Rukun - Rukun Puasa


Pengertian Rukun

Rukun ialah sesuatu yang tidak boleh tertinggal untuk dilakukan sebelum memulai sebuah pekerjaan atau sebuah ibadah.

Rukun puasa hanya ada dua:

Pertama niat. Baik itu puasa wajib maupun sunnah, maka harus diawali dengan niat, jika tidak maka puasanya tidaklah sah. Antara niat puasa wajib dan sunnah memiliki beberapa perbedaan
Dari segi waktu
๐Ÿ‘‰ Wajib : Waktu niatnya dimulai Mahgrib hingga terbitnya fajar dan wajib dilakukan malam hari
๐Ÿ‘‰ Sunnah : Waktunya malan hari sampai tergelincirnya matahari dan tidak wajib di malam hari.

Dari segi penyebutan
๐Ÿ‘‰ Wajib : Wajib ditentukan mengerjakan puasa tertentu, misalnya puasa Ramadhan, nadzar atau qodho.
๐Ÿ‘‰ Sunnah : Tidak wajib menentukan akan berpuasa tertentu, kecuali puasa yang memiliki waktu-waktu tertentu, misalnya puasa Arafah, Assyuro dll. Adapun ketentuannya
1. Niatnya dilaksanakan sebelum tergelincir matahari
2. Belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa

Dari segi menggabungkan
๐Ÿ‘‰ Wajib : Tidak boleh menggabungkan dua puasa fardhu dalam satu niat.
๐Ÿ‘‰ Sunnah : Diperbolehkan menggabungkan dua puasa sunnah atau lebih dalam satu niat.

Dalam Mazhab Syafi'i dijelaskan niat puasa dibaca setiap hari setelah terbenamnya matahari. 
Adapun berniat sehari saja untuk satu bulan hanya dibenarkan oleh Mazhab Maliki. Namun menurut beberapa kalangan ulama Mazhab Syafi'i tetap boleh mengamalkannya untuk mengambil nilai ibadah dari Mazhab Maliki. 
Adapun faidahnya
1. Jika terlupa, puasa yang dijalankan tetap sah. 
2. Jika pendek usia, kita seakan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. 

Kedua, meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa. 

Pengertian Puasa, Syarat Sah dan Wajib

Pengertian Puasa

๐Ÿ‘‰ Menurut Bahasa
Puasa berarti mencegah atau menahan. 

๐Ÿ‘‰ Menurut Istilah
Puasa mencegah dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa yang di mulai dari terbitnya matahari hingga terbenam ya matahari.

Perintah Puasa di Dalam AlQur'an
Adapun perintah puasa di dalam AlQur'an terdapat di dalam Suroh Al-Baqoroh ayat 183

 ูŠุงูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ูƒุชุจ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุตูŠุงู… ูƒู…ุง ูƒุชุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุฐูŠู† ู…ู† ู‚ุจู„ูƒู… ู„ุนู„ูƒู… ุชุชู‚ูˆู†

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa".

Syarat Sah Puasa dan Syarat Wajib Puasa

Syarat ialah sesuatu yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum melaksanakan ibadah tertentu.

๐Ÿ‘‰ Syarat Sah Puasa
Syarat sah puasa adalah sesuatu yang harus dipenuhi oleh seseorang agar ibadah puasa yang dikerjakan seseorang menjadi sah.
Syarat sah puasa ada empat perkara
๐Ÿ”ธIslam : Setiap yang melaksanakan puasa hendaklah harus berada dalam keadaan Islam, jika dia murtad, walaupun hanya sesaat maka puasanya batal.
๐Ÿ”ธBerakal : Setiap yang menjalankan ibadah puasa haruslah senantiasa dalam keadaan yang berakal, jika sebentar saja mengalami gila, maka puasanya menjadi batal.
๐Ÿ”ธ Bersih dari haidh dan nifas : perempuan yang mengalami haidh dan nifas, jika berpuasa maka puasanya tidak sah.
๐Ÿ”ธBerpuasa dihari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa.

