ALASAN NABI MUSA AS INGIN MENJADI UMAT NABI MUHAMMAD SAW


Nabi Musa as pernah berdoa kepada Allah Swt agar Nabi Musa as bisa menjadi umat Nabi Muhammad Saw. 

Lalu pertanyaannya, mengapa Nabi Musa as ingin menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad Saw, padahal beliau sendiri adalah seorang Nabi dan memiliki umat sendiri?

Ada beberapa hal yang menyebabkan Nabi Musa as ingin menjad umat Nabi Muhammad, yaitu: 

  1. Karena umat Nabi Muhammad Saw adalah Umat terbaik 
  2. Karena umat Nabi Muhammad Saw adalah umat yang terakhir diciptakan akan tetapi nanti pada hari kiamat menjadi umat yang akan pertama kali masuk ke dalam surganya Allah 
  3. Karena umat Nabi Muhammad adalah umat yang ketika hendak melakukan kebaikan, namun jika tidak lalu dilakukan, maka Allah tetap akan mencatatnya sebagai satu kebaikan, dan jika ia melakukanya maka Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kebaikan. Sebaliknya, jika ia berniat melakukan keburukan, maka niatnya itu belum dicatat sebagai dosa sampai ia melakukan keburukan yang telah ia niatkan. 
  4. Karena umat Nabi Muhammad adalah umat yang diberikan syafaat dan bisa memberikan syafaat kepada orang lain 
  5. Karena umat Nabi Muhammad adalah umat yang sedekahnya di makan sendiri oleh mereka, dan mereka mendapatkan pahala dengan sedekahnya itu 
  6. Karena umat Nabi Muhammad adalah umat yang bacaan mereka meresap di dalam dada mereka, dan mereka membacanya
Ini adalah alasan-alasan yang menyebabkan Nabi Musa as ingin menjadi umat Nabi Muhammad Saw. Banyak keistimewan-keistimewaan yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad Saw, namun tidak diberikan kepada umat-umat nabi terdahulu. 

Keinginan Nabi Musa as ini dapat kita rujuk pada Kitab Terjemahan yang berjudul "Teladan Pribadi Rasulullah" karangan Utsman Nuri Topbas. Jika anda menginginkan kitab ini maka anda bisa mendownloadnya melalui link yang terdapat di bawah ini

DOWNLOAD

Sejarah & Keutamaan Sholat Tarawih

 Rasulullah Saw bersabda

من قام رمضان ايمانا وحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

"Barangsiapa siapa yang mendirikan sholat Tarawih dengan dasar iman dan hanya mengharap pahala dari Allah Swt maka Allah akan mengampunkan dosa-dosa yang telah lalu"

Makna iman di dalam hadits ini ialah yakin dan percaya akan balasan pahala yang akan  Allah berikan juga menunaikan sholat malam di malam-malam Bulan Ramadhan. Sedangkan makna Wahtisaban ialah hanya mengharap pahala itu dari Allah Swt, bukan dari yang lain.

Untuk lebih jelasnya lagi mengenai sejarah dan keutamaan sholat tarawih maka bisa langsung mendownload ebooknya melalui link di bawah ini

Sejarah dan Keutamaan Sholat Tarawih

Tiga Bentuk Pengagungan Allah Kepada Nabi Muhammad Saw

 





Tiga Bentuk Pengagungan Allah Kepada Nabi Muhammad Saw

Oleh : Syukri Al Hasby

Nabi Muhammad Saw dilahirkan ke dunia ini adalah sebagai hadiah yang mahal dan sangat berharga yang dianugerahkan oleh Allah Swt kepada umat manusia. Lahirnya Nabi Muhammad Saw ke dunia ini menjadi hadiah yang mahal dan sangat berharga, karena kedudukan Nabi Muhammad yang tinggi disisi Allah Swt dan lahirnya Nabi Muhammad akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah di dalam Suroh Al-Anbiya’ ayat 107

وما ارسلنك الا رحمة للعلمين

“dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Tingginya kedudukan Nabi Muhammad di sisi Allah Swt, menyebabkan bentuk ketaatan kita kepada Nabi Muhammad merupakan bentuk ketaatan kita juga kepada Allah Swt dan syarat untuk mendapatkan keridhoan dari Allah ialah harus mau mengikuti Nabi Muhammad saw. Sebagaimana firman Allah di dalam Suroh An-Nisa ayat 80

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa siapa saja yang mentaati Nabi Muhammad maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Sebaliknya, siapa saja yang mendurhakai Nabi Muhammad, maka dia telah mendurhakai Allah. Bagi orang-orang yang telah mendurhakai atau berpaling dari Nabi Muhammad, sesungguhnya mereka adalah orang yang merugi dan Nabi Muhammad tidak akan bertanggung jawab atas perbuatannya tersebut, karena kewajiban Nabi Muhammad hanyalah menyampaikan risalah Islam, engkau mau beriman atau tidak, maka itu kembali kepada diri setiap orang masing-masing.

Karena tingginya kedudukan Nabi Muhammad Saw di sisi Allah Swt, maka ada beberapa bentuk pengagungan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw, diantaranya ialah:

Pertama, Allah Panggil Nabi Muhammad dengan Sifatnya

Ketauhilah bahwasanya Allah tidak pernah menyebut nama beliau dengan hanya menyebut nama beliau, akan tetapi Allah selalu menyebut nama beliau dengan disandingkan dengan sifat atau gelarnya. Jika Allah saja ketika memanggil nama beliau tidak langsung menyebutkan namanya, akan tetapi selalu disandingkan dengan sifat atau gelar beliau sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad, maka sudah seharusnya juga kita lebih menghormati beliau, yaitu tidak menyebut nama beliau tanpa pengagungan kepada beliau. Larangan menyebut langsung nama Nabi Muhammad tanpa pengagungan kepada beliau telah disampaikan Allah di dalam Suroh An-Nur ayat 63

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)”.

Adapun jika tetap ada juga yang tidak menghormati beliau dengan menyebut nama beliau tanpa pengagungan kepadanya maka Allah telah memberi peringatan kepada mereka. Sebagaimana firman Allah di dalam Suroh Al-Hijr ayat 72

"Demi umurmu (Muhammad), Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)".

Bahkan kita dianjurkan bukan hanya ketika menyebut nama beliau saja kita mengagungkan beliau, akan tetapi juga ketika mendengar nama beliau. Orang yang mendengar nama Nabi Muhammad Saw lalu dia tidak bersholawat, maka dia adalah orang yang celaka, sebagaimana sabda Rasulullah Saw

“Sungguh celaka, orang yang disebut namaku disisinya, lantas dia tidak bersholawat kepadaku” (HR. Tirmidzi)

Di dalam hadits yang lain dikatakan orang yang pelit

“Orang yang pelit adalah orang yang ketika disebut namaku disisinya, lalu dia tida bersholawat untukku” (HR. Tirmidzi)

Kedua, Allah dan Para Malaikat Bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw

Pengagungan berikutnya yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw adalah Allah dan para Malaikat bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini telah jelaskan di dalam Suroh Al-Ahzab ayat 56

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

Melalui ayat ini dapatlah diketahui bahwasanya yang bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw ada tiga, yaitu :

1.  Allah

Sesungguhnya Allah pun bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, akan tetapi sholawatnya Allah kepada Nabi Muhammad bukan dimaknai bahwa sholawatnya Allah kepada Nabi Muhammad berarti Rahmat dan keridhoan Allah kepada Nabi Muhammad Saw.

2.  Malaikat

Selain Allah, para malaikat juga bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Adapun sholawatnya para malaikat kepada Nabi Muhammad Saw berarti doa atau permohonan kepada Allah agar Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan pengagungan-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. 

3.  Umat Nabi Muhammad

Umat Nabi Muhammad Saw juga diperintahkan Allah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Makna sholawat dari para Malaikat kepada Nabi Muhammad Saw berbeda dengan sholawat Umatnya kepada dirinya. Selain permohonan agar Allah selalu mencurahkan rahmat dan pengagungan Allah kepada Nabi Muhammad, juga sebagai sarana bagi umatnya untuk mendapatkan pahala dan anugerah dari Allah yang berlimpah ruah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Ketiga, Allah Menjadikan Nabi Muhammad Menjadi Nabi yang Paling Mulia

Pengagungan lainnya yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw ialah Allah menjadikan Nabi Muhammad menjadi nabi yang paling mulia dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain. Hal ini telah dikatakan Allah di dalam AlQur’an Suroh Al-Baqoroh ayat 253

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain"

Diantara kemuliaan Nabi Muhammad dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain adalah sebagai berikut:

1. Nabi Muhammad adalah pembawa bendera Al-Hamdi dan Nabi Adam as ada di barisan belakangku

2. Nabi Muhammad adalah pemberi syafa’at dan yang pertama kali menerima syafa’at

3. Nabi Muhammad adalah orang yang pertama kali membuka pintu surga dan masuk ke dalam surga

4. Nabi Muhammad adalah orang yang paling mulia dibandingkan dengan orang-orang terdahulu dan yang akan datang.

5. Nabi Adam as pernah memohon ampun kepada Allah dengan bertawassul atas nama Nabi Muhammad Saw

6. Nabi Musa as pernah berdoa kepada Allah Swt agar Nabi Musa as bisa menjadi umat Nabi Muhammad Saw. Ada beberapa hal yang menyebabkan Nabi Musa as ingin menjad umat Nabi Muhammad, yaitu:

 Umat terbaik

 Umat yang terakhir diciptakan akan tetapi nanti yang akan pertama kali masuk ke dalam surga

 umat yang ketika hendak melakukan

kebaikan, tapi tidak melakukanya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan, dan jika ia melakukanya maka Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus

kebaikan.

 umat yang diberikan syafaat dan bisa memberikan syafaat karena mereka

 umat yang sedekahnya di makan sendiri oleh mereka, dan mereka

mendapatkan pahala dengan itu

 umat yang bacaan mereka meresap di dalam dada mereka, dan mereka

membacanya

والله اعلم باالصواب

Amalan 10 Terakhir Ramadhan

Rasulullah Saw bersabda, "Bila masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan maka Rasulullah Saw mulai mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari menggauli istrinya, menghidupkan malamnya dan membangungkan keluarganya" (HR. Bukhori) 

Lalu pertanyaannya, amalan apa saja yang bisa kita amalkan di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Untuk mengetahui apa saja amalan yang bisa diamalkan di sepuluh terakhir bulan Ramadhan, bisa dibaca melalui buku yang berjudul "Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan" yang bisa di download melalui link di bawah ini

Rumah Islami Dalam Pandangan Islam

PENGERTIAN RUMAH

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia rumah itu berarti bangunan untuk tempat tinggal. Sedangkan dalam Bahasa Arab rumah disebut dengan Baytun, yang berarti bermalam.

Kenapa makna rumah dalam Bahasa Arab adalah bermalam, karena pada umumnya pada siang hari orang-orang akan bertaburan di muka bumi ini untuk mencari kehidupan dan kembali ke dalam rumah untuk bermalam

1000 Mukjizat Rasulullah Saw


Mukjizat adalah sebuah fenomena dan kejadian luar biasa yang tidak bisa dinalar oleh akal manusia. Mukjizat ini tidak diberikan kepada manusia biasa, akan tetapi hanya diberikn kepada para Nabi dan Rasul, tidak terkecuali kepada Nabi Muhammad Saw.

Setidaknya ada 1000 Mukjizat yang diberikan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. 1000 Mukjizat yang diberikan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw dapat kita baca melalui buku yang terdapat pada link di bawah ini


1000 Mukjizat Rasulullah

Terjemahan Kitab Hujjah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah


Selama ini kita mungkin sering mendengar bahwa ada satu kelompok yang suka menyalah-nyalahkan ibadah yang sering kita kerjakan dan sudah turun-temurun. Mereka sering mengatakan bahwa ibadah yang sering kita kerjakan ini merupakan ibadah yang tidak memiliki dasar atau dalil. Padahal sesungguhnya ibadah yang kita kerjakan selama telah memiliki dalil yang kuat. 

Di bawah ini ada sebuah kitab terjemahan yang berjudul "Hujjah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah", yang mana Insya Allah kitab ini akan menjawab semua bantahan mereka terhadap amalan yang kita perbuat


Kitab Terjemahan Hujjah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Ramadhan Berlalu, Istiqomah Ditingkatkan

RAMADHAN BERAKHIR, ISTIQOMAH DITINGKATKAN

Oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Alhamdulillah Ramadhan telah kita lalui dan sekarang kita telah berada di Bulan Syawal. Kita tentu sangat bersedih karena Ramadhan telah berlalu dan ini merupakan hal yang wajar karena kita harus ditinggal oleh bulan yang di dalamnya penuh keberkahan dan ampunan, yang mana keistimewaan bulan ini tidak akan pernah kita temukan di bulan-bulan lainnya. Kita juga patut untuk bergembira karena kita telah meraih kemenangan di bulan Syawal ini, yaitu menang berperang melawan hawa nafsu. Selain itu, bagi mereka yang sungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa, tentu gelar taqwa yang telah dijanjikan Allah pun pasti telah kita raih.
Setelah berlalunya bulan Ramadhan ini, ada hal yang harus kita sadari, yaitu mempertahankan sesuatu itu lebih sulit dibandingkan dengan meraih sesuatu. Karena mempertahankan sesuatu itu lebih sulit daripada meraihnya, maka hendaknyalah kita tetap menghidupkan semangat Ramadhan di bulan Syawal ini dan di bulan-bulan berikutnya. Jangan pernah kita beranggapan bahwa dengan berakhirnya Ramadhan berarti kita kembali lagi kepada kebiasaan yang lama, ia kalau kebiasaan itu baik, namun jika kebiasaan itu buruk maka jelas ini adalah pemahaman yang salah dan termasuklah kita golongan orang-orang yang merugi. 
Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Ketauhilah, Ramadhan itu dikenal juga dengan sebutan bulan latihan. Di dalam Bulan Ramadhan umat Islam di latih untuk menjadi orang-orang yang benar-benar bertaqwa kepada Allah. Jika kita mampu melewati latihan ini dan kita telah sampai meraih gelar taqwa, maka harapan selanjutnya ialah gelar taqwa yang telah diraih dari hasil latihan selama berada di dalam bulan Ramadhan akan selalu di bawa pada bulan-bulan berikutnya. Jangan sampai kita hanya mendapatkan gelar taqwa sebatas di bulan Ramadhan saja, lalu di bulan-bulan berikutnya gelar taqwa itu pun hilang tanpa berbekas dan kehidupan kita pun tidak ada perubahannya. Padahal dijelaskan bahwa orang yang sukses, bahkan orang yang mendapatkan lailatul qodar itu adalah orang yang setelah berlalu Ramadhan dosa-dosanya diampuni, ibadahnya meningkat, akhlak semakin mulia, lisannya mulai terjaga, intinya semua semakin meningkat. Maka dari itu, bagi siapa saja yang melihat Ramadhan telah berlalu, namun tidak ada peningkatan dalam hidupnya, maka dia telah gagal di Bulan Ramadhan dan dapat dipastikan dia bukan bagian dari orang-orang yang mendapatkan Lailatul Qodar.

Maka jalan yang harus di tempuh agar semangat Ramadhan itu tetap hidup setelah bulan Ramadhan berlalu ialah senantiasa menjalankan kebiasaan amal baik dan amal ibadah kita yang telah kita latih selama Bulan Ramadhan secara berkesinambungan di bulan-bulan lainnya, inilah yang dikatakan dengan istiqomah. Nabi Muhammad Saw telah bersabda

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”  (HR. Muslim)

Amalan yang sedikit tapi selalu rutin dikerjakan merupakan perbuatan yang amat dicintai oleh Allah, lalu Sholat bagaimana jika amalan di Bulan Ramadhan itu juga dapat kita rutinkan selama 11 bulan ke depan? Tentu Allah pasti amat sangat mencintai kita.

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Dengan berlalunya bulan Ramadhan, setidaknya ada beberapa rutinitas ibadah yang tidak boleh berlalu juga, akan tetapi seharusnya kita tetap Istiqomah menjalankannya, ibadah itu diantaranya ialah :

1. Puasa

Ibadah puasa itu jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, maka yakinlah itu akan selalu menghantarkan kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. Oleh sebab itu, setelah kita di gembleng selama sebulan penuh lamanya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, maka seharusnya membuat kita terlatih untuk menjalankan puasa-puasa sunnah di bulan-bulan lainnya. Jangan sampai, ibadah puasa kita hanya fokus di bulan Ramadhan saja itu pun karena diwajibkan, namun setelah bulan Ramadhan berlalu, lalu kita abai dengan puasa-puasa yang lain karena hukumnya hanyalah sunnah. Ini adalah pola fikir yang salah, seharusnya puasa wajib dan sunnah itu berjalan beriringan dan senantiasa istiqomah dijalankan, karena dibalik ibadah puasa, baik itu yang wajib maupun yang sunnah tetap dibaliknya ada keutamaan yang dapat kita rengkuh.

Di bulan Syawal ini, Nabi Muhammad Saw sangat menganjurkan untuk menjalankan puasa sunnah 6 hari, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتَّاً مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ 

“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim)

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

2. Sholat Qiyamul Lail
Selama bulan Ramadhan kita telah melatih diri kita untuk membiasakan diri melaksanakan sholat Qiyamul Lail, mulai dari sholat tarawih, sholat witir, sholat tahajjud dan sholat-sholat lainnya. Maka dengan berlalunya bulan Ramadhan, seharusnya kita mampu untuk istiqomah menjalankan amal-amal ibadah tersebut di luar Ramadhan, karena dengan beginilah ketaqwaan kita kepada Allah akan tetap terjaga dan latihan yang telah kita tempuh selama bulan Ramadhan menjadi sesuatu yang bermanfaat, bukan hanya menjadi rutinitas musiman belaka. 
Di dalam hadits Nabi Muhammad Saw bersabda

َأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

"Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Melaksanakan sholat malam merupakan sebaik-baik sholat yang dapat diamalkan setelah sholat fardhu. Mengapa sholat malam itu menjadi sholat yang lebih utama setelah sholat fardhu? Karena barangsiapa yang melaksanakan sholat malam maka sesungguhnya dia telah meninggalkan kenikmatan dunianya dan beralih mendekatkan dirinya kepada Allah demi meraih kenikmatan akhirat di kemudian hari.

