baik, maka jika diawali dengan kalimat Bismillah, maka akan menambah nilai kebaikan dari yang hal yang dilakukannya tersebut.

Keempat, menunjukkan rasa ketergantungannya kepada Allah

Mereka yang memulai suatu hal yang baik lagi terpuji mengawalinya dengan kalimat Bismillah, maka sesungguhnya mereka sedang mengharapkan kesempurnaan dari Allah atas sesuatu hal yang dilakukannya.

بسم الله (dengan nama Allah) 
dengan nama Allah dia mengerjakan atau melakukan sesuatu, maka dia melibatkan Allah dalam urusannya yang sifatnya terpuji.

الرحمن (yang Maha Pengasih)
Kasih sayang Allah kepada hambanya di dunia, baik itu hamba yang taat kepada Allah maupun hamba yang maksiat kepada Allah.

الرحيم (yang Maha Penyayang)
Kasih sayang Allah yang diberikan Allah kepada hambaNya yang ahli iman, nanti ketika berada disurganya Allah. Maka Ar Rohiim tidak diberikan Allah kepada orang-orang kafir dan yang bermaksiat kepada Allah.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka barangsiapa melakukan hal-hal yang terpuji, kemudian dia mengawalinya dengan kalimat Bismillah, maka sesungguhnya dia sedang menunjukkan rasa kelemahannya dihadapan Allah, kemudian mengharapkan kasih sayang Allah di dunia maupun di akhirat kelak.

Wallohu a'lam bisshowab

Ujian atau Teguran

Ujian atau Teguran

Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 286

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها 

"Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya"

Di dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3 Allah juga berfirman

اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ (٢) وَلَقَدْ فَتَـنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَـعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ٣

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."

Banjir, seakan sudah menjadi rutinitas tahunan di beberapa kota besar yang ada di Indonesia. Bagi mereka yang tidak beriman kepada Allah maka mereka akan mengatakan bahwa musibah yang sedang melanda mereka adalah karena sebab itu atau sebab ini. Ingat, perlu kita ketahui bagi kita yang beriman kepada Allah bahwasanya dibalik semua bencana itu ada pesan-pesan Allah. Diantara pesan-pesan itu, mungkin ada pesan bahwasanya kita sedang diuji oleh Allah atau mungkin Allah sedang berpesan kita sedang ditegur oleh Allah.

Pertama, jika bencana itu karena ujian dari Allah Swt kepada orang-orang yang beriman maka sudah tentu kita harus bersabar. Jika kita bersabar maka sesungguhnya Allah sedang bersama kita, sebagaimana firman Allah di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 153
ان الله مع الصابرين
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar"

Harus kita tanamkan di dalam hati, bahwasanya jika Allah menurunkan ujian tentu tidak sembarangan, Allah pasti menurunkan ujian pasti sesuai dengan kadar kemampuan yang akan dikenakan ujian, hal ini telah dijelaskan di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 286 sebagaimana yang terdapat di atas. Tidaklah mungki Allah membebani seseorang itu karena orang tersebut sanggup melalui, itupun jika dia mengembalikannya kepada Allah, jika tidak tentu dia tidak akan mampu melalui ujian tersebut. Ujian yang diberikan Allah sesungguhnya Allah sedang ingin menyeleksi hamba-hambaNya dan siapa yang tidak. Allah tidak ingin iman yang diakui seseorang hanya sebatas lisan, tetapi Allah mengharapkan agar semua jiwa dan raganya diserahkan kepada Allah jika ujian itu datang.

Kedua, jika musibah itu sebagai teguran maka kita harus sama-sama mengintrsopeksi diri kita, apa yang telah kita perbuat sehingga Allah menegur kita melalui bala tentaraNya, yaitu angin, air, hujan dan lain sebagainya. Mungkin saja Allah menurunkan bencana itu karena kita telah merusak alam ini atau bisa jadi karena kemaksiatan yang begitu merajalela. Coba perhatikan dua ayat di bawah ini bagaimana Allah telah mewanti-wanti kita agar tidak salah dalam berbuat dan melangkah. 
Di dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 Allah menerangkan bahwasanya ujian itu karena ulah tangan manusia. 

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Kemudian di dalam Surat Al-A'raf ayat 96 Allah menegaskan jika kita beriman dan bertaqwa tentu Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi. 

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."

Maka sudah seharusnya kita saling mengintrospeksi diri ketika bencana dan musibah itu datang, bukan menyalahkan satu sama lain, bisa jadi musibah dan bencana itu datang karena ulah kita sendiri, saling menyalahkan satu sama lain bukanlah ciri-ciri orang yang beriman.