๐Ÿ‘‰ Syarat Wajib Puasa
Syarat wajib puasa adalah sesuatu yang harus dipenuhi sehingga wajib berpuasa
๐Ÿ”ธIslam : Orang kafir tidak wajib berpuasa, sedangkan yang murtad wajib mengqodho puasanya jika kembali masuk Islam.
๐Ÿ”ธMukallaf : Baligh dan berakal. Anak kecil tidak wajib berpuasa, namun bagi walinya wajib menyuruh untuk berpuasa di usia tujuh tahun, dan memukulnya jika meninggalkan puasa di usia 10 tahun, padahal dia mampu untuk berpuasa.
๐Ÿ”ธMampu berpuasa : ditinjau dari dua aspek
Lahiriah : orang yang sudah sangat tua dan orang yang sakit, sehingga tidak ada harapan sembuh, maka tidak wajib bagi mereka untuk berpuasa.
Syariat : Bagi wanita haidh dan nifas tidak wajib berpuasa.
๐Ÿ”ธSehat : Bagi yang sakit tidak wajib berpuasa dengan ketentuan jika dia berpuasa maka penyakitnya bertambah dan bisa menyebabkan meninggal dunia, memperlambat kesembuhan atau bertambah sakit. Hal ini disebut dengan hal-hal yang memperbolehkan tayammum.
๐Ÿ”ธMuqim : Bagi seorang musafir tidak diwajibkan berpuasa. Jauh perjalanan sekitar 82 km. 

Jangan biarkan Sya'ban berlalu dan Siapkanlah Ramadhan


Nabi Muhammad Saw bersabda 
ุดุนุจุงู† ุจูŠู† ุฑุฌุจ ูˆ ุดู‡ุฑ ุฑู…ุถุงู†، ูŠุบูู„ ุงู„ู†ุงุณ ุนู†ู‡
"Sya'ban merupakan bulan diantara Rojab dan Bulan Ramadhan, bulan yang banyak dilupakan manusia" 

Sudah seharusnya setiap muslim mengetahui bahwasanya di dalam bulan Sya'ban ini banyak keutamaan yang harus diraih. Keutamaan yang terdapat pada Bulan Sya'ban ini dibuktikan dengan ada peristiwa besar yang diturunkan Allah swt pada bulan Sya'ban ini. Peristiwa tersebut ialah:

Pertama, pada bulan Sya'ban Allah menurunkan ayat mengenai perintah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang tercantum di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56
ุงู† ุงู„ู„ู‡ ูˆู…ู„ุงุฆูƒุชู‡ ูŠุตู„ูˆู† ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ูŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ุตู„ูˆุง ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ูˆุง ุชุณู„ูŠู…ุง 
"Sesungguhnya Allah, para Malaikat-Nya bersholawat kepada nabi, hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". 

Para ahli tafsir sepakat bahwasanya ayat ini turun pada bulan Sya'ban. Sholawat berasal dari kata sholat yang berarti doa. Di dalam ayat itu ada 3 sholawat, yaitu sholawat yang disampaikan Allah, sholawat yang disampaikan para Malaikat Allah dan perintah sholawat disampaikan oleh umat Nabi Muhammad Saw. 

Ibnu Katsir didalam tafsirnya mengatakan, Allah bersholawat berarti Allah sedang memuji Nabi, Malaikat bersholawat karena berdoa, sedangkan manusia bersholawat ialah untuk meraih keberkahan dari Nabi Muhammad Saw. 

Karena perintah sholawat itu turunnya di bulan Sya'ban maka sudah seharusnya di bulan Sya'ban ini seorang muslim memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad Saw sehingga bisa memperoleh keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Kedua, Bulan Sya'ban merupakan saat diturunkannya perintah kewajiban berpuasa bagi umat Islam di bulan Ramadhan. Imam Nawawi di dalam Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab menjelaskan bahwa Rasulullah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama 9 tahun selama hidupnya, di mulai dari tahun kedua hijriah setelah kewajiban berpuasa turun pada bulan Sya'ban. 
Turunnya perintah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan pada bulan Sya'ban, yang mana bulan Ramadhan adalah bulan yang sungguh sangat mulia dan penuh keistimewaan, hal ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwasanya bulan Sya'ban memiliki kemuliaan yang seharusnya tidak dilupakan. Kemudian dengan diturunkannya perintah puasa wajib pada bulan Ramadhan di bulan Sya'ban, maka ambillah keutamaannya dengan memperbanyak berpuasa di bulan Sya'ban, selain agar amal ibadah kita diangkat ketika dalam keadaan berpuasa, juga sebagai latihan berpuasa sehingga ketika bulan Ramadhan tiba, kita sudah siap untuk berpuasa. 

