Mengapa Allah Hanya Memanggil Orang-orang yang Beriman Untuk Menjalankan Ibadah Puasa?

Dalil Perintah Puasa di Bulan Ramadhan 

Perintah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan terdapat di dalam AlQur'an Surat Al-Baqoroh ayat 183 

يايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" 

Perhatikan pada ayat tersebut, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman saja, lalu pertanyaannya mengapa Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman saja? 

Mari temukan jawabannya dalam link video yang terdapat di bawah 👇

Semoga bermanfaat!! 

Allah Hanya Memanggil Orang-orang yang Beriman Untuk Menjalankan Ibadah Puasa

3 Keistimewaan yang Diturunkan Allah di Dalam Bulan Sya'ban


Keistimewaan yang Diturunkan Allah di Dalam Bulan Sya'ban

Oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I

Di dalam Kitab Al-Fadhoil dijelaskan bahwa Sya'ban itu berasal dari kata "Tasya'ub" yang berarti bercabang-cabang. Pengertian ini sesuai dengan banyaknya cabang-cabang kebaikan dan keistimewaan yang terdapat di dalam bulan Sya'ban. Sehingga di dalam hadits dikatakan, "Keutamaan bulan Sya'ban itu dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya adalah seperti keutamaanku dibandingkan dengan Nabi-Nabi yang lain". Adapun cabang-cabang kebaikan yang bisa diamalkan oleh umat Islam di dalam Bulan Sya'ban ialah berpuasa sunnah khususnya puasa Nisyfu Sya'ban, mengisi malam Nisyfu Sya'ban dan memperbanyak sholat sunnah.

Selain banyaknya cabang-cabang kebaikan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban, maka Allah juga menurunkan keistimewaan di dalam Bulan Sya'ban. Jika bulan Rojab menjadi istimewa karena di dalamnya terdapat peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw dan Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena di dalamnya diturunkan AlQur'an, maka setidaknya ada tiga hal yang membuat bulan Sya'ban menjadi istimewa, diantaranya ialah :

1. Berpindahnya Kiblat Umat Islam dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah

Setelah Nabi Muhammad kembali dari perjalanan Isra' dan Mi'raj dan membawa perintah sholat, maka semenjak itu hingga selama 17 bulan umat Islam sholat dengan kiblat yang mengarah ke Baitul Maqdis. Maka selama 17 Bulan itu juga Nabi Muhammad berharap kepada Allah dengan cara selalu menghadapkan wajahnya ke langit agar kiblat umat Islam dapat beralih ke Ka'bah. Nabi berharap demikian karena orang-orang Yahudi mengolok-olok umat Islam dengan mengatakan, "Mereka mengatakan Islam itu berbeda dengan Yahudi, akan tetapi kiblat mereka mengikuti agama Yahudi". 
Akhirnya, setelah berharap selama 17 bulan, Allah pun menjawab harapan Nabi Muhammad, kiblat umat Islam pun beralih dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah. Peristiwa ini telah diabadikan di dalam AlQur'an Surat Al-Baqoroh ayat 144

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ

"Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam".

Dikabulkan Allah doa Nabi Muhammad agar kiblat umat Islam kembali ke Ka'bah setelah 17 bulan lamanya seakan mengajarkan kita untuk tidak pernah bosan berdoa kepada Allah. Lihatlah, sekelas Nabi Muhammad Saw dikabulkan doanya setelah 17 bulan lamanya, lalu siapa kita yang sedang berdoa langsung ingin dikabulkan.

Maka di bulan Sya'ban ini mari kita perbanyak doa kepada Allah, setidaknya ada tiga doa yang kita panjatkan terutama setelah membaca Surat Yasin tiga kali. Doa pertama diberikan umut yang panjang dan selalu dalam ketaatan, doa kedua, diberikan keluasan rezeki dan dijauhkan dari segala macam mara bahaya dan doa ketiga ialah meminta kepada Allah agar kelak kita bisa mati dalam keadaan Husnul Khotimah.

2. Turunnya awal perintah Sholawat
Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya".

Ayat di atas adalah ayat akan perintah bagi orang-orang yang beriman untuk selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Mayoritas ulama, khususnya para ahli tafsir sepakat bahwa turunnya ayat ini adalah pada bulan Sya'ban.