Wallohu a'lam bisshowab

Mari Berdoa

Dalam sehari semalam, minimal 10 kali kita membaca Surat Al Fatihah yang di dalamnya ada ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” yang artinya “hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.”

Berbeda dengan manusia yang tidak suka jika orang lain sering meminta kepadanya, Allah sangat suka pada hamba yang banyak memanjatkan doa kepada-Nya.

Karena itu, perbanyaklah berdoa kepada Allah. Terlebih, doa memiliki banyak keutamaan yang luar biasa. Mulai dari pengabulan hingga bisa mengubah qadha’. Berikut ini lima keutamaan doa yang luar biasa.

1. Doa adalah perintah Allah


Doa adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dan menjamin akan mengabulkannya. Sedangkan hamba yang tidak mau berdoa, ia termasuk orang yang sombong dan diancam dengan neraka.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al Mu’min: 60)

2. Allah mengabulkan doa hambaNya


Allah menjamin mengabulkan doa hamba yang berdoa kepada-Nya. Asalkan syarat-syaratnya terpenuhi dan tidak melakukan hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa, semisal makan barang haram.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu (QS. Al Baqarah: 186)

3. Doa adalah ibadah


Doa adalah ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Maka berdoa, juga diganjar oleh Allah dengan pahala. Alangkah beruntungya orang yang banyak berdoa, ia mendapat pahala sekaligus mendapat pengabulan doa.
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

Doa itu adalah ibadah (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Dalam kitab Tazkiyatun Nafs, Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dua kandungan surat Al Baqarah ayat 186 terkait doa. Pertama, Allah memberi apa yang diminta oleh hambaNya dalam doa. Kedua, Allah memberi pahala atas doa dan ibadah hambaNya.

4. Allah memuliakan doa


Allah sangat memuliakan doa melebihi apa pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ شَىْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

Tidak ada sesuatu yang lebih dimuliakan Allah Ta’ala daripada doa (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

5. Doa bisa mengubah qadha’


Doa bisa mengubah takdir ketentuan Allah (qadha’) sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيدُ فِى الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ

Tidak ada yang bisa menolak qadha kecuali doa dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali perbuatan baik (HR. Tirmidzi)

Kapan doa paling mustajabah?


Ada waktu-waktu mustajabah, di mana berdoa pada saat itu lebih dikabulkan Allah daripada berdoa di waktu lainnya. Dua di antara waktu mustajabah itu adalah di akhir malam dan setelah sholat lima waktu.

Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ قَالَ جَوْفُ اللَّيْلِ الآخِرُ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ

“Ya Rasulullah, doa manakah yang didengar Allah?” Beliau menjawab, “(Doa pada) akhir malam dan setelah sholat maktubah (sholat wajib)” (HR. Tirmidzi; hasan)

Hadits ini dicantumkan Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar pada bab Dzikir-Dzikir Setelah Sholat.
Sumber : http://www.tarbawia.com/2017/09/keutamaan-doa.html 




Haji Wajib Bagi Yang Mampu

Ditulis oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I

Melaksanakan ibadah haji ke tanah suci hukumnya adalah wajib bagi yang mampu, karena haji merupaka rukun Islam, belum lengkap Islam seseorang jika dia belum mengerjakan ibadah haji padahal dia mampu, Allah berfirman

ولله على الناس حج البيت من استطاع اليه سبيلا ومن كفر فان الله غني عن العالمين
"
Manusia mempunyai kewajiban kepada Allah, yaitu menunaikan ibadah haji bagi yang mampu menjalankannya.Dan barangsiapa yang ingkar maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan tidak butuh kepada seluruh makhlukNya
"
Maka dari itu jangan menunda-nunda keberangkatan ibadah haji jika kita telah mampu Nabi Muhammad Saw bersabda

من اراد الحج فليتعجل فانه قد يمرض المريض وتضل الضالة وتعرض الحاجة
Barangsiapa yang ingin berhaji, maka bersegeralah, karena bisa saja dia sakit, usahanya bangkrut, atau ada keperluan lain.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah Saw juga memberi pilihan bagi mereka yang tidak menyegerakan menunaikan ibadah haji padahal dia mampu, sebagaimana sabda Rasulullah Saw

(من مات ولم يحج فليمت إن شاء يهوديا وإن شاء نصرانيا)
Barangsiapa yang mati dan belum sempat berhaji sedangkan dia mampu, maka hendaklah dia mati dalam keadaan memeluk agama Yahudi atau Nasrani.” (HR. Baihaqi)