Ketiga, Bulan Sya'ban juga menjadi sejarah dimulainya Ka'bah menjadi kiblat umat Islam yang sebelumnya Masjidil Aqsho, hal ini diterangkan di dalam Suroh Al-Baqoroh ayat 144 Allah Swt berfirman :

ู‚َุฏْ ู†َุฑٰู‰ ุชَู‚َู„ُّุจَ ูˆَุฌْู‡ِูƒَ ูِู‰ ุงู„ุณَّู…َุงุٓกِ ۚ ูَู„َู€ู†ُูˆَู„ِّูŠَู†َّูƒَ ู‚ِุจْู„َุฉً ุชَุฑْุถٰูฎู‡َุง ۖ ูَูˆَู„ِّ ูˆَุฌْู‡َูƒَ ุดَุทْุฑَ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุงู„ْุญَู€ุฑَุง ู…ِ ۗ 

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam". 

Di dalam kitab Tafsir Al Jami' li Ahkamil Qur'an karangan Imam Al Qurtubi mengatakan bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw kiblat dari Masjidil Aqsho ke Masjidil Harom pada malam selasa Bulan Sya'ban tepatnya malam Nisyfu Sya'ban. 

Ka'bah adalah simbol ketauhidan, maka manfaatkanlah moment bulan Sya'ban untuk memantapkan ketauhidan kita dengan semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt, sehingga kita mampu menjadi muslim yang sejati. 

Sembari kita mengambil keutamaan diujung-ujung bulan Sya'ban, maka jangan lupa juga untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, setidaknya ada lima persiapan yang harus kita perhatikan, yaitu:

Pertama, Bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat, Allah Swt berfirman
ูŠุงูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ุชูˆุจูˆุง ุงู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชูˆุจุฉ ู†ุตูˆู‡ุง
"Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubatan nasuha"

Memasuki bulan suci seharusnya kita pun harus berada dalam keadaan yang suci. Sebagaimana piring yang kotor, sebelum dimasukkan rak piring tentulah harus dicuci yang hingga bersih barulah dimasukkan ke rak piring, begitu jugalah dengan diri kita, haruslah kita sucikan diri kita sebelum memasuki bulan yang suci.

Kedua, Jalin lagi silaturrahim dengan kaum kerabat
Jika hubungan dengan Allah sudab kita perbaiki, maka jangan lupa juga untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, selain menambah umur yang panjang, menjalin kembali silaturrahim juga dapat menambah rezeki. Janganlah kita memasuki bulan Ramadhan ini dalam keadaan tidak bertegur sapa, terutama kepada kedua orangtua kita.

Ketiga, persiapkan bekal ilmu mengenai dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan
Sebagaimana kendaraan atau barang-barang elektronik lainnya yang memiliki panduan menjalankannya, maka begitu jugalah dalam menjalankan ibadah Ramadhan ini, hendaklah kita mengetahui apa-apa saja yang perlu kita ketahui seputar ibadah-ibadah di bulan Ramadhan ini, terutama mengenai ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Keempat, Siapkan diri agar senantiasa bersama AlQur'an
Sudah sama-sama kita ketahui bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya AlQur'an, maka sudah seharusnya di bulan ini AlQur'an harus bersama kita, AlQur'an harus menjadi sahabat kita, yang sudah dalam kategori baik membaca AlQur'an ayo khatamkan AlQur'an, bagi yang masih pas-pasan dalam membaca AlQur'an, kuatkan hati agar bisa membaca AlQur'an sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid AlQur'an.

Kelima, siapkan keuangan yang lebih untuk bersedekah
Mari lebihkan uang, lebihkan masakan, lebih kebutuhan sehari-hari kita, tapi bukan untuk kepentingan pribadi kita ataupun keluarga kita, namun dilebihkan segala-galanya untuk berbagi, untuk bersedekah, baik itu kepada anak yatim, fakir miskin dan kaum dhuafa.

Kewajiban bagi seorang Mukallaf


Kewajiban Seorang Mukallaf

Wajib berarti barangsiapa yang mengerjakannya maka memperoleh ganjaran pahala, dan apabila melanggarnya maka akan memperoleh ganjaran dosa.
Bagi seorang mukallaf ada kewajiban yang harus diketahuinya dan ditaati, agar tidak berdosa. Adapun kewajiban bagi seorang mukallaf ialah :
1. Wajib melaksanakan seluruh perkara yang diwajibkan Allah.
Apa-apa yang diwajibkan oleh agama untuk dikerjakan maka wajiblah untuk dikerjakan. Seperti wajibnya menjalankan apa yang tertuang di dalam rukun Islam dan rukun Iman. Jika sudah menerima agama Islam menjadi sebuah keyakinan dan merupakan agama yang benar, maka haruslah masuk secara kaffah, sebagaimana yang firman Allah di dalam AlQur'an Suroh Al-Baqoroh ayat 208
 ูŠุงูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ุงุฏุฎู„ูˆุง ููŠ ุงู„ุณู„ู… ูƒุงูุฉ، ูˆู„ุง ุชุชุจุนูˆุง ุฎุทูˆุง ุงู„ุดูŠุทุงู†، ุงู†ู‡ ู„ูƒู… ุนุฏู…ุจูŠู†
"Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara sempurna, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kamu"

2. Wajib melaksanakan seluruh perintah-Nya sesuai dengan apa yang diperintahkan dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya.
Jika sudah sanggup menerimanya, maka sudah seharusnya dalam mengerjakan setiap perkara yang akan dikerjakan harus mengetahui apa saja rukun maupun syarat yang harus dipenuhi, sehingga apa yang dikerjakan tidaklah menjadi sia-sia. Jika menjalankan pesawat saja ada SOP, maka beribadah kepada Allah ada SOP yang harus dipenuhi.

3. Wajib memerintahkan orang yang ia lihat meninggalkan rukun-rukun dan syarat-syarat atau tidak mengerjakan sesuai dengan cara yang telah ditetapkan.
Di dalam Suroh Al-Ashr ayat 3 Allah berfirman
ุงู„ุงุงู„ุฐูŠู† ุงู…ู†ูˆุง ูˆุนู…ู„ ุงู„ุตู„ุญุช ูˆุชูˆุง ุตูˆุจ ุงู„ุญู‚ ูˆุชูˆุง ุตูˆุจ ุงู„ุตุจุฑ
"Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih dan saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran"

Maka sudah seharusnya seorang muslim saling nasihat-menasihati jika melihat saudaranya mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan agama, karena hal ini merupakan bahagian dari sebuah kewajiban bagi seorang yang mukallaf.

4. Wajib untuk memaksa orang lain melaksanakan sesuai dengan yang diperintahkan agama jika ia mampu, jika tidak mampu maka wajib baginya mengingkari hal tersebut, ini merupakan selemah-lemahnya iman.

Bagi yang menentang akan perihal yang diwajibkan oleh agama padahal sudah dinasihati dengan jalan yang baik, maka wajiblah bagi seorang muslim untuk memaksanya melaksanakan apa yang telah diperintahkan, itupun jika mampu, jika tidak maka cukup ingkari perbuatannya. Dalam hal amar ma'ruf ini Allah telah berfirman di dalam Surat Ali-Imran ayat 104
ูˆู„ุชูƒู† ู…ู†ูƒู… ุงู…ุฉ ูŠุฏุนูˆู† ุงู„ู‰ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆูŠุฃู…ุฑูˆู† ุจุงู„ู…ุนุฑูˆู ูˆูŠู†ู‡ูˆู† ุนู† ุงู„ู…ู†ูƒุฑ ูˆุงูˆู„ุฆูƒ ู‡ู… ุงู„ู…ูู„ุญูˆู†
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung"

5. Wajib meninggalkan semua hal-hal yang diharamkan, melarang orang melakukannya dan mencegah dengan paksa jika ia mampu, dan jika tidak mampu wajib baginya mengingkari di dalam hati dan meninggalkan tempat maksiat tersebut.

