Keluarga, Harta, dan Amal


Keluarga, harta dan Amal Ibadah

Oleh : M. Syukri Hsb, S.Sos.I

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Nabi Muhammad Saw bersabda

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketauhilah, ketika nanti kita meninggalkan dunia dan diantarkan ke tempat pemakaman maka ada tiga yang akan mengantarkan kita yaitu

✅ keluarga

✅ harta

✅ amal ibadah

Lalu setelah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka dari tiga yang telah mengantarkan kita akan ada dua yang akan meninggalkan kita

❎ Keluarga

❎ Harta

satu yang setia menemani kita

✅ Amal Ibadah

Sahabat Muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Keluarga akan menjadi berarti buat kita setelah berada di alam barzakh jika semasa kita hidup di dunia kita mampu mendidik mereka menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah, namun sebaliknya jika kita tidak mampu membuat mereka untuk bertaqwa kepada Allah maka ini bisa menjadi sebab bertambahnya siksa yang kita dapat di dalam kubur.

Harta yang kita tinggalkan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita jika ahli waris mau menginfaqkan sebagian harta yang telah ditinggalkan atas nama kita, namun jika mereka tidak teringat untuk menginfaqkan sebagian dari harta itu atas nama kita maka harta itu akan menjadi sia-sia belaka kita.

Amal ibadah yang menemani kita bisa menjadi penolong bagi kita dari kejamnya siksa kubur jika kita mau menunaikannya semasa kita hidup dunia, namun jika tidak, maka amal ibadah kita bisa menjadi sebab semakin dahsyatnya siksa kubur yang akan kita alami.

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Oleh sebab itu, mumpung kita masih hidup di dunia, mari kita didik keluarga kita menjadi keluarga yang bertaqwa kepada Allah

Mumpung kita masih hidup di dunia mari kita jadikan harta yang kita miliki di dunia ini menjadi harta yang bermanfaat. Ketauhilah harta yang sesungguhnya yang kita miliki bukanlah harta yang miliki di dunia ini akan tetapi harta yang sesungguhnya ialah harta yang disedekahkan dan kita infaqkan di jalan Allah

Mumpung masih hidup di dunia ini mari kita tunaikan kewajiban kita kepada Allah, jangan sampai kita lalai dari kenikmatan dunia yang sifatnya hanya sementara.

والله اعلم بالصواب

11 Desember 2021 M / 06 Jumadil Awwal 1443 H

Tiga Cara Mengisi Hari Kemerdekaan

Tiga Cara Mengisi Hari Kemerdekaan

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Menjadi bangsa yang merdeka merupakan harapan setiap bangsa, terutama bagi bangsa-bangsa yang saat ini masih berada dalam penjajahan. Alhamdulillah, saat ini bangsa Indonesia sudah menjadi negara yang merdeka, sudah 76 tahun negara Indonesia terbebas dari segala bentuk penjajahan dari negara lain. Kemerdekaan Indonesia bukan diperoleh dari hasi pemberian negara lain, akan tetapi kemerdekaan Indonesia diperoleh dari sebuah perjuangan, yang bukan hanya mengorbankan harta namun juga mengorbankan jiwa.
Saat ini, sudah 76 tahun usia kemerdekaan negara Indonesia, walaupun pada kenyataannya masih banyak yang merasa terjajah di negeri sendiri, karena ulah para penguasa di negeri ini yang tidak pernah berpihak kepada rakyat dan ditambah lagi oleh pelaku korupsi yang seenak hatinya memakan uang rakyat. Meskipun demikian kita harus tetap bersyukur kepada Allah Swt atas kemerdekaan yang telah kita peroleh, sehingga kita tidak lagi mendengar suara dentuman bom dan tembakan senjata akibat peperangan.
Maka dari itu, bagi kita yang telah meraih kemerdekaan ini sudah seharusnya mengisi kemerdekaan ini dengan sesuatu yang dapat menjadikan negara ini besar dan menjadikan negara ini tetap bersatu hingga hari akhir nanti. Adapun cara untuk mengisi kemerdekaan ini diantaranya ialah dengan :

Selengkapnya silahkan lihat melalui link di bawah 👇

Khutbah Jum'at, 11 Muharram 1443 H / 20 Agustus 2021 M

Pesan Terakhir dari Ramadhan


Khubah Pertama

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt

Tepat saat berkumandang azan maghrib semalam, bulan yang mulia, bulan yang penuh keberkahan dan ampunan telah meninggalkan kita. Hari ini kita telah berada di bulan Syawal, hari kemenangan bagi orang-orang yang beriman dan semoga setelah berlalunya bulan Ramadhan, dosa-dosa kita telah diampuni oleh Allah Swt, karena hadirnya bulan Ramadhan ini salah satu keutamaannya ialah sebagai jalan bagi kita agar dosa-dosa kita diampunkan oleh Allah, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw bersabda