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

3. Tilawah AlQur'an

Pada umumnya di bulan Ramadhan umat Islam itu lebih intens bersahabat dengan AlQur'an, hal ini merupakan hal yang wajar, selain karena AlQur'an itu merupakan kalam-kalam Allah yang mulia, dan apabila dibaca di Bulan Ramadhan pahalanya dilipatgandakan pahalanya, bulan Ramadhan juga bulan dimana diturunkannya AlQur'an.

Kini bulan Ramadhan telah berlalu, akan tetapi bukan berarti tilawah AlQur'an juga ikut berlalu, namun seharusnya kita tetap Istiqomah untuk terus selalu membacanya, mempelajari dan mengamalkan isinya di dalam kehidupan kita. Barangsiapa saja yang membaca, mempelajari dan mengamalkan isi yang terkandung di dalamnya, bukan hanya di dalam Bulan Ramadhan, akan tetapi juga di luar bulan Ramadhan maka sesungguhnya dia telah memproklamirkan dirinya sebagai bagian dari orang-orang yang terbaik menurut Rasulullah Saw. Hal ini telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw melalui sabdanya :

خيركم من تعلم القران و علمه

"Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar dan mempelajari AlQur'an"

Isi dari AlQur'an itu ialah firman-firman Allah yang mulia, kita tidak akan mampu untuk mengubah isinya, akan tetapi isinya mampu mengubah hidup kita. Maka dari itu merugilah orang-orang yang tidak mau bersahabat baik dengan AlQur'an, karena hadirnya AlQur'an itu dalam hidup kita mampu mengubah hidup kita menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Oleh sebab itu, sudah seharusnya tilawah AlQur'an yang kita lantunkan tidak hanya dilantunkan di bulan Ramadhan saja, akan tetapi di bulan-bulan lainnya juga tetap Istiqomah untuk dilantunkan, ditadabburi dan diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

4. Sedekah
Salah satu keberkahan bulan Ramadhan ialah setiap orang berbondong-bondong melakukan kebaikan, dan salah satu dari kebaikan yang sering kita lihat ialah meningkatnya orang-orang yang mau bersedekah kepada orang lain. Ini merupakan suatu hal yang positif dan harapannya ialah tidak berhenti di bulan Ramadhan, akan tetapi harus juga menjadi sebuah kebiasaan di bulan-bulan setelah bulan Ramadhan.

Banyak keutamaan sedekah yang dapat kita raih, salah satunya ialah dapat menghapuskan dosa dan kesalahan kita, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw

اَلصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْـخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

“Sedekah itu dapat menghapuskan kesalahan laksana air dapat memadamkan api"

Selain itu sedekah juga bisa menjadi obat bagi yang sedang sakit. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw

دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ.
 
”Obatilah orang yang sakit di antara kamu dengan bersedekah.”

Sudah selayaknya kita selalu meneladani Nabi Muhammad Saw, dikatakan di dalam Hadits bahwa

"Nabi Muhammad Saw adalah orang yang rajin bersedekah, dan lebih rajin lagi bersedekah ketika berada di bulan Ramadhan".

Nabi Muhammad itu dalam kesehariannya adalah orang yang dermawan, puncak kedermawanan beliau ialah ketika beliau berada di bulan Ramadhan. Ini memberi pelajaran bagi kita bahwa di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk menjadi orang yang lebih dermawan, namun bukan berarti ketika Ramadhan berakhir kedermawan kita berhenti, akan tetapi harus terus dipertahankan, karena sesungguhnya di balik kedermawanan kita kepada sesama banyak kebaikan yang dapat kita peroleh.

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Itulah setidaknya empat amalan yang seharusnya setelah berakhir bulan Ramadhan akan tetapi kita tetap Istiqomah mengamalkannya di luar bulan Ramadhan. Walaupun sesungguhnya setiap amal ibadah itu hendaknya haruslah istiqomah untuk diamalkan, karena inilah hal yang paling dicintainya oleh Allah Swt.

05 Syawal 1443 H / 05 Mei 2022 M

Tahapan Turunnya AlQur'an


Pengertian Nuzulul Qur'an

Oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I 

Nuzul artinya adalah pindahnya sesuatu dari atas ke bawah atau dipindahkannya sesuatu dari atas ke bawah. Pindahnya sesuatu dari atas ke bawah kita kenal dengan istilah turun. Maka dari itu Nuzulul Qur'an dapat kita artikan dengan berpindahnya atau turunnya AlQur'an dari atas ke bawah.

Turunnya AlQur'an hingga sampai ke dunia atau sampai ke Nabi Muhammad itu melalui beberapa tahapan, yaitu :

1. Allah menurunkan AlQur'an ke Lauhul Mahfudz

Tahapan pertama turunnya AlQur'an ialah turunnya AlQur'an dari sisi Allah secara keseluruhan ke Lauh Mahfudz. Apa itu Lauh Mahfudz? Di dalam buku Ensiklopedia Makna AlQur'an Syarah Al-Faazhul Qur'an dikatakan bahwa Lauh Mahfudz adalah tempat menyimpan berita-berita ghoib, termasuk AlQur'an. Lauh Mahfudz terbuat dari mutiara putih, lembaran-lembarannya dari permata yaqut yang berwarna merah, pena dan kitabnya adalah cahaya. Diterangkan juga di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir bahwa Lauh Mahfudz itu berwarna putih yang panjangnya seukuran antara langit dan bumi dan lebarnya antara barat dan timur, sisi-sisinya terbuat dari intan permata.

2. AlQur'an diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah

Setelah AlQur'an turun dari sisi Allah ke Lauh Mahfudzh, maka tahapan yang kedua ialah turunnya AlQur'an dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah (tempat di langit dunia). Turunnya AlQur'an dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah juga secara keseluruhan dan ini terjadi pada malam lailatul qodar tepatnya pada bulan Ramadhan.

3. Turunnya AlQur'an dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad Saw

Tahapan yang ketiga dari turunnya AlQur'an ialah turunnya AlQur'an dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

Kapan AlQur'an diturunkan?

🔹 Pada tahapan pertama AlQur'an diturunkan, tidak ada yang mengetahui kapan waktunya AlQur'an diturunkan kecuali hanya Allah Swt.

🔹 Pada tahapan kedua AlQur'an diturunkan secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah hanya dalam waktu satu malam saja yaitu pada bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan tiga ayat yang terdapat di dalam AlQur'an, yaitu :
1. Surat Ad-Dukhon ayat 3

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ َ

"Sesungguhnya Kami (mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar)"

2. Surat Al-Qodr ayat 1

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul qadar".

3. Surat Al-Baqoroh ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an... "

Berdasarkan ketiga ayat yang terdapat di atas maka jelaslah bahwa AlQur'an itu diturunkan pada malam yang berkah, yaitu pada malam Lailatul Qodar yang ada pada salah satu malam di malam-malam bulan Ramadhan.

Namun perlu untuk di garis bawahi bahwa turunnya AlQur'an yang dimaksud dari 3 ayat di atas bukanlah turunnya AlQur'an kepada Nabi Muhammad, akan tetapi turunnya AlQur'an dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa AlQur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itu secara berangsur-angsur selama 23 tahun, sedangkan pada 3 ayat di atas menjelaskan bahwa turunnya AlQur'an dalam satu malam saja.

🔹 Tahapan ketiga yaitu turunnya AlQur'an dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur. Adapun surat pertama yang turun ialah surat Al-Alaq ayat 1 - 5. Mengenai kapan turunnya surat Al-Alaq ini, dikalangan ulama juga terjadi perbedaan pendapat, ada yang mengatakan tanggal 17, 18, 21, 25 Ramadhan, bahkan ada juga yang berpendapat bulan Rabiul Awwal dan bulan Rojab.

Kenapa Di Indonesia Peringatan Nuzulul Qur'an pada Malam 17 Ramadhan?

Di Indonesia peringatan Nuzulul Qur'an jatuh pada malam ke - 17 Ramadhan karena mengikuti pendapat yang meyakini bahwa AlQur'an pertama kali turun ke bumi yaitu Surat Al-Alaq pada tanggal 17 Ramadhan. Adapun dalil yang digunakan berdasarkan Surat Al-Anfal ayat 41

 وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنٌِۗ

"kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari Al-furqon (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan".

Di dalam kitab Ibnu Katsir dikatakan bahwa AlQur'an itu diturunkan pertama kali pada "Yaumul Furqon", yaitu hari dimana Allah membedakan antara yang haq dan yang bathil, itulah pada kaum muslimin berperang melawan kaum kafir dalam perang Badar. Kapan perang Badar terjadi? Pada tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah.