Maka dari itu, jika kita sudah mampu untuk menunaikan ibadah haji maka jangan pernah untuk berfikir menunda-nunda menunaikannya
ولله اعلم بصواب

Berniaga Dengan Allah


ان الذين يتلون كتب الله واقاموا الصلاة وانفقو مما رزقنهم سرا و علا نية يرجون تجرة لن تبور
"Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah (AlQur'an) dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi" (QS. Fathir: 29)
Jika bicara tentang perniagaan, pasti setiap orang akan memperhitungkan untung dan rugi agar perniagaannya tetap berkembang dari waktu ke waktu, tidak ada seorang pun yang mengharapkan kerugian dalam perniagaannya, tidak terkecuali dengan orang yang beriman, bedanya bila perniagaan orang-orang yang beriman tidak akan pernah mengalami kerugian tetapi dengan syarat yaitu hanya berniaga dengan Allah Swt. Jika berniaga dengan Allah Swt maka tidak ada kata rugi, yang ada hanya keuntungan, baik itu keuntungan di dunia maupun di akhirat.
Berniaga tentu harus memiliki modal, jika berniaga dengan manusia tentu modal berupa uang, namun berniaga dengan Allah modalnya bukanlah itu akan tetapi dalam bentuk yang lain. Adapun modal yang diperlukan untuk berniaga dengan Allah adalah sebagai berikut:

1. Membaca AlQur'an
    Modal pertama jika ingin berniaga dengan Allah adalah selalu membaca AlQur'an. Apa kerugian yang kita dapat jika membaca AlQur'an? Sesungguhnya tidak ada kerugian yang kita peroleh, malah selalu keuntungan yangakan diperoleh. Nabi Muhammad Saw bersabda:
من قرا حرف من كتب الله فله به حسنة والحسنة بعشر امثالها لا اقول الم حرف ولكن الف حرف و لام حرف وميم حرف
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari AlQur'an maka satu kebaikan baginya dan satu kebaikan dilipatkan gandakan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya. Aku tidak mengatakan aliif laam miim satu huruf akan tetapi alif satu huruf dan laam satu huruf dan mim satu huruf (HR. Tirmidzi)
    Hadits yang disampaikan di atas merupakan salah satu dari sekian banyak keuntungan yang kita peroleh jika berniaga dengan Allah dengan bermodalkan membaca AlQur'an. Masih banyak lagi keuntungan - keuntungan yang akan diperoleh dari membaca AlQur'an, ini masih dalam hal membaca, belum lagi mempelajari dan mengamalkannya. 

2. Mendirikan Sholat
    Modal yang kedua adalah mendirikan sholat wajib 5 waktu sehari semalam, dengan mengerjakan sholat tentu keuntungan akan terus kita peroleh dan tidak ada kerugian yang akan diperoleh dari mengerjakan sholat. Allah Swt berfirman:
ان الصلاة تنها عن الفحشاء والمنكر
"Sesungguhnya sholat itu mah mencegah kamu dari perbuatan keji dan mungkar"
   Seseorang yang benar-benar sholat, benar-benar menyerahkan dirinya kepada Allah maka dia akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, jika terhindar dari perbuatan itu maka siapa yang untung, maka kita sendirilah yang untung dan tidak rugi. 

3. Bersedekah
    Modal yang ketiga adalah mereka menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan kepada orang-orang yang layak untuk diberikan, tidak pernah bersedekah itu akan membuat harta dan kekayaan kita itu semakin berkurang, malah akan semakin bertambah dan terus bertambah, jika sudah seperti itu siapa yang untung, tentu kita sendiri.
    Bersedekah boleh secara terang-terangan namun dengan syarat harus dilandasi dengan rasa keikhlasan, jangan dibarengi dengan rasa, namun alangkah lebih baiknya jika bersedekah secara diam-diam, agar aman dari rasa yang akan membawa kita ke dalam jurang ria yang mampu merusak amalan yang kita perbuat.
Allahu a'lamu bisshowab
Ditulis Oleh: Muhammad Syukri Hsb, S. Sos. I