من صام رمضان ايمانا وحتسابا غفر له ماتقدم من ذنبه 

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah Swt maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu" 

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Sebaliknya, jika masih ada orang yang telah bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosa-dosanya belum juga diampuni, maka ini adalah golongan orang-orang yang celaka, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw 

رغم عنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل ان يغفر 

"Celakalah orang yang masuk ke dalam bulan Ramadhan kemudian bulan Ramadhan berlalu begitu saja sebelum dosanya diampuni oleh Allah Swt" 

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Ketauhilah, kepergian bulan Ramadhan sesungguhnya mendatangkan tangisan bagi orang-orang yang beriman, ada tangisan kesedihan dan tangisan kebahagiaan. Orang-orang beriman mengeluarkan tangisan kesedihan karena bulan yang penuh dengan keberkahan dan ampunan ini telah pergi meninggalkan umat Islam, padahal jika setiap umat Islam mengetahui keutamaan yang terkandung di dalamnya, umat Islam berharap agar bulan ini tidak pergi dan setiap bulan itu adalah bulan Ramadhan, hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw di dalam sabdanya
"Seandainya umat manusia mengetahui pahala ibadah di bulan ramadhan, maka niscaya mereka akan meminta agar satu tahun penuh menjadi ramadhan.” (HR. Tabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt

Kemudian, selain tangisan kesedihan, orang-orang yang beriman juga mengeluarkan tangisan kebahagiaan karena telah meraih kemenangan, yaitu menang melawan hawa nafsu dan berhasil melatih diri menjadi manusia yang bertaqwa. Mampu mengendalikan hawa nafsu dan mampu melatih diri menjadi insan yang bertaqwa merupakan kenikmatan yang tiada tara yang seharusnya disyukuri, salah satunya ialah dengan takbiran yang telah kita kumandangkan sejak ba'da maghrib hingga tadi sebelum sholat id yang kita kerjakan. 

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Ramadhan saat ini telah pergi meninggalkan kita, andai umur kita panjang maka kita bisa kembali berjumpa dengannya ialah pada Ramadhan tahun yang akan datang, maka dari itu jika Ramadhan bisa meninggalkan pesan, maka ada beberapa pesan yang dia tinggalkan, yaitu :

Pesan pertama, tetaplah sholat berjama'ah 

Sudah sama-sama kita ketahui bahwasanya ketika bulan Ramadhan datang, masjid yang biasanya jama'ahnya sedikit akan mendadak ramai karena sebab datangnya bulan Ramadhan. Maka dengan berlalunya bulan Ramadhan, harapannya ialah tetaplah hadir di Masjid untuk sholat berjama'ah sebagaimana selama bulan Ramadhan kita selalu hadir di Masjid untuk sholat berjama'ah, Nabi Muhammad Saw bersabda :

صَلَاةُ الْجَمَا عَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَ عِسْرِيْنَ دَرَجَةً

“ Shalat jama’ah lebih utama duapuluh tujuh derajat daripada shalat sendirian”

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Pesan kedua, tetaplah melantunkan ayat-ayat suci AlQur'an 

Jika di bulan Ramadhan kita begitu semangatnya untuk membaca AlQur'an, bahkan mengkhatamkan AlQur'an, maka setelah berakhirnya bulan Ramadhan, dia berpesan agar lantunan ayat-ayat suci AlQur'an itu berhenti di akhir Ramadhan, akan tetapi teruskanlah lantunkan ayat-ayat suci AlQur'an itu di luar bulan Ramadhan. Selalu melantunkan ayat suci AlQur'an merupakan salah satu cara termudah untuk meraih pahala yang tak terhingga, sebagaimana Sabda Rasulullah 
من قرأ حرف من كتب الله فله به حسنة والحسنة بعشر امثلها لاقول الم حرف ولكن الف حرف و لم حرف و ميم حرف 
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur'an) maka satu kebaikan baginya dan satu kebaikan dilipatkan gandakan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya. Rasulullah saw bersabda : Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf"

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Pesan ketiga, tetaplah bersedekah 

Ketika berada di bulan Ramadhan, umat Islam biasanya akan semakin rajin untuk bersedekah, terutama bersedekah dengan memberikan makanan berbuka puasa, maka ketika Ramadhan berlalu, dia berpesan agar di luar Bulan Ramadhan kebiasaan sedekah yang telah dipupuk selama Bulan Ramadhan tidak berakhir begitu saja, akan tetapi haruslah tetap dipertahankan. Perbanyaklah bersedekah karena bersedekah tidak akan mengurangi harta kita, sebagaimana Sabda Rasulullah 

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ 
 
Maknanya: “Harta tidak akan berkurang dengan sebab sedekah” (HR Muslim).

Bahkan harta yang kita sedekahkan akan diganti dengan yang lebih baik, sebagaimana Sabda Rasulullah 

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

"Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku berinfak kepadamu" (Muttafaq 'Alaih).

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Pesan keempat, tetaplah berpuasa 

Berpuasa itu banyak mendatangkan manfaat bagi yang menjalankannya, maka dari itu ketika Ramadhan telah berlalu sudah seharusnya rutinitas ibadah puasa selama bulan Ramadhan tetap dipertahankan di luar bulan Ramadhan, yaitu dengan menjalankan puasa-puasa sunnah, apalagi di bulan Syawal ini sangat dianjurkan untuk menjalankan puasa 6 hari di bulan Syawal. Bagi orang yang menjalankan ibadah 6 hari bulan Syawal maka dia bagaikan telah berpuasa selama satu tahun, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw 
 
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
 
“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun” (HR Muslim).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

 

Pengertian Puasa, Syarat sah dan Syarat Wajib Puasa serta Orang yang boleh tidak berpuasa


Pengertian Puasa
Menurut bahasa puasa artinya mencegah.
Sedangkan menurut Istilah puasa berarti mencegah diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari.

Dalil Puasa Ramadhan
Adapun dalil diperintahkannya untuk berpuasa di bulan Ramadhan ialah Firman Allah Swt di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 183
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"

Syarat Sah Puasa
Adapun sahnya puasa seseorang apabila memenuhi beberapa syarat, yaitu:
1. Islam
Orang yang tidak beragama Islam jika dia berpuasa maka puasanya tidak sah, begitu juga ketika orang Islam berpuasa hendaklah selalu berada dalam keadaan Islam, jika murtad maka batallah puasanya. 

2. Berakal
Selama melaksanakan ibadah puasa maka harus selalu berada dalam keadaan berakal. 

3. Bersih dari haidh dan nifas
Bagi perempuan yang suci dari haidh dan nifas maka wajib berpuasa. Jika seorang wanita mengalami haidh dan nifas di tengah menjalani ibadah puasa, maka puasanya batal dan wajib baginya untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa karena menghormati orang yang sedang berpuasa. 

4. Berpuasa di hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa
Orang yang berpuasa haruslah mengetahui bahwa dia berpuasa di hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa, bukan di hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa. 

Syarat Wajib Puasa
Puasa Ramadhan wajib bagi setiap mukallaf yang tidak memiliki udzur, yaitu :
1. Islam
2. Mukallaf (baligh dan berakal) 
3. Mampu untuk berpuasa :
👉 Mampu secara lahiriah : sehat, bukan yang tergolong orang yang sudah tua, bukan ibu hamil dan menyusui. 
👉 Mampu secara syariat : perempuan yang suci dari haid dan nifas
4. Muqim

Adapun yang tidak wajib puasa ada sembilan kriteria, yaitu
1. Anak kecil
Anak kecil walaupun tidak wajib berpuasa namun wajib bagi orangtua untuk melatih dan menyuruhnya untuk berpuasa, walaupun itu hanya puasa setengah hari. 

2. Orang gila
Orang gila yang tidak disengaja tidak wajib berpuasa, karena akalnya tidak sempurna. 

3. Orang sakit
Orang yang sakit tidak diwajibkan berpuasa, jika sakitnya itu menyebabkan dirinya merasa berat untuk menjalankan ibadah puasa atau apabila dia berpuasa dapat menyebabkan bertambah paranya sakit yang dideritanya. Orang sakit ini boleh tidak berpuasa jika atas saran dokter muslim yang adil atau karena pengalaman pribadinya jika dia berpuasa maka akan terjadi sesuatu padanya. 

4. Orangtua
Tidak diwajibkan berpuasa bagi orang yang sudah tua atau lansia. Umur disini tidak menjadi batasan, karena bisa jadi usia 50 atau 60 tahun fisiknya sudah seperti orangtua disebabkan karena penyakit yang dideritanya. 

5. Haid
Wanita yang masih keluar darah haidnya tidak wajib berpuasa

6. Nifas
Waniya yang masih keluar darah nifasnya juga tidak wajib berpuasa

7. Hamil
Ibu yang hamil tidak wajib berpuasa, apabila dia merasa berat menjalankan puasa karena kondisinya yang sedang hamil

8. Menyusui
Ibu yang menyusui tidak wajib berpuasa, karena mungkin dalam kondisi menyusui bayinya sehingga menguras energi dan nutrisi di dalam tubuhnya, akibatnya tidak kuat menjalankan ibadah puasa. 

9. Musafir
Orang yang melakukan perjalanan sejauh 84 Km, maka tidak wajib berpuasa, dengan catatan dia melalukan perjalanan sebelum waktu sahur berakhir. 
Hukum puasa bagi seorang musafir ada 3
👉 Haram berpuasa dalam perjalanan jika dengan berpuasa dapat membahayakan dirinya. 
👉 Boleh memilih tetap berpuasa atau berbuka karena perjalanan yang dilakukannya tidak memiliki pengaruh apapun terhadap dirinya jika dia berpuasa
👉 Dianjurkan untuk berbuka jika merasa berat untuk berpuasa ketika melakukan perjalanan walaupun jika berpuasa tidak membahayakan dirinya. 

Perlu diketahui bahwa batas lama dari seorang musafir hanyalah 3 hari setelah dirinya sampai di tempat tujuannya, jika lewat dari 3 hari maka wajib baginya berpuasa. Berbeda jika dirinya terus-menerus melakukan perjalanan, maka berlaku terus status musafir bagi dirinya.

Wallohu a'lamu bisshowab

Sumber : Fiqih Praktis Buya Yahya

Ziarah Kubur


Pengertian Ziarah
Ziarah berasa dari bahasa Arab yaitu Zaara - Yazuuru - Ziyarotan (زار - يزور - زيرة) yang artinya berkehendak mendatangi atau berkunjung ke suatu tempat.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa ziarah kubur adalah mengunjungi kuburan dari saudara, kawan, kerabat atau siapapun. Pada umumnya ketika umat muslim mengunjungi kuburan biasanya akan mengirimkan doa, mengenangnya dan menjadikan nasihat bagi diri sendiri bahwa dirinya pasti akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang telah mendahului dirinya.

Dalil Ziarah Kubur
Nabi Muhammad Saw bersabda

 نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ اْلقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا 

"Dahulu aku telah melarang kalian berziarah ke kubur. Namun sekarang, berziarahlah kalian ke sana" . (H.R. Muslim)

 اِسْتَأْذَنْتُ رَبِّيْ أَنْ أَسْتَغْفِر لأُمِّيْ ، فَلَمْ يَأذَنْ لِيْ ، وَاسْتأذَنْتُهُ أنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأذِنَ لِيْ

Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengijinkan. Kemudian aku meminta ijin kepada Allah untuk berziarah ke makam ibuku, lalu Allah mengijinkanku. (H.R. Muslim)

زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَبْرَ اُمِّهِ, فَبَكَي وَاَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ

Nabi Saw ziarah ke makam ibunya kemudian menangis lalu menangislah orang-orang sekitarnya. (HR. Muslim dan al-Hakim)

Hukum Ziarah Kubur
Jika berbicara mengenai hukum mengenai ziara kubur, maka hukumnya terbagi dua, yaitu :

Pertama, hukum ziarah kubur bagi laki-laki
Menurut jumhur ulama ziarah kubur bagi laki-laki hukumnya sunnah dan disyariatkan di dalam Islam, karena mengingat kematian itu diperintahkan di dalam agama. (1) 
Sedangkan menurut Mazhab Daud Zhohiri yaitu pendapat Ibnu Hazmin mengatakan ziarah kubur itu wajib.(2)
Kedua, hukum ziarah kubur bagi perempuan terbagi atas tiga
- Ziarah Kubur bagi perempuan itu sunnah, karena mengingat akan kematian itu diperintahkan bukan hanya bagi laki-laki, akan tetapi juga bagi perempuan. Dengan ketentuan apabila perempuan berziarah kubur hendaklah dirinya mampu mengontrol emosinya sehingga tidak sampai meratap ketika sampai kuburan orang yang telah meninggalkan dirinya. Pendapat ini merupakan pendapat yang mu'tamad. 

- Berziarah bagi perempuan hukumnya haram apabila perempuan yang berziarah tersebut tidak mampu mengontrol emosinya sehingga kembali meratapi seseorang yang telah terlebih dahulu meninggalkan dirinya. 

- Berziarah kubur bagi perempuan makruh karena dikhawatirkan tidak mampu mengendalikan dirinya ketika melihat kuburan orang yang terlebih dahulu meninggalkan dirinya. 

Waktu yang baik berziarah kubur
Pada umumnya berziarah kubur itu tidak terikat oleh waktu, bisa kapan saja. Namun jika ditanya mengenai waktu yang paling utama ketika hendak berziarah kubur ialah :
Pertama, berziarah kubur pada hari Jum'at, karena hari Jum'at merupakan sayyidul ayyam (hari yang mulia), penghulu daripada hari dan hari Jum'at juga merupakan hari mustajabnya doa. 
Kedua, berziarah kubur setelah ashar, karena salah satu waktu diijabahnya doa ialah setelah ashar. 

Berdasarkan dua waktu di atas, disimpulkanlah bahwa waktu yang palinh baik itu berziarah kubur ialah ketika hari Jum'at setelah waktu ashar. 

Adab-adab Ziarah Kubur
Adab dalam berziarah kubur di bagi akan dua perkara, yaitu :
Pertama, adab sebelum memasuki daerah pemakaman (magbaroh). Adapun adab sebelum masuk ke daerah pemakaman adalah :
1. Memberi salam
Hendaknya sebelum memasuki daerah pemakaman, peziarah atau orang yang melintasi daerah pemakaman mengucapkan salam, karena sesungguhnya mereka mendengar dan menjawab salam dari manusia. Adapun bunyi salamnya ialah
السلام عليكم يا اهل القبور من المؤمنين والمسلمات وانا ان شاءالله بكم لاحكون
2. Apabila menggunakan sandal, maka tidak perlu melepaskan sandalnya kecuali sandalnya bernajis dan sandalnya merupakan sandal yang mahal. 

Kedua, adab bagi peziarah setelah memasuki daerah pemakaman adalah :
1. Jangan duduk di atas kubur, sebagaimana sabda Rasulullah Saw 
"Sungguh duduk di atas bara api sampai tubuh terbakar dan kulit terkelupas itu lebih baik kamj daripada duduk di atas kubur" 

2. Menghadap kubur dan mendekati kubur ketika membaca kalimat-kalimat thoyyibah

3. Mengucapkan salam kembali setelah selesai berziarah dan hendak meninggalkan daerah pemakaman. 

Hal-hal yang dilakukan ketika berziarah kubur
Adapun hal-hal yang hendaklah dilakukan oleh peziarah kubur ialah :
1. Membaca AlQur'an, baik seluruhnya atau sebagian dari ayat-ayat AlQur'an, jika tidak mampu minimal membaca surat Al-Fatihah. 
2. Berdzikir
3. Mendoakan si mayyit. 

Hukum mengenai perkara-perkara yang sering dilakukan oleh peziarah kubur
1. Menabur bunga
Menabur bunga di kuburan ketika berziarah kubur hukumnya adalah sunnah, yaitu dengan mengqiyaskan atas apa yang dilakukan Rasulullah Saw atas dua penghuni kubur yang sedang disiksa, kemudian Rasulullah menancapkan dua pelepah kurma yang masih segar dan mengatakan selama pelepah kurma tersebut masih segar maka pelepah kurma tersebut akan senantiasa berdzikir kepada Allah sehingga dapat meringankan penghuni kubur yang sedang disiksa. (3)

2. Menyiram kubur dengan air
Jika menyiram kubur dengan air biasa maka hukumnya sunnah, akan tetapi jika menggunakan air mawar maka hukumnya makruh (4), karena mubazzir. 
Adapun tujuan menyiram kubur dengan air ialah berharap agar kuburan dan penghuninya merasa dingin.(5)

3. Haram mencabut rumput 
Apabila terdapat rumput di sekitar kuburan, maka haram hukumnya bila dicabut (6). Adapun jika rumputnya sudah terlalu tinggi cukup dirapikan saja, jangan sampai dicabut keseluruhannya. 

4. Mencium nisan hukumnya makruh, kecuali nisan orang-orang yang sholeh dengan tujuan mengambil keberkahannya.(7)

5. Wanita haid boleh berziarah ke kubur karena memang ibadah ziarah kubur tidak terikat syarat, waktu dan rukuj tertentu. Namun dengan ketentuan tidak boleh membaca AlQur'an dan ayat-ayat AlQur'an, cukuplah berdoa saja. 

Catatan Perut 
(1)Pendapat dari Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani di dalam Kitab Fathul Bari, Syeikh Al-Mubarok Fury di dalam Kitab Tuhfatul Ahwaji dan Imam An-Nawawi di dalam Kitab Syarah Al Muhadzdzab. 
(2) Fathul Bari
(3) Tuhfatul Muhtaj Bissyahril Minhaj karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami 
(4)Syarah Al-Bahjah
(5) Nihayatuz Zain 
(6) Hasyiyah I'anatut tholibin 
(7) Hawasy Asy-Syarwani dan Mafahim Yajibu An Tushoha