Dalam ayat itu tersebut terdapat tiga sholawat, yaitu sholawat dari Allah kepada Nabi Muhammad, sholawat dari para Malaikat kepada Nabi Muhammad dan sholawat orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Sholawatnya Allah kepada Nabi Muhammad merupakan pujian yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, sedangkan sholawatnya para Malaikat kepada Nabi Muhammad Saw merupakan doa kepada Allah agar melimpahkan anugerahnya kepada Nabi Muhammad Saw. Adapun sholawatnya orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw berarti berharap agar Allah selalu mencurahkan Rahmat dan ampunan-Nya kepada kita.
Karena turunnya perintah Sholawat ini di bulan Sya'ban, maka dianjurkanlah bagi umat Islam untuk memperbanyak melantunkan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw pada bulan Sya'ban ini. Ketauhilah, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda

"Barangsiapa yang bersholawat satu kali kepadaku, maka Allah akan bersholawat 10 kali kepadanya".

3. Diturunkannya kewajiban berpuasa di Bulan Ramadhan

Imam An-Nawawi dalam Majmu' Syarah Al-Muhadzadzab mengatakan bahwa Nabi Muhammad menjalankan ibadah puasa selama hidupnya sebanyak 9 kali dan di mulai dari tahun ke - 2 Hijrah setelah perintah kewajiban berpuasa diturunkan pada bulan Sya'ban. Hikmah perintah puasa ini diturunkan di Bulan Sya'ban ialah agar umat Islam bersegera mempersiapkan dirinya di Bulan Sya'ban sehingga ketika masuk ke dalam bulan suci Ramadhan umat Islam telah siap untuk menjalankan setiap rangkaian ibadah di Bulan Ramadhan dengan maksimal, khususnya ibadah puasa.
Aisyah ra. pernah berkata bahwa, "Aku tidak pernah melihat beliau lebih sering berpuasa daripada bulan Sya'ban" (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa Nabi Muhammad Saw demikian? Sesungguhnya karena Nabi Muhammad ingin mengajarkan kita untuk berlatih berpuasa di bulan Sya'ban, sehingga ketika bulan Ramadhan tiba, kita mampu berpuasa dengan maksimal, tanpa merasa berat sedikit pun. Maka sudah selayaknya jugalah kita sebagai umat Nabi Muhammad memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban, sehingga kita sudah terbiasa nanti ketika menjalankan ibadah wajib di bulan Ramadhan.

والله اعلم بالصواب

Keluarga, Harta, dan Amal


Keluarga, harta dan Amal Ibadah

Oleh : M. Syukri Hsb, S.Sos.I

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Nabi Muhammad Saw bersabda

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketauhilah, ketika nanti kita meninggalkan dunia dan diantarkan ke tempat pemakaman maka ada tiga yang akan mengantarkan kita yaitu

✅ keluarga

✅ harta

✅ amal ibadah

Lalu setelah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka dari tiga yang telah mengantarkan kita akan ada dua yang akan meninggalkan kita

❎ Keluarga

❎ Harta

satu yang setia menemani kita

✅ Amal Ibadah

Sahabat Muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Keluarga akan menjadi berarti buat kita setelah berada di alam barzakh jika semasa kita hidup di dunia kita mampu mendidik mereka menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah, namun sebaliknya jika kita tidak mampu membuat mereka untuk bertaqwa kepada Allah maka ini bisa menjadi sebab bertambahnya siksa yang kita dapat di dalam kubur.

Harta yang kita tinggalkan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita jika ahli waris mau menginfaqkan sebagian harta yang telah ditinggalkan atas nama kita, namun jika mereka tidak teringat untuk menginfaqkan sebagian dari harta itu atas nama kita maka harta itu akan menjadi sia-sia belaka kita.

Amal ibadah yang menemani kita bisa menjadi penolong bagi kita dari kejamnya siksa kubur jika kita mau menunaikannya semasa kita hidup dunia, namun jika tidak, maka amal ibadah kita bisa menjadi sebab semakin dahsyatnya siksa kubur yang akan kita alami.

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Oleh sebab itu, mumpung kita masih hidup di dunia, mari kita didik keluarga kita menjadi keluarga yang bertaqwa kepada Allah

Mumpung kita masih hidup di dunia mari kita jadikan harta yang kita miliki di dunia ini menjadi harta yang bermanfaat. Ketauhilah harta yang sesungguhnya yang kita miliki bukanlah harta yang miliki di dunia ini akan tetapi harta yang sesungguhnya ialah harta yang disedekahkan dan kita infaqkan di jalan Allah

Mumpung masih hidup di dunia ini mari kita tunaikan kewajiban kita kepada Allah, jangan sampai kita lalai dari kenikmatan dunia yang sifatnya hanya sementara.

والله اعلم بالصواب

11 Desember 2021 M / 06 Jumadil Awwal 1443 H

Tiga Cara Mengisi Hari Kemerdekaan

Tiga Cara Mengisi Hari Kemerdekaan

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Menjadi bangsa yang merdeka merupakan harapan setiap bangsa, terutama bagi bangsa-bangsa yang saat ini masih berada dalam penjajahan. Alhamdulillah, saat ini bangsa Indonesia sudah menjadi negara yang merdeka, sudah 76 tahun negara Indonesia terbebas dari segala bentuk penjajahan dari negara lain. Kemerdekaan Indonesia bukan diperoleh dari hasi pemberian negara lain, akan tetapi kemerdekaan Indonesia diperoleh dari sebuah perjuangan, yang bukan hanya mengorbankan harta namun juga mengorbankan jiwa.
Saat ini, sudah 76 tahun usia kemerdekaan negara Indonesia, walaupun pada kenyataannya masih banyak yang merasa terjajah di negeri sendiri, karena ulah para penguasa di negeri ini yang tidak pernah berpihak kepada rakyat dan ditambah lagi oleh pelaku korupsi yang seenak hatinya memakan uang rakyat. Meskipun demikian kita harus tetap bersyukur kepada Allah Swt atas kemerdekaan yang telah kita peroleh, sehingga kita tidak lagi mendengar suara dentuman bom dan tembakan senjata akibat peperangan.
Maka dari itu, bagi kita yang telah meraih kemerdekaan ini sudah seharusnya mengisi kemerdekaan ini dengan sesuatu yang dapat menjadikan negara ini besar dan menjadikan negara ini tetap bersatu hingga hari akhir nanti. Adapun cara untuk mengisi kemerdekaan ini diantaranya ialah dengan :

Selengkapnya silahkan lihat melalui link di bawah 👇

Khutbah Jum'at, 11 Muharram 1443 H / 20 Agustus 2021 M

Pesan Terakhir dari Ramadhan


Khubah Pertama

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt

Tepat saat berkumandang azan maghrib semalam, bulan yang mulia, bulan yang penuh keberkahan dan ampunan telah meninggalkan kita. Hari ini kita telah berada di bulan Syawal, hari kemenangan bagi orang-orang yang beriman dan semoga setelah berlalunya bulan Ramadhan, dosa-dosa kita telah diampuni oleh Allah Swt, karena hadirnya bulan Ramadhan ini salah satu keutamaannya ialah sebagai jalan bagi kita agar dosa-dosa kita diampunkan oleh Allah, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw bersabda

من صام رمضان ايمانا وحتسابا غفر له ماتقدم من ذنبه 

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah Swt maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu" 

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Sebaliknya, jika masih ada orang yang telah bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosa-dosanya belum juga diampuni, maka ini adalah golongan orang-orang yang celaka, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw 

رغم عنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل ان يغفر 

"Celakalah orang yang masuk ke dalam bulan Ramadhan kemudian bulan Ramadhan berlalu begitu saja sebelum dosanya diampuni oleh Allah Swt" 

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Ketauhilah, kepergian bulan Ramadhan sesungguhnya mendatangkan tangisan bagi orang-orang yang beriman, ada tangisan kesedihan dan tangisan kebahagiaan. Orang-orang beriman mengeluarkan tangisan kesedihan karena bulan yang penuh dengan keberkahan dan ampunan ini telah pergi meninggalkan umat Islam, padahal jika setiap umat Islam mengetahui keutamaan yang terkandung di dalamnya, umat Islam berharap agar bulan ini tidak pergi dan setiap bulan itu adalah bulan Ramadhan, hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw di dalam sabdanya
"Seandainya umat manusia mengetahui pahala ibadah di bulan ramadhan, maka niscaya mereka akan meminta agar satu tahun penuh menjadi ramadhan.” (HR. Tabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt

Kemudian, selain tangisan kesedihan, orang-orang yang beriman juga mengeluarkan tangisan kebahagiaan karena telah meraih kemenangan, yaitu menang melawan hawa nafsu dan berhasil melatih diri menjadi manusia yang bertaqwa. Mampu mengendalikan hawa nafsu dan mampu melatih diri menjadi insan yang bertaqwa merupakan kenikmatan yang tiada tara yang seharusnya disyukuri, salah satunya ialah dengan takbiran yang telah kita kumandangkan sejak ba'da maghrib hingga tadi sebelum sholat id yang kita kerjakan. 

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Ramadhan saat ini telah pergi meninggalkan kita, andai umur kita panjang maka kita bisa kembali berjumpa dengannya ialah pada Ramadhan tahun yang akan datang, maka dari itu jika Ramadhan bisa meninggalkan pesan, maka ada beberapa pesan yang dia tinggalkan, yaitu :

Pesan pertama, tetaplah sholat berjama'ah 

Sudah sama-sama kita ketahui bahwasanya ketika bulan Ramadhan datang, masjid yang biasanya jama'ahnya sedikit akan mendadak ramai karena sebab datangnya bulan Ramadhan. Maka dengan berlalunya bulan Ramadhan, harapannya ialah tetaplah hadir di Masjid untuk sholat berjama'ah sebagaimana selama bulan Ramadhan kita selalu hadir di Masjid untuk sholat berjama'ah, Nabi Muhammad Saw bersabda :

صَلَاةُ الْجَمَا عَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَ عِسْرِيْنَ دَرَجَةً

“ Shalat jama’ah lebih utama duapuluh tujuh derajat daripada shalat sendirian”

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Pesan kedua, tetaplah melantunkan ayat-ayat suci AlQur'an 

Jika di bulan Ramadhan kita begitu semangatnya untuk membaca AlQur'an, bahkan mengkhatamkan AlQur'an, maka setelah berakhirnya bulan Ramadhan, dia berpesan agar lantunan ayat-ayat suci AlQur'an itu berhenti di akhir Ramadhan, akan tetapi teruskanlah lantunkan ayat-ayat suci AlQur'an itu di luar bulan Ramadhan. Selalu melantunkan ayat suci AlQur'an merupakan salah satu cara termudah untuk meraih pahala yang tak terhingga, sebagaimana Sabda Rasulullah 
من قرأ حرف من كتب الله فله به حسنة والحسنة بعشر امثلها لاقول الم حرف ولكن الف حرف و لم حرف و ميم حرف 
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur'an) maka satu kebaikan baginya dan satu kebaikan dilipatkan gandakan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya. Rasulullah saw bersabda : Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf"

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Pesan ketiga, tetaplah bersedekah 

Ketika berada di bulan Ramadhan, umat Islam biasanya akan semakin rajin untuk bersedekah, terutama bersedekah dengan memberikan makanan berbuka puasa, maka ketika Ramadhan berlalu, dia berpesan agar di luar Bulan Ramadhan kebiasaan sedekah yang telah dipupuk selama Bulan Ramadhan tidak berakhir begitu saja, akan tetapi haruslah tetap dipertahankan. Perbanyaklah bersedekah karena bersedekah tidak akan mengurangi harta kita, sebagaimana Sabda Rasulullah 

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ 
 
Maknanya: “Harta tidak akan berkurang dengan sebab sedekah” (HR Muslim).

Bahkan harta yang kita sedekahkan akan diganti dengan yang lebih baik, sebagaimana Sabda Rasulullah 

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

"Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku berinfak kepadamu" (Muttafaq 'Alaih).

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Pesan keempat, tetaplah berpuasa 

Berpuasa itu banyak mendatangkan manfaat bagi yang menjalankannya, maka dari itu ketika Ramadhan telah berlalu sudah seharusnya rutinitas ibadah puasa selama bulan Ramadhan tetap dipertahankan di luar bulan Ramadhan, yaitu dengan menjalankan puasa-puasa sunnah, apalagi di bulan Syawal ini sangat dianjurkan untuk menjalankan puasa 6 hari di bulan Syawal. Bagi orang yang menjalankan ibadah 6 hari bulan Syawal maka dia bagaikan telah berpuasa selama satu tahun, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw 
 
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
 
“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun” (HR Muslim).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.