Wajib bagi setiap yang mukallaf meninggalkan apa-apa saja yang telah diharamkan oleh agama. Maka jika ada yang mengerjakan yang haram atau yang telah dilarang oleh agama, wajiblah ia melarang perbuatan tersebut. Adapun urutan yang harus dilakukan ketika mencegah kemungkaran adalah sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw
ู…ู† ุฑุงุก ู…ู†ูƒู… ู…ู†ูƒุฑุง ูู„ูŠุบูŠุฑู‡ ุจูŠุฏู‡. ูุงู† ู„ู… ูŠุณุชุทุน ูุจู„ุณุงู†ู‡. ูุงู† ู„ู… ูŠุณุชุทุน ูุจู‚ู„ุจู‡ ูˆุฐุงู„ูƒ ุงุถุนู ุงู„ุงูŠู…ุงู†
"Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka cegahlah dengan tangannya (perbuatan), jika tidak sanggup maka dengan lisannya, jika tidak sanggup maka ingkarilah dengan hatinya, ini adalah selemah-lemahnya iman".

Sabda Nabi Muhammad Saw juga senada dengan poin ke 4 dalam hal wajibnya memaksa orang lain untuk mengerjakan sesuatu yang telah diwajibkan dalam agama. 

Wallohu a'lamu bisshowab

Rujukan : Kajian Sullamut Taufiq hal. 45-46

3 Peristiwa Mulia di Bulan Sya'ban


Alhamdulillah hari ini kita telah berada di bulan Sya'ban tepatnya hari ni kita berada di Tanggal 08 Sya'ban 1441 H, itu artinya tidak lama lagi kita akan memasuki bulan yang penuh dengan maghfiroh, yaitu bulan Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita sehingga kita bisa bertemu kembali di Bulan Ramadhan tahun ini.

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt
Menurut bahasa, sya'ban berasal dari kata syi'ab yang berarti jalan menuju puncak. Makna ini sesuai dengan posisi bulan Sya'ban yaitu sebelum bulan Ramadhan. Karena posisi bulan Sya'ban itu berada sebelum Bulan Ramadhan, maka Bulan Sya'ban bagi seorang muslim ada momen yang cocok untuk meraih puncak keistimewaan, momen yang cocok untuk mempersiapkan diri menyambut bulan yang paling mulia, yaitu bulan Ramadhan bulan yang penuh dengan ampunan.

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt
Di dalam buku yang berjudul "Hari-hari pilihan" terjemahan dari kitab "Fadhoil Al-Auqot" karangan Imam Baihaqi mengatakan bahwasanya Rasulullah Saw bersabda
"Bulan Sya'ban adalah bulan yang berada diantara bulan Rojab dan bulan Ramadhan, Orang-orang banyak yang melupakannya".

Jika di Bulan Rojab ada sebuah peristiwa besar yaitu Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw yang selalu diingat manusia, di Bulan Ramadhan lebih hebat lagi, karena di bulan ini banyak keistimewaan didalamnya, namun tidak demikian dengan bulan Sya'ban, Orang-orang melupakan bulan ini bukan karena bulan ini tidak memiliki keistimewaan, tapi kebanyakan orang-orang tidak mau tahu dengan keistimewaan yang terkandung di dalam bulan Sya'ban. Salah satu keistimewaan di bulan Sya'ban ialah diangkatnya amal-amalan hambanya Allah. Kemudian kita kenal ada yang namanya puasa Nisyfu Sya'ban, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw :
ูŠุทู„ุน ุงู„ู„ู‡ ุชุจุงุฑูƒ ูˆุชุนู„ู‰ ุงู„ู‰ ุฎู„ู‚ู‡ ููŠ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ููŠุบูุฑ ู„ุฎู…ูŠุน ุฎู„ู‚ู‡ ุงู„ุง ู„ู…ุดุฑูƒ ุงูˆ ู…ุดุงุญู†
"Allah Ta'ala memperlihatkan diri kepada Makhluk-Nya pada malam nisyfu sya'ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya, kecuali orang musyrik dan orang bengis". 

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt
Bisa jadi banyak orang-orang yang melupakan salah satu bulan yang mulia ini yaitu bulan Sya'ban. Namun ketahuilah sesungguhnya ada tiga peristiwa mulia yang diturunkan Allah pada bulan Sya'ban

Pertama, pada bulan Sya'ban Allah menurunkan ayat mengenai perintah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang tercantum di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56
ุงู† ุงู„ู„ู‡ ูˆู…ู„ุงุฆูƒุชู‡ ูŠุตู„ูˆู† ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ูŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ุตู„ูˆุง ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ูˆุง ุชุณู„ูŠู…ุง 
"Sesungguhnya Allah, para Malaikat-Nya bersholawat kepada nabi, hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". 

Para ahli tafsir sepakat bahwasanya ayat ini turun pada bulan Sya'ban. Sholawat berasal dari kata sholat yang berarti doa. Di dalam ayat itu ada 3 sholawat, yaitu sholawat yang disampaikan Allah, sholawat yang disampaikan para Malaikat Allah dan perintah sholawat disampaikan oleh umat Nabi Muhammad Saw. 

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt 
Ibnu Katsir didalam tafsirnya mengatakan, Allah bersholawat berarti Allah sedang memuji Nabi, Malaikat bersholawat karena berdoa, sedangkan manusia bersholawat ialah untuk meraih keberkahan dari Nabi Muhammad Saw. 

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt 
Karena perintah sholawat itu turunnya di bulan Sya'ban maka sudah seharusnya di bulan Sya'ban ini seorang muslim memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad Saw sehingga bisa memperoleh keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Kedua, Bulan Sya'ban merupakan saat diturunkannya perintah kewajiban berpuasa bagi umat Islam di bulan Ramadhan. Imam Nawawi di dalam Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab menjelaskan bahwa Rasulullah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama 9 tahun selama hidupnya, di mulai dari tahun kedua hijriah setelah kewajiban berpuasa turun pada bulan Sya'ban. 
Turunnya perintah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan pada bulan Sya'ban, yang mana bulan Ramadhan adalah bulan yang sungguh sangat mulia dan penuh keistimewaan, hal ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwasanya bulan Sya'ban juga memiliki kemuliaan yang seharusnya tidak dilupakan. 

Perintah kewajiban berpuasa di bulan Sya'ban juga seakan memberitahukan kepada kita untuk memperbanyak ibadah puasa sebagai persiapan diri untuk berpuasa di bulan Ramadhan yang merupakan sebuah kewajiban. 

Ketiga, Bulan Sya'ban juga menjadi sejarah dimulainya Ka'bah menjadi kiblat umat Islam yang sebelumnya Masjidil Aqsho, hal ini diterangkan di dalam Suroh Al-Baqoroh ayat 144 Allah Swt berfirman :

ู‚َุฏْ ู†َุฑٰู‰ ุชَู‚َู„ُّุจَ ูˆَุฌْู‡ِูƒَ ูِู‰ ุงู„ุณَّู…َุงุٓกِ ۚ ูَู„َู€ู†ُูˆَู„ِّูŠَู†َّูƒَ ู‚ِุจْู„َุฉً ุชَุฑْุถٰูฎู‡َุง ۖ ูَูˆَู„ِّ ูˆَุฌْู‡َูƒَ ุดَุทْุฑَ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุงู„ْุญَู€ุฑَุง ู…ِ ۗ 

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam". 

Di dalam kitab Tafsir Al Jami' li Ahkamil Qur'an karangan Imam Al Qurtubi mengatakan bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw kiblat dari Masjidil Aqsho ke Masjidil Harom pada malam selasa Bulan Sya'ban tepatnya malam Nisyfu Sya'ban. 

Karena Ka'bah ada simbol ketauhidan umat Islam, maka sudah seharusnya di bulan Sya'ban ini setiap umat muslim meningkatkan keimanannya dengan ketauhidan yang mantap. Menjadi muslim yang sejati, menjadi muslim yang kaffah. 

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt 
Itulah tiga peristiwa mulia yang terjadi pada bulan Sya'ban, dengan adanya peristiwa-peristiwa mulia itu, maka sudah seharusnya kita sebagai umat Islam mengambil keberkahan dari kemuliaan bulan Sya'ban, jangan kita biarkan bulan Sya'ban berlalu tanpa memperbanyak ibadah terutama puasa, khususnya puasa Nisyfu Sya'ban.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงุงู„ุตูˆุงุจ

Materi Khutbah di Masjid Mumfiqin Sipori-pori, 08 Sya'ban 1441/03 April 2020