RASULULLAH BERNIAGA

3 Pesan Nabi

Nabi Muhammad Saw pernah berpesan kepada sahabat beliau yaitu Abu Dzar dan Abu Abdurrahman
اتق الله حيثما كنت، واتبع السيىة تمحها وخالق الناس بخلق حسن
"Bertaqwalah kamu dimana saja, dan ikutilah kesalahanmu dengan kebaikan, niscaya ia dapat menghapuskannya, dan bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik"
Pesan Pertama
Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwasanya keadaan taqwa setiap muslim harus tetap terjaga dimana saja dan kapan saja, jangan pernah beralih walau hanya sedikit saja. Bahkan Allah memerintahkan kepada setiap orang yang beriman jangan pernah mati kecuali dalam keadaan muslim, itu artinya ketaqwaan harus tetap terjaga.
Sahabat Rasul pernah menerangkan bahwasanya taqwa itu bagaikan kita melalui suatu jalan yang banyak durinya, tentu orang yang melalui jalan tersebut akan selalu berhati-hati agar tidak terinjak duri. Begitulah taqwa, kita harus senantiasa takut kepada Allah, kita harus senantiasa merasa di awasi Allah agar tidak mengerjakan apa yang dilarang oleh Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah.
Pesan Kedua
Kemudian Nabi juga berpesan agar selalu mengikuti kesalahan yang diperbuat dengan kebaikan, artinya jika kita melakukan kesalahan maka segeralah melakukan kebaikan agar kesalahan itu dihapus oleh kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana api dipadamkan oleg air".
Pesan Ketiga
Bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik, karena akhlak yang baik itu akan mengantarkan kepada kebaikan. Umat Islam memiliki suri tauladannya yaitu Nabi Muhammad Saw, Allah telah berfirman
وانك لعلى خلق عظيم
"Sesungguhnya di dalam diri engkau (Muhammad) terdapat akhlak yang agung"
Sebagaimana kisah seorang buta yang beragama Yahudi yang sangat membenci Rasulullah Saw, setiap hari laki-laki buta ini selalu mencaci beliau, akan tetapi Rasulullah Saw selalu membawa makanan terhadap si buta dan menyuapinya. Kemudian setelah Rasulullah Saw meninggal dunia, maka Abu Bakar ra bertanya kepada Aisyah ra, "Apakah ada lagi kebiasaan Rasulullah Saw yang belum dia laksanakan"?
Maka Aisyah ra pun menjawab, "Masih ada kebiasaan Rasulullah yang belum dikerjakan, yaitu memberi makanan kepada pengemis buta yang ada di pasar"
Maka setelah Aisyah ra memberitahukan kebiasaan Rasulullah Saw yang belum dilaksanakannya, Abu Bakar pun segera membawa makanan dan pergi menjumpai pengemis buta tersebut.
Ketika Abu Bakar ra memberi makanan kepada pengemis buta itu, dia bertanya, "Siapakah kamu? Kamu bukanlah orang yang biasa memberi makanan kepadaku, orang yang biasa itu kulitnya halus" tanya pengemis buta kepada Abu Bakar ra sembari meraba tangan beliau
Kemudian Abu Bakar menjelaskan kepada pengemis buta itu, "Itu adalah Rasulullah Saw, beliau telah meninggal dunia".
Sontak pengemis buta itu terkejut dan menangis, karena selama ini dia tidak tahu bahwasanya orang yang selama ini sering dicacinya itulah yang selalu memberi makanan kepadanya, dia sungguh menyesal, dan si pengemis buta itu pun langsung bersyahadat dan masuk Islam. 

Mari terus berdoa

 Ditulis : Muhammad Syukri Hsb, S.Sos.i


Manusia adalah makhluk yang dhoif, tiada daya upaya yang bisa dilakukan selain kekuatan dari Allah Swt, sebagaimana firman Allah di dalam AlQuran
لا حول ولا قوة الا بالله
"Tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dari Allah"
Karena posisi manusia sebagai makhluk adalah makhluk yang lemah maka sudah seharusnya manusia selalu menyandarkan hidupnya kepada Allah dan selalu memohon hanya kepada Allah.
Adapun cara meminta atau memohon kepada Allah Swt ialah melalui doa.
Hidup tanpa doa bagaikan makan nasi tanpa garam, hambar terasa. Berdoa kepada Allah tidaklah hanya dalam keadaan susah, akan tetapi dalam keadaan apa saja. Namun, kebanyakan dari kita berdoa kepada hanya dikala sedang susah, ketika kesenangan itu telah datang maka semua seakan dilupakan.
Jika berbicara tentang doa, maka banyak keutamaan dari doa yang dapat kita peroleh diantaranya adalah:

1.  Doa adalah ibadah
     Berdoa kepada Allah merupakan salah satu bentuk ibadah dan kita semua tahu bahwasanya semua amal ibadah yang kita kerjakan ganjarannya ialah pahala, bahkan jika Allah meridhoi doa kita akan diijibah oleh Allah Swt.
Nabi Muhammad Saw bersabda
الدعاءهو لعبادة قالربكم ادعوني استجب لكم
"Doa itu adalah ibadah,  Allah berfirman: berdoa lah kepadaku maka doa kamu akan Ku kabulkan (QS Al-Mu'min:60)" (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Dengan berdoa kepada Allah berarti kita telah beribadah kepada Allah. Ibadah menurut istilah artinya adalah menunjukkan bahwasanya manusia adalah makhluk yang dhoif di sisi Allah maka dari itu hanya Allah lah yang pantas untuk disembah. Selain itu ibadah juga berarti kita hanya tunduk dan patuh kepada Allah Swt yaitu dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan larangan-Nya.
Di dalam AlQuran Suroh Adz-Zariyat ayat 56 Allah juga telah berfirman bahwasanya manusia dan jin diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada Allah

Suri Tauladan Rasulullah Saw

Puji dan syukur kehadirat Allah Swt atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk senantiasa mensyukuri semua nikmat yang telah dikaruniakan dan tidak seharusnya manusia untuk menghitung-hitung nikmat Allah karena tidak ada seorang pun manusia yang mampu untuk menghitung nikmat yang telah diberikan Allah, sebagaimana firman Allah di dalam al-Qur'an Suroh an-Nahl ayat 18
وان تعدوا نعمة الله لا تحصها
"Dan janganlah sekali-kali nikmat Allah, sesungguhnya kalian tidak akan mampu untuk menghitungnya"
Ayat ini seharusnya menjadi perhatian bersama bahwasanya selalulah bersyukur dan jangan pernah kufur, karena semua yang diperoleh di dunia ini adalah nikmat dari Allah Swt.
Sholawat berangkaikan salam kepada Nabi besar Muhammad Saw yang telah menyampaikan risalahnya kepada ummatnya sehingga Islam dapat menjadi agama yang besar sekaligus agama yang diridhoi oleh Allah Swt. Jika berbicara mengenai shalawat maka cukup banyak kemuliaan yang diperoleh orang-orang yang bershalawat. Adapun keutamaan yang dapat diperoleh orang-orang yang bershalawat diantaranya adalah:
Pertama, Orang yang paling dekat dengan Nabi Muhammad Saw
Di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi "Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku" (HR. Tirmidzi)
Kedua, orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw maka akan mendapatkan 10 shalawat dari Allah Swt dan mendapatkan 10 kebaikan (HR. Tirmidzi)

Cara Bersyukur Kepada Allah Swt

Ada sebuah sifat yang mulia, sifat tersebut mudah untuk diucapkan namun sulit untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sifat tersebut ialah pandai bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. Sebelum melangkah lebih jauh membahas mengenai cara bersyukur kepada Allah Swt maka harus mengetahui pengertian syukur itu sendiri terlebih dahulu.

Syukur berasal dari Bahasa Arab yaitu berasal dari kata syakara-yaskuru-syukran yang berarti berterima kasih kepadaNya. Sedangkan menurut istilah syukur ialah ucapan terima kasih atas semua kenikmatan yang diperoleh kepada sang pemberi nikmat yaitu Allah Swt.

Raghib Isfahani, dalam buku agungnya yang dikenal dengan nama al-Mufradat mengatakan syukur berarti sebuah kondisi batin yang selalu mengingat Allah dan memberikan perhatian kepada berbagai nikmat Ilahi dengan memahami sumber datangnya nikmat itu dan bagaimana menggunakannya.Sedangkan Imam an-Nawawi mengatakan esensi syukur adalah pengakuan atas keni'matan yang diberikan oleh Sang Maha Pemurah disertai sikap mengagungkanNya

Manusia yang bersyukur kepada Allah Swt akan secara otomatis semakin tunduk dan patuh kepada semua yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala yang telah dilarang oleh Allah Swt. Mengapa sikap manusia tersebut harus seperti itu? Hal itu disebabkan karena orang yang bersyukur itu mengetahui dari mana sumber rezeki itu datang, misalnya ada seseorang yang mau menolong seseorang baik dari segi materi maupun non-materi, maka secara otomotis orang tersebut akan bersikap lemah lembut dan baik terhadap orang yang mau menolong tersebut, hal itu akan terjadi secara otomatis. Namun jika bertolak belakang dari yang seharusnya itulah yang dikatakan dengan orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah