Ilmu yang Wajib dipelajari

Nabi Muhammad Saw bersabda
طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة
"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan"

Hadits di atas menjelaskan bahwasanya wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk menuntut ilmu, namun bukan setiap ilmu, akan tetapi yang diwajibkan adalah ilmu hal (ilmu yang sesuai dengan kebutuhan sendiri).

Ilmu yang paling utama adalah ilmu hal dan perbuatan yang paling mulia adalah hal atau kondisi sendiri).

Ilmu hal yang dimaksud disini adalah ilmu ushuluddin (Tauhid) dan ilmu fiqih. Melalui ilmu hal ini seorang muslim akan mengetahui akan hal yang wajib baginya, seperti sholat, puasa jika dia mampu, mengeluarkan zakat jika dia memiliki harta untuk dikeluarkan zakatnya, Haji bagi yang memiliki kesanggupan. Selain daripada kewajiban di atas, seorang muslim juga harus mempelajari ilmu tentang usaha pekerjaan yang digelutinya, agar terjaga dari hal-hal yang diharamkan dalam pekerjaan atau usahanya. 
Perbuatan yang mulia adalah menjaga hal, yaitu menjaga diri sendiri dari tidak melanggar perintah Allah dan senantiasa mengerjakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah. 

Selain daripada ilmu hal (Tauhid dan fiqih), maka seorang muslim juga harus mengetahui ilmu tentang batin atau hati (Ilmu Tasawuf) misalnya tawakkal, mengembalikan semua hal kepada Allah, takut kepada Allah dan ridho atas semua ketetapan Allah. 

Kemudian, seorang muslim juga haruslah mengetahui ilmu akhlak. Mengapa demikian? Karena menjadi orang yang berakhlak merupakan kebutuhan sendiri, karena jika kita menjadi seseorang yang memiliki sifat sombong, kikir, tamak, israf dan lain sebagainya merupakan hal yang dilarang dalam (diharamkan) dan seorang muslim juga harus tahu akhlak terpuji adalah sifat yang pemurah, sopan santun, rendah hati, penyayang dan lain sebagainya, karena ini adalah tuntunan agama. 

Mengetahui atau mempelajari perkara yang menjadi kebutuhan sendiri (fardhu 'ain) ibarat makanan yang dibutuhkan setiap orang
Mengetahui atau mempelajari perkara yang terjadi pada saat-saat tertentu (fardhu kifayah) itu ibarat obat
Mengetahui dan mempelajari perkara yang dapat membahayakan atay tidak mendatangkan manfaat (ilmu nujum) diibaratkan seperti penyakit. 

Sumber : Kajian dan Analisis Ta'lim Muta'allim hal 34 - 41

Penyebab Kemurtadan

Allah Swt berfirman di dalam Surat Ali-Imran ayat 102

يايها الذين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون
"Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam"

Ayat di atas menjelaskan kepada kita agar senantiasa bertaqwa kepada Allah dan senantiasa selalu berada dalam keislamannya atau senantiasa menetap dalam Islam hingga akhir hayatnya, jangan sampai ketika kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan ingkar kepada Allah swt. Ingat, Allah telah memperingatkan kita di dalam Surat 161
ان الذين كفروا وما توا وهم كفار اولئك عليهم لعنة الله والملئكة والناس اجمعين
"Sesungguhnya orang-orang kafir yang mati dalam keadaan kafir maka mereka mendapatkan laknat dari Allah, para Malaikat dan seluruh manusia"

Ayat di atas adalah konsekuensi yang akan di terima oleh orang-orang yang mati tetap dalam keadaan kafir, mereka akan mendapat laknat dari Allah swt, para Malaikat dan seluruh manusia.
Kemudian pada ayat berikutnya yaitu Ayat 162 Allah berfirman
خالدين فيها لا يخفف عنهم العذاب ولهم ينظرون
"Mereka kekal di dalamnya (laknat), tidak akan diringankan azabnya dan tidak diberi penangguhan"

Mereka yang mati dalam keadaan kafir akan kekal di dalam neraka, tidak akan mendapat keringanan atas siksanya dan tidak ada penangguhan, mereka akan langsung disiksa dan dimasukkan ke dalam neraka.
Begitulah dahsyatnya balasan yang akan diterima oleh setiap manusia yang mati dalam keadaan kafir. Maka dari itu, sudah seharusnya setiap muslim menjaga keimanannya sehingga tidak menjadi orang yang murtad atau keluar dari agama Islam.
Murtad berasal dari kata irtadda yang artinya raja'a artinya kembali. Perbuatan yang menyebabkan kafir atau murtad disebut juga dengan riddah. 
Dalam agama Islam murtad terbagi atas 3, yaitu :
1. Murtad Keyakinan
Diantara hal yang dapat membuat seseorang dikatakan murtad karena keyakinan ialah
🔹Mengingkari Allah
Seorang muslim yang mengingkari semua hal atau salah satunya mengenai Allah maka ia dapat dikatakan murtad. Dia menduakan Allah dengan yang lain ataupun dia meragukan Allah akan kemahaanNya, dia menyerupai Allah dengan makhluk dan sebagainya, maka dapatlah dikatakan dia orang yang telah murtad. Ingatlah Allah telah berfirman di dalam Surat Luqman ayat 
ان شرك لظلم عظيم
"Sesungguhnya syirik adalah dosa yang besar"

Allah juga berfirman di dalam Surat An-Nisaa ayat 48
ان الله لايغفر ان يشرك به

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik" 

🔹Menghina para Nabi, Malaikat dan AlQur'an 
Seseorang yang menghina, mencela, meremehkan ataupun merendahkan para Nabi, para Malaikat dan AlQur'an maka dapatlah dikatakan dia telah murtad dari agama Islam.

🔹Mengharamkan yang halal
Jika sesuatu yang telah dihalalkan oleh syari'at kemudian ada yang mengharamkannya, misalnya mengharamkan jual-beli, menikah, puasa sunnah dan lain sebagainya, maka dapatlah dikatakan dia termasuk orang yang telah murtad.

🔹Menghalalkan yang haram
Kebalikan dari yang di atas, jika ada orang yang menghalalkan yang haram, seperti menghalalkan perzinahaan, minum khamr, hubungan sejenis (homo) dan lain sebagainya, maka termasuklah dia orang yang telah murtad.

2. Murtad Perbuatan
Hal yang dapat menyebabkan seseorang murtad berikutnya ialah murtad karena perbuatan. Bentuk murtad perbuatan misalnya ialah sujud kepada berhala, patung, gambar, pohon, manusia dan lain-lain.

3. Murtad Ucapan
Penyebab murtad yang terakhir ialah murtad karena ucapan. Karena ucapanpun seorang muslim bisa murtad dari Islam, misalnya dia mengatakan, "andaikan para Nabi dan Malaikat bersaksi aku tidak akan percaya", atau "Allah telah dzolim kepada", atau "Allah itu tidak adil", atau "Nabi Muhammad telah berdusta", atau "AlQur'an bukanlah kalam Allah" dan lain sebagainya.

Masih banyak lagi contoh yang disebutkan di dalam kitab Sullamut Taufiq, intinya segala sesuatu yang meremehkan, merendahkan, mencela dan menghina Allah, Malaikat-malaikat Allah, Nabi-nabi Allah, kitab-kitabNya, syariat-syariat yang telah disepakati para ulama, simbol-simbol dan syiar-syiar agama Islam maka itu dapat menyebabkan ia tergolong kepada orang-orang yang murtad.
Semoga kita terhindar dari hal-hal yang dapat membuat kita murtad dari agama yang benar disisi Allah swt, yaitu agama Islam hingga nafas terakhir.

Wallohu a'lam bisshowab

Rujukan : Kitab Sullamut Taufiq 

ILMU TAUHID

PENGERTIAN TAUHID
Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang penetapan aqidah-aqidah keagamaan dengan bukti yang pasti (tidak terbantahkan). Dinamakan juga ilmu tauhid karena pembahasan utamanya ialah seputar peng Esaan kepada Allah swt, karena ini merupakan dasar agama Islam. 

MANFAAT MENGETAHUI ILMU TAUHID
Bagi orang yang mempelajari dan mengetahui ilmu tauhid, maka dia akan mengetahui sifat-sifat Allah swt dan para RasulNya dengan bukti-dengan bukti yang pasti dan memperoleh kebahagian yang abadi.

KEUTAMAAN ILMU TAUHID
Ilmu tauhid merupakan pondasi dari ilmu-ilmu keagamaan. Ilmu tauhid merupakan ilmu yang paling utama, karena ilmu yang membahas tentang dzat Allah swt dan para RasulNya. Ilmu tauhid juga merupakan ilmu yang mulia, karena isinya membahas dzat yang paling mulia yaitu Allah Swt. 

KEWAJIBAN MEMPELAJARI ILMU TAUHID
Hukum mempelajari ilmu tauhid ialah fardhu 'ain bagi setiap mukallaf, baik laki-laki maupun perempuan, meskipun hanya mengetahui dalil yang sifatnya umum, sedangkan mengetahui dalil-dalil mengenai ilmu tauhid secara terperinci hukumnya ialah fardhu kifayah.
Menurut pendapat yang shahih, orang yang taqlid (mengikuti pendapat orang lain tanpa mencari tahu bukti kebenarannya) dengan meyakini secara mantap tanpa keraguan sedikit pun, maka keimanannya sah. Namun dia berdosa karena tidak mau mencari tahu bukti kebenarannya, dengan ketentuan dia mampu mencari bukti-bukti kebenarannya, jika dia tidak mampu maka dia tidak berdosa.

Rujukan : Benteng Aqidah Aswaja (Terjemahan Kitab Hushun Al Hamidiyah) hal. 9-10

THOHAROH

Pengertian Thoharoh
1. Menurut Bahasa
Thoharoh berarti bersih dan terbebas dari
👉 Kotoran yang dapat dilihat oleh indra manusia, seperti hadats dan najis. 
👉 Kotoran yang tidak dapat dilihat oleh indra manusia, seperti ujub, sombong, iri, dengki, riya dan lain sebagainya. 

2. Menurut Istilah
Menghilangkan : 
👉 Hadats : dengan berwudhu dan mandi besar
👉 Najis : beristinja (cebok) dengan air dan mencuci pakaian yang terkena najis. 

Semakna dengan menghilangkan :
👉 Hadats : tayammum dan bersucinya orang yang selalu mengeluarkan hadats, misalnya beser. 
Dikatakan semakna pada hakikatnya hadats orang-orang seperti ini tidaklah hilang namun diperbolehkan melakukan seperti orang-orang yang tidak memiliki hadats. 
👉 Najis : Istinja dengan menggunakan batu, semakna dengan menghilangkan najis, meskipun masih terdapat sisa-sisa najis maka dianggap sudah cukup untuk mengangkat najis tersebut. 

Perbuatan yang bentuknya sejenis dengan bentuk menghilangkan :
👉 Hadats : seperti mandi sunnah, wudhu yang diperbaharui sebelum batal, basuhan kedua dan ketiga saat membasuh tangan dan lainnya. 
👉 Najis : seperti basuhan kedua dan ketiga saat menghilangkan najis yang dilakukan setelah hilangnya najis. 

Maksud dari bentuknya sejenis dengan bentuk menghilangkan hadats atay najis ialah, basuhan kedua dan ketiga tidak menghilangkan hadats atau najis, namun bentuknya sama dengan bentuk basuhan pertama yang menghilangkan hadats atau najis. 

Sumber : Kitab Taqrirotus Sadidah Bab Thoharoh hal. 29-30

Ujian atau Teguran

Ujian atau Teguran

Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 286

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها 

"Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya"

Di dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3 Allah juga berfirman

اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ (٢) وَلَقَدْ فَتَـنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَـعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ٣

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."

Banjir, seakan sudah menjadi rutinitas tahunan di beberapa kota besar yang ada di Indonesia. Bagi mereka yang tidak beriman kepada Allah maka mereka akan mengatakan bahwa musibah yang sedang melanda mereka adalah karena sebab itu atau sebab ini. Ingat, perlu kita ketahui bagi kita yang beriman kepada Allah bahwasanya dibalik semua bencana itu ada pesan-pesan Allah. Diantara pesan-pesan itu, mungkin ada pesan bahwasanya kita sedang diuji oleh Allah atau mungkin Allah sedang berpesan kita sedang ditegur oleh Allah.

Pertama, jika bencana itu karena ujian dari Allah Swt kepada orang-orang yang beriman maka sudah tentu kita harus bersabar. Jika kita bersabar maka sesungguhnya Allah sedang bersama kita, sebagaimana firman Allah di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 153
ان الله مع الصابرين
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar"

Harus kita tanamkan di dalam hati, bahwasanya jika Allah menurunkan ujian tentu tidak sembarangan, Allah pasti menurunkan ujian pasti sesuai dengan kadar kemampuan yang akan dikenakan ujian, hal ini telah dijelaskan di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 286 sebagaimana yang terdapat di atas. Tidaklah mungki Allah membebani seseorang itu karena orang tersebut sanggup melalui, itupun jika dia mengembalikannya kepada Allah, jika tidak tentu dia tidak akan mampu melalui ujian tersebut. Ujian yang diberikan Allah sesungguhnya Allah sedang ingin menyeleksi hamba-hambaNya dan siapa yang tidak. Allah tidak ingin iman yang diakui seseorang hanya sebatas lisan, tetapi Allah mengharapkan agar semua jiwa dan raganya diserahkan kepada Allah jika ujian itu datang.

Kedua, jika musibah itu sebagai teguran maka kita harus sama-sama mengintrsopeksi diri kita, apa yang telah kita perbuat sehingga Allah menegur kita melalui bala tentaraNya, yaitu angin, air, hujan dan lain sebagainya. Mungkin saja Allah menurunkan bencana itu karena kita telah merusak alam ini atau bisa jadi karena kemaksiatan yang begitu merajalela. Coba perhatikan dua ayat di bawah ini bagaimana Allah telah mewanti-wanti kita agar tidak salah dalam berbuat dan melangkah. 
Di dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 Allah menerangkan bahwasanya ujian itu karena ulah tangan manusia. 

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Kemudian di dalam Surat Al-A'raf ayat 96 Allah menegaskan jika kita beriman dan bertaqwa tentu Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi. 

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."

Maka sudah seharusnya kita saling mengintrospeksi diri ketika bencana dan musibah itu datang, bukan menyalahkan satu sama lain, bisa jadi musibah dan bencana itu datang karena ulah kita sendiri, saling menyalahkan satu sama lain bukanlah ciri-ciri orang yang beriman.

Wallohu a'lam bisshowab