والله اعلم بالصواب

Sumber Rujukan
- Ensiklopedia AlQur'an
- Tafsir Ibnu Katsir
- Buku Ulumul Qur'an

Syukuri 3 Hal ini ketika bertemu kembali dengan bulan Ramadhan


Mari Bersyukur di Bulan Ramadhan

Oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فيا عبادالله أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ 
وقال الله تعالى في كتبه الكريم يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْن

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Salah satu hikmah yang dapat kita petik ketika kita telah berada di dalam Bulan Ramadhan ialah kita mampu menjadi orang yang bersyukur. Mengapa kita perlu bersyukur kepada Allah Swt atas semua nikmat-nikmat yang kita peroleh selama ini? Karena hanya dengan cara bersyukurlah nikmat itu bisa bertambah dan menjauhkan diri kita dari azab Allah yang amat sangat pedih. Lalu setelah kita sampai di bulan Ramadhan ini, hal apa yang perlu kita syukuri?

1. Bersyukur atas nikmat umur yang telah diberikan Allah

Mari coba kita ingat-ingat, sudah berapa banyak orang-orang yang sudah mendahului kita sebelum masuknya belum Ramadhan, namun Alhamdulillah Allah masih memberikan umur yang panjang bagi kita sehingga kita saat ini sudah berada di dalam bulan Ramadhan dan Allah telah mengabulkan doa kita tahun lalu, yaitu kita berdoa agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Hari ini setelah kita bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, maka janganlah kita sia-siakan nikmat kesempatan yang telah diberikan oleh Allah ini kepada kita. Jika tetap kita sia-siakan kesempatan ini, maka tergolonglah kita kepada orang-orang yang merugi, seperti yang digambarkan di dalam Surat Al-Ashr 1-3

والعصر، ان الانسان لفي خسر، الا الذين آمنوا وعملوا الصلحت وتوا صوب الحق وتوا صوب الصبر

"Demi masa, sesungguhnya manusia manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran"

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, siapa itu? Itulah orang-orang yang Allah berikan kesempatan namun dia abaikan kesempatan tersebut, padahal jika dia manfaatkan waktu itu untuk menjadi orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh serta mau saling nasihat-menasihati dalam hal kebaikan dan kesabaran tentulah dia akan menjadi orang-orang yang beruntung.
Lebih parahnya lagi ialah jika ada orang yang telah bertemu dengan bulan Ramadhan, kemudian bulan Ramadhan itu berlalu namun dosa-dosanya belum diampuni padahal bulan Ramadhan itu bulan ampunan, maka kata Rasulullah inilah orang yang celaka, sebagaimana yang dikatakan di dalam hadits

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad)

2. Bersyukur atas nikmat kesehatan

Ada orang yang bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, akan tetapi dia bertemu dengan Bulan Ramadhan dalam kondisi sakit, sehingga menyebabkan dirinya tidak bisa berpuasa dan mengerjakan berbagai rangkaian ibadah di bulan Ramadhan. Maka sudah sepatutnyalah kita bersyukur kepada Allah kita bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat sehingga kita bisa berpuasa dan mengerjakan berbagai rangkaian ibadah di bulan Ramadhan. 
Nabi Muhammad Saw pernah bersabda

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Ketauhilah, kesehatan yang prima dan waktu yang luang sering menipu manusia. Di saat kesehatan itu masih prima kita sering melalaikan ibadah, namun ketika kesehatan telah berlalu baru kita menyesal dan berharap bisa kembali sehat sedia kala sehingga bisa beribadah kepada Allah, begitu juga dengan waktu, kita sering terlalaikan oleh waktu yang panjang, namun ketika waktu itu telah berlalu kita pun menyesal mengapa ketika waktu itu ada kita tidak mampu untuk memanfaatkannya. 
Maka dari itu, bagi kita yang masih diberikan Allah nikmat waktu dan kesehatan, maka bersyukurlah kepada Allah dengan cara memanfaatkannya untuk taat beribadah kepada Allah terlebih lagi saat ini kita telah berada di bulan Ramadhan.

3. Bersyukur atas nikmat iman

Syukur yang ketiga ialah bersyukur atas nikmat iman yang diberikan Allah kepada kita. Perintah puasa wajib terdapat di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 183

يايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"

Mari kita perhatikan ayat di atas, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa dan kita menyahuti panggilan tersebut karena di dalam dada kita ada rasa keimanan dan inilah nikmat terbesar. Adapun jika ada orang-orang yang tidak merasa bahwa Allah memanggil dirinya, maka ini adalah musibah yang besar bagi dirinya, karena dia tidak ada merasakan lagi keimanan di dalam dirinya. Maka orang-orang yang seperti ini sudah seharusnya kembali mendekatkan dirinya kepada ketaatan kepada Allah dan terus memperbarui imannya dengan memperbanyak ucapan "Laailaha illalloh". Dengan cara seperti ini Insya Allah dia akan merasakan kembali hadirnya keimanan di dalam dirinya.

بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني واياكم بما فيه من لايت والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هوا الغفور الرحيم

Jangan lupa mari berbagi kebaikan dengan men-share tulisan ini

Mengapa Allah Hanya Memanggil Orang-orang yang Beriman Untuk Menjalankan Ibadah Puasa?

Dalil Perintah Puasa di Bulan Ramadhan 

Perintah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan terdapat di dalam AlQur'an Surat Al-Baqoroh ayat 183 

يايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" 

Perhatikan pada ayat tersebut, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman saja, lalu pertanyaannya mengapa Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman saja? 

Mari temukan jawabannya dalam link video yang terdapat di bawah 👇

Semoga bermanfaat!! 

Allah Hanya Memanggil Orang-orang yang Beriman Untuk Menjalankan Ibadah Puasa

3 Keistimewaan yang Diturunkan Allah di Dalam Bulan Sya'ban


Keistimewaan yang Diturunkan Allah di Dalam Bulan Sya'ban

Oleh : Muhammad Syukri Hasibuan, S.Sos.I

Di dalam Kitab Al-Fadhoil dijelaskan bahwa Sya'ban itu berasal dari kata "Tasya'ub" yang berarti bercabang-cabang. Pengertian ini sesuai dengan banyaknya cabang-cabang kebaikan dan keistimewaan yang terdapat di dalam bulan Sya'ban. Sehingga di dalam hadits dikatakan, "Keutamaan bulan Sya'ban itu dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya adalah seperti keutamaanku dibandingkan dengan Nabi-Nabi yang lain". Adapun cabang-cabang kebaikan yang bisa diamalkan oleh umat Islam di dalam Bulan Sya'ban ialah berpuasa sunnah khususnya puasa Nisyfu Sya'ban, mengisi malam Nisyfu Sya'ban dan memperbanyak sholat sunnah.

Selain banyaknya cabang-cabang kebaikan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban, maka Allah juga menurunkan keistimewaan di dalam Bulan Sya'ban. Jika bulan Rojab menjadi istimewa karena di dalamnya terdapat peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw dan Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena di dalamnya diturunkan AlQur'an, maka setidaknya ada tiga hal yang membuat bulan Sya'ban menjadi istimewa, diantaranya ialah :

1. Berpindahnya Kiblat Umat Islam dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah

Setelah Nabi Muhammad kembali dari perjalanan Isra' dan Mi'raj dan membawa perintah sholat, maka semenjak itu hingga selama 17 bulan umat Islam sholat dengan kiblat yang mengarah ke Baitul Maqdis. Maka selama 17 Bulan itu juga Nabi Muhammad berharap kepada Allah dengan cara selalu menghadapkan wajahnya ke langit agar kiblat umat Islam dapat beralih ke Ka'bah. Nabi berharap demikian karena orang-orang Yahudi mengolok-olok umat Islam dengan mengatakan, "Mereka mengatakan Islam itu berbeda dengan Yahudi, akan tetapi kiblat mereka mengikuti agama Yahudi". 
Akhirnya, setelah berharap selama 17 bulan, Allah pun menjawab harapan Nabi Muhammad, kiblat umat Islam pun beralih dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah. Peristiwa ini telah diabadikan di dalam AlQur'an Surat Al-Baqoroh ayat 144

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ

"Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam".

Dikabulkan Allah doa Nabi Muhammad agar kiblat umat Islam kembali ke Ka'bah setelah 17 bulan lamanya seakan mengajarkan kita untuk tidak pernah bosan berdoa kepada Allah. Lihatlah, sekelas Nabi Muhammad Saw dikabulkan doanya setelah 17 bulan lamanya, lalu siapa kita yang sedang berdoa langsung ingin dikabulkan.

Maka di bulan Sya'ban ini mari kita perbanyak doa kepada Allah, setidaknya ada tiga doa yang kita panjatkan terutama setelah membaca Surat Yasin tiga kali. Doa pertama diberikan umut yang panjang dan selalu dalam ketaatan, doa kedua, diberikan keluasan rezeki dan dijauhkan dari segala macam mara bahaya dan doa ketiga ialah meminta kepada Allah agar kelak kita bisa mati dalam keadaan Husnul Khotimah.

2. Turunnya awal perintah Sholawat
Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya".

Ayat di atas adalah ayat akan perintah bagi orang-orang yang beriman untuk selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Mayoritas ulama, khususnya para ahli tafsir sepakat bahwa turunnya ayat ini adalah pada bulan Sya'ban.

Dalam ayat itu tersebut terdapat tiga sholawat, yaitu sholawat dari Allah kepada Nabi Muhammad, sholawat dari para Malaikat kepada Nabi Muhammad dan sholawat orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Sholawatnya Allah kepada Nabi Muhammad merupakan pujian yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, sedangkan sholawatnya para Malaikat kepada Nabi Muhammad Saw merupakan doa kepada Allah agar melimpahkan anugerahnya kepada Nabi Muhammad Saw. Adapun sholawatnya orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw berarti berharap agar Allah selalu mencurahkan Rahmat dan ampunan-Nya kepada kita.
Karena turunnya perintah Sholawat ini di bulan Sya'ban, maka dianjurkanlah bagi umat Islam untuk memperbanyak melantunkan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw pada bulan Sya'ban ini. Ketauhilah, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda

"Barangsiapa yang bersholawat satu kali kepadaku, maka Allah akan bersholawat 10 kali kepadanya".

3. Diturunkannya kewajiban berpuasa di Bulan Ramadhan

Imam An-Nawawi dalam Majmu' Syarah Al-Muhadzadzab mengatakan bahwa Nabi Muhammad menjalankan ibadah puasa selama hidupnya sebanyak 9 kali dan di mulai dari tahun ke - 2 Hijrah setelah perintah kewajiban berpuasa diturunkan pada bulan Sya'ban. Hikmah perintah puasa ini diturunkan di Bulan Sya'ban ialah agar umat Islam bersegera mempersiapkan dirinya di Bulan Sya'ban sehingga ketika masuk ke dalam bulan suci Ramadhan umat Islam telah siap untuk menjalankan setiap rangkaian ibadah di Bulan Ramadhan dengan maksimal, khususnya ibadah puasa.
Aisyah ra. pernah berkata bahwa, "Aku tidak pernah melihat beliau lebih sering berpuasa daripada bulan Sya'ban" (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa Nabi Muhammad Saw demikian? Sesungguhnya karena Nabi Muhammad ingin mengajarkan kita untuk berlatih berpuasa di bulan Sya'ban, sehingga ketika bulan Ramadhan tiba, kita mampu berpuasa dengan maksimal, tanpa merasa berat sedikit pun. Maka sudah selayaknya jugalah kita sebagai umat Nabi Muhammad memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban, sehingga kita sudah terbiasa nanti ketika menjalankan ibadah wajib di bulan Ramadhan.

والله اعلم بالصواب

Keluarga, Harta, dan Amal


Keluarga, harta dan Amal Ibadah

Oleh : M. Syukri Hsb, S.Sos.I

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Nabi Muhammad Saw bersabda

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketauhilah, ketika nanti kita meninggalkan dunia dan diantarkan ke tempat pemakaman maka ada tiga yang akan mengantarkan kita yaitu

✅ keluarga

✅ harta

✅ amal ibadah

Lalu setelah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka dari tiga yang telah mengantarkan kita akan ada dua yang akan meninggalkan kita

❎ Keluarga

❎ Harta

satu yang setia menemani kita

✅ Amal Ibadah

Sahabat Muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Keluarga akan menjadi berarti buat kita setelah berada di alam barzakh jika semasa kita hidup di dunia kita mampu mendidik mereka menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah, namun sebaliknya jika kita tidak mampu membuat mereka untuk bertaqwa kepada Allah maka ini bisa menjadi sebab bertambahnya siksa yang kita dapat di dalam kubur.

Harta yang kita tinggalkan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita jika ahli waris mau menginfaqkan sebagian harta yang telah ditinggalkan atas nama kita, namun jika mereka tidak teringat untuk menginfaqkan sebagian dari harta itu atas nama kita maka harta itu akan menjadi sia-sia belaka kita.

Amal ibadah yang menemani kita bisa menjadi penolong bagi kita dari kejamnya siksa kubur jika kita mau menunaikannya semasa kita hidup dunia, namun jika tidak, maka amal ibadah kita bisa menjadi sebab semakin dahsyatnya siksa kubur yang akan kita alami.

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah Swt

Oleh sebab itu, mumpung kita masih hidup di dunia, mari kita didik keluarga kita menjadi keluarga yang bertaqwa kepada Allah

Mumpung kita masih hidup di dunia mari kita jadikan harta yang kita miliki di dunia ini menjadi harta yang bermanfaat. Ketauhilah harta yang sesungguhnya yang kita miliki bukanlah harta yang miliki di dunia ini akan tetapi harta yang sesungguhnya ialah harta yang disedekahkan dan kita infaqkan di jalan Allah

Mumpung masih hidup di dunia ini mari kita tunaikan kewajiban kita kepada Allah, jangan sampai kita lalai dari kenikmatan dunia yang sifatnya hanya sementara.

والله اعلم بالصواب

11 Desember 2021 M / 06 Jumadil Awwal 1443 H

Tiga Cara Mengisi Hari Kemerdekaan

Tiga Cara Mengisi Hari Kemerdekaan

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Menjadi bangsa yang merdeka merupakan harapan setiap bangsa, terutama bagi bangsa-bangsa yang saat ini masih berada dalam penjajahan. Alhamdulillah, saat ini bangsa Indonesia sudah menjadi negara yang merdeka, sudah 76 tahun negara Indonesia terbebas dari segala bentuk penjajahan dari negara lain. Kemerdekaan Indonesia bukan diperoleh dari hasi pemberian negara lain, akan tetapi kemerdekaan Indonesia diperoleh dari sebuah perjuangan, yang bukan hanya mengorbankan harta namun juga mengorbankan jiwa.
Saat ini, sudah 76 tahun usia kemerdekaan negara Indonesia, walaupun pada kenyataannya masih banyak yang merasa terjajah di negeri sendiri, karena ulah para penguasa di negeri ini yang tidak pernah berpihak kepada rakyat dan ditambah lagi oleh pelaku korupsi yang seenak hatinya memakan uang rakyat. Meskipun demikian kita harus tetap bersyukur kepada Allah Swt atas kemerdekaan yang telah kita peroleh, sehingga kita tidak lagi mendengar suara dentuman bom dan tembakan senjata akibat peperangan.
Maka dari itu, bagi kita yang telah meraih kemerdekaan ini sudah seharusnya mengisi kemerdekaan ini dengan sesuatu yang dapat menjadikan negara ini besar dan menjadikan negara ini tetap bersatu hingga hari akhir nanti. Adapun cara untuk mengisi kemerdekaan ini diantaranya ialah dengan :

Selengkapnya silahkan lihat melalui link di bawah 👇

Khutbah Jum'at, 11 Muharram 1443 H / 20 Agustus 2021 M

Pesan Terakhir dari Ramadhan


Khubah Pertama

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt

Tepat saat berkumandang azan maghrib semalam, bulan yang mulia, bulan yang penuh keberkahan dan ampunan telah meninggalkan kita. Hari ini kita telah berada di bulan Syawal, hari kemenangan bagi orang-orang yang beriman dan semoga setelah berlalunya bulan Ramadhan, dosa-dosa kita telah diampuni oleh Allah Swt, karena hadirnya bulan Ramadhan ini salah satu keutamaannya ialah sebagai jalan bagi kita agar dosa-dosa kita diampunkan oleh Allah, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw bersabda

من صام رمضان ايمانا وحتسابا غفر له ماتقدم من ذنبه 

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah Swt maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu" 

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Sebaliknya, jika masih ada orang yang telah bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosa-dosanya belum juga diampuni, maka ini adalah golongan orang-orang yang celaka, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw 

رغم عنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل ان يغفر 

"Celakalah orang yang masuk ke dalam bulan Ramadhan kemudian bulan Ramadhan berlalu begitu saja sebelum dosanya diampuni oleh Allah Swt" 

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Ketauhilah, kepergian bulan Ramadhan sesungguhnya mendatangkan tangisan bagi orang-orang yang beriman, ada tangisan kesedihan dan tangisan kebahagiaan. Orang-orang beriman mengeluarkan tangisan kesedihan karena bulan yang penuh dengan keberkahan dan ampunan ini telah pergi meninggalkan umat Islam, padahal jika setiap umat Islam mengetahui keutamaan yang terkandung di dalamnya, umat Islam berharap agar bulan ini tidak pergi dan setiap bulan itu adalah bulan Ramadhan, hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw di dalam sabdanya
"Seandainya umat manusia mengetahui pahala ibadah di bulan ramadhan, maka niscaya mereka akan meminta agar satu tahun penuh menjadi ramadhan.” (HR. Tabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt

Kemudian, selain tangisan kesedihan, orang-orang yang beriman juga mengeluarkan tangisan kebahagiaan karena telah meraih kemenangan, yaitu menang melawan hawa nafsu dan berhasil melatih diri menjadi manusia yang bertaqwa. Mampu mengendalikan hawa nafsu dan mampu melatih diri menjadi insan yang bertaqwa merupakan kenikmatan yang tiada tara yang seharusnya disyukuri, salah satunya ialah dengan takbiran yang telah kita kumandangkan sejak ba'da maghrib hingga tadi sebelum sholat id yang kita kerjakan. 

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Ramadhan saat ini telah pergi meninggalkan kita, andai umur kita panjang maka kita bisa kembali berjumpa dengannya ialah pada Ramadhan tahun yang akan datang, maka dari itu jika Ramadhan bisa meninggalkan pesan, maka ada beberapa pesan yang dia tinggalkan, yaitu :

Pesan pertama, tetaplah sholat berjama'ah 

Sudah sama-sama kita ketahui bahwasanya ketika bulan Ramadhan datang, masjid yang biasanya jama'ahnya sedikit akan mendadak ramai karena sebab datangnya bulan Ramadhan. Maka dengan berlalunya bulan Ramadhan, harapannya ialah tetaplah hadir di Masjid untuk sholat berjama'ah sebagaimana selama bulan Ramadhan kita selalu hadir di Masjid untuk sholat berjama'ah, Nabi Muhammad Saw bersabda :

صَلَاةُ الْجَمَا عَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَ عِسْرِيْنَ دَرَجَةً

“ Shalat jama’ah lebih utama duapuluh tujuh derajat daripada shalat sendirian”

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Pesan kedua, tetaplah melantunkan ayat-ayat suci AlQur'an 

Jika di bulan Ramadhan kita begitu semangatnya untuk membaca AlQur'an, bahkan mengkhatamkan AlQur'an, maka setelah berakhirnya bulan Ramadhan, dia berpesan agar lantunan ayat-ayat suci AlQur'an itu berhenti di akhir Ramadhan, akan tetapi teruskanlah lantunkan ayat-ayat suci AlQur'an itu di luar bulan Ramadhan. Selalu melantunkan ayat suci AlQur'an merupakan salah satu cara termudah untuk meraih pahala yang tak terhingga, sebagaimana Sabda Rasulullah 
من قرأ حرف من كتب الله فله به حسنة والحسنة بعشر امثلها لاقول الم حرف ولكن الف حرف و لم حرف و ميم حرف 
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur'an) maka satu kebaikan baginya dan satu kebaikan dilipatkan gandakan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya. Rasulullah saw bersabda : Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf"

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Pesan ketiga, tetaplah bersedekah 

Ketika berada di bulan Ramadhan, umat Islam biasanya akan semakin rajin untuk bersedekah, terutama bersedekah dengan memberikan makanan berbuka puasa, maka ketika Ramadhan berlalu, dia berpesan agar di luar Bulan Ramadhan kebiasaan sedekah yang telah dipupuk selama Bulan Ramadhan tidak berakhir begitu saja, akan tetapi haruslah tetap dipertahankan. Perbanyaklah bersedekah karena bersedekah tidak akan mengurangi harta kita, sebagaimana Sabda Rasulullah 

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ 
 
Maknanya: “Harta tidak akan berkurang dengan sebab sedekah” (HR Muslim).

Bahkan harta yang kita sedekahkan akan diganti dengan yang lebih baik, sebagaimana Sabda Rasulullah 

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

"Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku berinfak kepadamu" (Muttafaq 'Alaih).

Jama'ah Sholat Id yang dirahmati oleh Allah Swt 

Pesan keempat, tetaplah berpuasa 

Berpuasa itu banyak mendatangkan manfaat bagi yang menjalankannya, maka dari itu ketika Ramadhan telah berlalu sudah seharusnya rutinitas ibadah puasa selama bulan Ramadhan tetap dipertahankan di luar bulan Ramadhan, yaitu dengan menjalankan puasa-puasa sunnah, apalagi di bulan Syawal ini sangat dianjurkan untuk menjalankan puasa 6 hari di bulan Syawal. Bagi orang yang menjalankan ibadah 6 hari bulan Syawal maka dia bagaikan telah berpuasa selama satu tahun, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw 
 
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
 
“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun” (HR Muslim).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

 

Pengertian Puasa, Syarat sah dan Syarat Wajib Puasa serta Orang yang boleh tidak berpuasa


Pengertian Puasa
Menurut bahasa puasa artinya mencegah.
Sedangkan menurut Istilah puasa berarti mencegah diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari.

Dalil Puasa Ramadhan
Adapun dalil diperintahkannya untuk berpuasa di bulan Ramadhan ialah Firman Allah Swt di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 183
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"

Syarat Sah Puasa
Adapun sahnya puasa seseorang apabila memenuhi beberapa syarat, yaitu:
1. Islam
Orang yang tidak beragama Islam jika dia berpuasa maka puasanya tidak sah, begitu juga ketika orang Islam berpuasa hendaklah selalu berada dalam keadaan Islam, jika murtad maka batallah puasanya. 

2. Berakal
Selama melaksanakan ibadah puasa maka harus selalu berada dalam keadaan berakal. 

3. Bersih dari haidh dan nifas
Bagi perempuan yang suci dari haidh dan nifas maka wajib berpuasa. Jika seorang wanita mengalami haidh dan nifas di tengah menjalani ibadah puasa, maka puasanya batal dan wajib baginya untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa karena menghormati orang yang sedang berpuasa. 

4. Berpuasa di hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa
Orang yang berpuasa haruslah mengetahui bahwa dia berpuasa di hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa, bukan di hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa. 

Syarat Wajib Puasa
Puasa Ramadhan wajib bagi setiap mukallaf yang tidak memiliki udzur, yaitu :
1. Islam
2. Mukallaf (baligh dan berakal) 
3. Mampu untuk berpuasa :
👉 Mampu secara lahiriah : sehat, bukan yang tergolong orang yang sudah tua, bukan ibu hamil dan menyusui. 
👉 Mampu secara syariat : perempuan yang suci dari haid dan nifas
4. Muqim

Adapun yang tidak wajib puasa ada sembilan kriteria, yaitu
1. Anak kecil
Anak kecil walaupun tidak wajib berpuasa namun wajib bagi orangtua untuk melatih dan menyuruhnya untuk berpuasa, walaupun itu hanya puasa setengah hari. 

2. Orang gila
Orang gila yang tidak disengaja tidak wajib berpuasa, karena akalnya tidak sempurna. 

3. Orang sakit
Orang yang sakit tidak diwajibkan berpuasa, jika sakitnya itu menyebabkan dirinya merasa berat untuk menjalankan ibadah puasa atau apabila dia berpuasa dapat menyebabkan bertambah paranya sakit yang dideritanya. Orang sakit ini boleh tidak berpuasa jika atas saran dokter muslim yang adil atau karena pengalaman pribadinya jika dia berpuasa maka akan terjadi sesuatu padanya. 

4. Orangtua
Tidak diwajibkan berpuasa bagi orang yang sudah tua atau lansia. Umur disini tidak menjadi batasan, karena bisa jadi usia 50 atau 60 tahun fisiknya sudah seperti orangtua disebabkan karena penyakit yang dideritanya. 

5. Haid
Wanita yang masih keluar darah haidnya tidak wajib berpuasa

6. Nifas
Waniya yang masih keluar darah nifasnya juga tidak wajib berpuasa

7. Hamil
Ibu yang hamil tidak wajib berpuasa, apabila dia merasa berat menjalankan puasa karena kondisinya yang sedang hamil

8. Menyusui
Ibu yang menyusui tidak wajib berpuasa, karena mungkin dalam kondisi menyusui bayinya sehingga menguras energi dan nutrisi di dalam tubuhnya, akibatnya tidak kuat menjalankan ibadah puasa. 

9. Musafir
Orang yang melakukan perjalanan sejauh 84 Km, maka tidak wajib berpuasa, dengan catatan dia melalukan perjalanan sebelum waktu sahur berakhir. 
Hukum puasa bagi seorang musafir ada 3
👉 Haram berpuasa dalam perjalanan jika dengan berpuasa dapat membahayakan dirinya. 
👉 Boleh memilih tetap berpuasa atau berbuka karena perjalanan yang dilakukannya tidak memiliki pengaruh apapun terhadap dirinya jika dia berpuasa
👉 Dianjurkan untuk berbuka jika merasa berat untuk berpuasa ketika melakukan perjalanan walaupun jika berpuasa tidak membahayakan dirinya. 

Perlu diketahui bahwa batas lama dari seorang musafir hanyalah 3 hari setelah dirinya sampai di tempat tujuannya, jika lewat dari 3 hari maka wajib baginya berpuasa. Berbeda jika dirinya terus-menerus melakukan perjalanan, maka berlaku terus status musafir bagi dirinya.

Wallohu a'lamu bisshowab

Sumber : Fiqih Praktis Buya Yahya

Ziarah Kubur


Pengertian Ziarah
Ziarah berasa dari bahasa Arab yaitu Zaara - Yazuuru - Ziyarotan (زار - يزور - زيرة) yang artinya berkehendak mendatangi atau berkunjung ke suatu tempat.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa ziarah kubur adalah mengunjungi kuburan dari saudara, kawan, kerabat atau siapapun. Pada umumnya ketika umat muslim mengunjungi kuburan biasanya akan mengirimkan doa, mengenangnya dan menjadikan nasihat bagi diri sendiri bahwa dirinya pasti akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang telah mendahului dirinya.

Dalil Ziarah Kubur
Nabi Muhammad Saw bersabda

 نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ اْلقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا 

"Dahulu aku telah melarang kalian berziarah ke kubur. Namun sekarang, berziarahlah kalian ke sana" . (H.R. Muslim)

 اِسْتَأْذَنْتُ رَبِّيْ أَنْ أَسْتَغْفِر لأُمِّيْ ، فَلَمْ يَأذَنْ لِيْ ، وَاسْتأذَنْتُهُ أنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأذِنَ لِيْ

Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengijinkan. Kemudian aku meminta ijin kepada Allah untuk berziarah ke makam ibuku, lalu Allah mengijinkanku. (H.R. Muslim)

زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَبْرَ اُمِّهِ, فَبَكَي وَاَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ

Nabi Saw ziarah ke makam ibunya kemudian menangis lalu menangislah orang-orang sekitarnya. (HR. Muslim dan al-Hakim)

Hukum Ziarah Kubur
Jika berbicara mengenai hukum mengenai ziara kubur, maka hukumnya terbagi dua, yaitu :

Pertama, hukum ziarah kubur bagi laki-laki
Menurut jumhur ulama ziarah kubur bagi laki-laki hukumnya sunnah dan disyariatkan di dalam Islam, karena mengingat kematian itu diperintahkan di dalam agama. (1) 
Sedangkan menurut Mazhab Daud Zhohiri yaitu pendapat Ibnu Hazmin mengatakan ziarah kubur itu wajib.(2)
Kedua, hukum ziarah kubur bagi perempuan terbagi atas tiga
- Ziarah Kubur bagi perempuan itu sunnah, karena mengingat akan kematian itu diperintahkan bukan hanya bagi laki-laki, akan tetapi juga bagi perempuan. Dengan ketentuan apabila perempuan berziarah kubur hendaklah dirinya mampu mengontrol emosinya sehingga tidak sampai meratap ketika sampai kuburan orang yang telah meninggalkan dirinya. Pendapat ini merupakan pendapat yang mu'tamad. 

- Berziarah bagi perempuan hukumnya haram apabila perempuan yang berziarah tersebut tidak mampu mengontrol emosinya sehingga kembali meratapi seseorang yang telah terlebih dahulu meninggalkan dirinya. 

- Berziarah kubur bagi perempuan makruh karena dikhawatirkan tidak mampu mengendalikan dirinya ketika melihat kuburan orang yang terlebih dahulu meninggalkan dirinya. 

Waktu yang baik berziarah kubur
Pada umumnya berziarah kubur itu tidak terikat oleh waktu, bisa kapan saja. Namun jika ditanya mengenai waktu yang paling utama ketika hendak berziarah kubur ialah :
Pertama, berziarah kubur pada hari Jum'at, karena hari Jum'at merupakan sayyidul ayyam (hari yang mulia), penghulu daripada hari dan hari Jum'at juga merupakan hari mustajabnya doa. 
Kedua, berziarah kubur setelah ashar, karena salah satu waktu diijabahnya doa ialah setelah ashar. 

Berdasarkan dua waktu di atas, disimpulkanlah bahwa waktu yang palinh baik itu berziarah kubur ialah ketika hari Jum'at setelah waktu ashar. 

Adab-adab Ziarah Kubur
Adab dalam berziarah kubur di bagi akan dua perkara, yaitu :
Pertama, adab sebelum memasuki daerah pemakaman (magbaroh). Adapun adab sebelum masuk ke daerah pemakaman adalah :
1. Memberi salam
Hendaknya sebelum memasuki daerah pemakaman, peziarah atau orang yang melintasi daerah pemakaman mengucapkan salam, karena sesungguhnya mereka mendengar dan menjawab salam dari manusia. Adapun bunyi salamnya ialah
السلام عليكم يا اهل القبور من المؤمنين والمسلمات وانا ان شاءالله بكم لاحكون
2. Apabila menggunakan sandal, maka tidak perlu melepaskan sandalnya kecuali sandalnya bernajis dan sandalnya merupakan sandal yang mahal. 

Kedua, adab bagi peziarah setelah memasuki daerah pemakaman adalah :
1. Jangan duduk di atas kubur, sebagaimana sabda Rasulullah Saw 
"Sungguh duduk di atas bara api sampai tubuh terbakar dan kulit terkelupas itu lebih baik kamj daripada duduk di atas kubur" 

2. Menghadap kubur dan mendekati kubur ketika membaca kalimat-kalimat thoyyibah

3. Mengucapkan salam kembali setelah selesai berziarah dan hendak meninggalkan daerah pemakaman. 

Hal-hal yang dilakukan ketika berziarah kubur
Adapun hal-hal yang hendaklah dilakukan oleh peziarah kubur ialah :
1. Membaca AlQur'an, baik seluruhnya atau sebagian dari ayat-ayat AlQur'an, jika tidak mampu minimal membaca surat Al-Fatihah. 
2. Berdzikir
3. Mendoakan si mayyit. 

Hukum mengenai perkara-perkara yang sering dilakukan oleh peziarah kubur
1. Menabur bunga
Menabur bunga di kuburan ketika berziarah kubur hukumnya adalah sunnah, yaitu dengan mengqiyaskan atas apa yang dilakukan Rasulullah Saw atas dua penghuni kubur yang sedang disiksa, kemudian Rasulullah menancapkan dua pelepah kurma yang masih segar dan mengatakan selama pelepah kurma tersebut masih segar maka pelepah kurma tersebut akan senantiasa berdzikir kepada Allah sehingga dapat meringankan penghuni kubur yang sedang disiksa. (3)

2. Menyiram kubur dengan air
Jika menyiram kubur dengan air biasa maka hukumnya sunnah, akan tetapi jika menggunakan air mawar maka hukumnya makruh (4), karena mubazzir. 
Adapun tujuan menyiram kubur dengan air ialah berharap agar kuburan dan penghuninya merasa dingin.(5)

3. Haram mencabut rumput 
Apabila terdapat rumput di sekitar kuburan, maka haram hukumnya bila dicabut (6). Adapun jika rumputnya sudah terlalu tinggi cukup dirapikan saja, jangan sampai dicabut keseluruhannya. 

4. Mencium nisan hukumnya makruh, kecuali nisan orang-orang yang sholeh dengan tujuan mengambil keberkahannya.(7)

5. Wanita haid boleh berziarah ke kubur karena memang ibadah ziarah kubur tidak terikat syarat, waktu dan rukuj tertentu. Namun dengan ketentuan tidak boleh membaca AlQur'an dan ayat-ayat AlQur'an, cukuplah berdoa saja. 

Catatan Perut 
(1)Pendapat dari Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani di dalam Kitab Fathul Bari, Syeikh Al-Mubarok Fury di dalam Kitab Tuhfatul Ahwaji dan Imam An-Nawawi di dalam Kitab Syarah Al Muhadzdzab. 
(2) Fathul Bari
(3) Tuhfatul Muhtaj Bissyahril Minhaj karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami 
(4)Syarah Al-Bahjah
(5) Nihayatuz Zain 
(6) Hasyiyah I'anatut tholibin 
(7) Hawasy Asy-Syarwani dan Mafahim Yajibu An Tushoha

Keistimewaan Bulan Sya'ban


Keistimewaan Bulan Sya'ban

Alhamdulillah, hari ini kita telah berada di bulan yang berada antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, yaitu bulan Sya'ban. Itu artinya tidak lama lagi umat muslim di dunia akan bertemu dengan bulan yang penuh ampunan dan keberkahan yaitu bulan Ramadhan. Namun untuk bisa sampai kepada bulan Ramadhan maka umat Islam harus terlebih dahulu melalui bulan Sya'ban.

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Nama dari Bulan Sya'ban itu berasal dari Bahasa Arab yaitu "Tasya'ub" yang artinya cabang. Dikatakan cabang karena memang di bulan Sya'ban banyak cabang-cabang amal ibadah yang dapat dilakukan oleh Umat Muslim untuk mengambil keutamaan dari Bulan Sya'ban. Nabi Muhammad mengatakan, "Keutamaan bulan Sya'ban dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya ibarat keutamaan diriku dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain".
Nabi Muhammad Saw mengatakan hal seperti ini tentu karena memang di dalam Bulan Sya'ban itu terdapat keutamaan yang harus kita raih dan jangan biarkan bulan Sya'ban itu berlalu begitu saja.

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Namun sayangnya, kehadiran Bulan Sya'ban ditengah-tengah umat muslim sering dilupakan, sebagaimana yang dikatakan sabda Rasulullah Saw
شعبان بين رجب و شهر رمضان، يغفل الناس عنه
"Bulan Sya'ban antara Bulan Rajab dan Bulan Ramadhan, banyak manusia yang melupakannya"

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Bulan Rajab itu diingat umat muslim karena di dalamnya ada peristiwa besar yaitu peristiwa Isra' Mi'raj Rasulullah Saw, begitu juga bulan Ramadhan selalu dinanti-nanti karena siapa yang sampai ke dalam bulan Ramadhan dapat merengkuh ampunan dan keberkahan yang ditawarkan di dalam bulan tersebut. Lalu mengapa Sya'ban banyak yang melupakan? Karena kebanyakan manusia beranggapan bahwa tidak ada keistimewaan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban. Manusia yang beranggapan seperti itu, maka dia salah besar, karena sesungguhnya di dalam Bulan Sya'ban itu terdapat keistimewaan-keistimewaan yang tidak diketahui oleh manusia. Adapun keistimewaan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban diantaranya ialah:

Pertama, turunnya perintah bersholawat

Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56

ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bersholawat kepada nabi, hai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu kepada nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt

Para ulama mengatakan bahwa ayat ini turun pada bulan Sya'ban. Di dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Allah dan para Malaikat saja bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, maka sudah seharusnya juga orang-orang yang beriman untuk senantiasa untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw pada hakikatnya akan mendatangkan kebaikan dan keuntungan bagi, terutama di akhirat kelak, yaitu bisa menjadi salah satu sebab memperoleh syafa'at dari Nabi Muhammad Saw.

Dengan turunnya ayat ini pada bulan Sya'ban, itu berarti mengindikasikan kepada kita bahwa sangatlah dianjurkan bagi kita untuk lebih memperbanyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Kedua, perintah puasa turun pada Bulan Sya'ban. 

Imam Nawawi di dalam Kitab Syarah Al Muhadzdzab mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw menjalankan ibadah puasa Ramadhan itu sebanyak sembilan kali selama hidup beliau dan di mulai pada tahun kedua hijriah, setelah perintah puasa itu turun pada bulan Sya'ban. 

Karena perintah puasa pada bulan Ramadhan itu turun pada bulan Sya'ban, maka ini menunjukkan keistimewaan Bulan Sya'ban dan seharusnya menjadi ajang bagi umat Islam untuk melatih diri dan menjalankan kebiasaan yang ada di bulan Ramadhan untuk dikerjakan di Bulan Sya'ban terutama ibadah puasa sehingga ketika bulan Ramadhan kita sudah tidak kewalahan dan maksimal menjalankan segala rutinitas ibadah yang terdapat di bulan Ramadhan. 

Ketiga, pada bulan Sya'ban beralihnya Kiblat Umat Islam dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah di Masjidil Haram

Peristiwa beralihnya kiblat Umat Muslim dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah yang berada Masjidil Haram telah difirmankan Allah di dalam Surat Al-Baqoroh ayat 144

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ فَلَـنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰٮهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam". 

Di dalam Kitab Al-Jami' li Ahkamil Qur'an karya Imam Qurtubi dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad Saw mengalihkan kiblatnya dari Masjidil Aqsho ke Ka'bah di Masjidil Haram itu terjadi pada malam Selasa di Bulan Sya'ban  Nisyfu Sya'ban tepatnya pada malam Nisyfu Sya'ban. 

Jama'ah Sholat Jum'at yang dirahmati oleh Allah Swt 

Itulah ketiga keistimewaan yang terdapat di dalam Bulan Sya'ban yang perlu kita ketahui, sehingga ketika bulan ini datang kita bisa cukup antusias untuk mengambil keistimewaan yang terdapat di dalamnya yaitu dengan meningkatkan amal ibadah kita, terutama kegiatan ibadah yang dapat menunjang kesuksesan kita dalam meraih keutamaan yang terdapat di bulan setelah bulan Sya'ban yaitu bulan Ramadhan. 

بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني واياكم بما فيه من لايت والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هوا الغفور الرحيم

Tingkatan Keimanan


Keimanan itu terdiri atas lima tingkatan, yaitu :

Pertama, Iman Taqlid yaitu yakin akan ucapan orang lain tanpa mengetahui akan dalil dari ucapan itu. Mereka hanya mengikut karena yakin atas apa yang telah disampaikan tanpa mengetahui dalilnya. Keimanan yang seperti ini dihukumi sah keimanannya, namun ia berdosa karena tidak mencari tahu akan dalilnya padahal ia mampu.

Kedua, iman 'ilmi yaitu orang yang mengetahui mengenai akidah-akidah beserta dengan dalil-dalilnya melalui pengetahuan dengan proses belajar atau menuntut ilmu. 

Keimanan untuk tingkatan pertama dan kedua merupakan tingkatan keimanan yang dihukumi sah, namun masih terhalang jauh dari dzat Allah, karena keimanan tingkatan pertama dan kedua masih belum stabil, masih hanya sekedar mengikut dan sebatas teori, belum sampai kepada hal yang mampu untuk merenungi dengan hatinya atas kekuasaan dan  kebesaran Allah Swt. Jiwa orang-orang yang berada pada keimanan tingkatan pertama dan kedua belum kuat, sehingga masih belum sanggup untuk melawan godaan syaitan dan hawa nafsunya serta masih mampu mengerjakan akan hal yang dilarang oleh Allah dalam keadaan yang sadar. 

Ketiga, iman 'iyaan atau' ainul yaqin yaitu orang yang telah mengenal Allah setelah merenungi pengetahuan yang telah diperoleh mengenai Allah dengan hatinya. Dia menyadari adanya Allah tidak lagi berdasarkan fikirannya, akan tetapi dia sadar Allah itu ada berdasarkan segala ciptaan Allah yang ada di alam semesta ini. Karena keimana ini juga maka ia selalu yakin dirinya diawasi oleh Allah, karena hatinya telah yakin Allah itu ada berdasarkan pengetahuan yang telah ia renungkan dihatinya. 

Keempat, iman haq atau haqqul yaqin yaitu orang yang telah mengenal Allah melalui mata hatinya. Apabila keimanan ini telah hadir dalam diri seseorang, maka apapun yang dia lihat maka dia akan merasa Allah itu ada. Dia hanya tahu bahwa Allah segala-galanya, kebahagiaan dan kesedihan di dunia tidak akan mempengaruhi dirinya, karena baginya yang penting hanyalah Allah dan kehidupan yang akan datang yaitu akhirat.

Kelima, iman hakikat yaitu puncak dari keimanan. Keimanan hakikat merupakan keimanan yang melibatkan seluruh jiwa dan raganya hanya karena Allah semata.

Tingkatan keimanan yang wajib dicapai oleh seseorang adalah keimanan tingkatan taqlid dan 'ilmi, sedangkan untuk tingkatan iman 'iyan, haq dan hakikat merupakan tingkatan keimanan yang dikhususkan Allah kepada para hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.
 
والله اعلم بالصواب
 
Rujukan :
Kitab Mirqatus Su'ud, Karangan Syaikh An-Nawawi Al-Banteni, hal 16-17. 

28 Rajab 1442 H / 12 Maret 2021 M

Semut Tanjungbalai dan Semut Jakarta



Perjalanan Isra' dan Mi'raj itu memang benar-benar sebuah peristiwa yang menyalahi kebiasaan dan peristiwa menunjukkan atas kekuasaan Allah, karena siapa pun tidak ada yang mampu menciptakan peristiwa ini kecuali hanya Allah Swt.

Perjalanan Isra' dan Mi'raj ini apabila dilogikakan maka seperti seekor semut yang tinggal di Tanjungbalai, kemudiaan seekor semut itu berjalan ke baju seseorang yang hendak pergi ke Kota Jakarta dengan menggunakan pesawat.

Semut yang berada di kantong baju seseorang tadi ikut melakukan perjalanan dari Kota Tanjungbalai menuju Bandara, kemudian dari Bandara menuju ke Kota Jakarta dengan menggunakan pesawat.

Setelah 45 menit mendaratlah pesawat di Bandara Kota Jakarta, kemudian semut pun keluar dari kantong baju seseorang tadi dan bertemu dengan semut-semut Jakarta, lalu mereka bercerita

Semut Jkt : Kamu bukan semut asli Jakarta kan?
Semut Tanbe : Iya, aku bukan semut Jakarta, aku semut Tanjungbalai.
Tadi aku diperjalankan seseorang dari Tanjungbalai pukul 10.00 dan tiba di Jakarta pukul 10.45.
Semut Jkt : Tanjungbalai - Jakarta itu jauh, mustahil kamu bisa menempuh waktu sesingkat itu, dasar kamu semut pendusta dan mungkin kamu juga sudah gila.

Semut Jakarta tetap tidak percaya atas cerita semut Tanjungbalai, karena semut Jakarta adalah orang udik yang tidak kenal pesawat, dia beranggapan semut itu berjalan, padahal nyatanya diperjalankan oleh seseorang dengan menggunakan pesawat terbang.

Begitulah kira-kira situasi ketika Rasulullah Saw melakukan Isra' dan Mi'raj, orang-orang kafir Quraisy dan orang-orang mukmin yang lemah imannya mendustakan peristiwa tersebut tanpa menyadari bahwa Nabi Muhammad Saw bukanlah berjalan sendiri, akan tetapi diperjalankan oleh Allah Swt.

Manusia yang hanya ciptaan Allah saja bisa menempuh perjalanan yang jauh menjadi singkat, apalagi Allah yang Maha Kuasa, kalau Allah sudah berkehendak, yang tidak mungkin bisa jadi mungkin.

والله اعلم بالصواب